Sekolah yang Diam-Diam Mencetak ‘Pekerja Patuh’

Mahasiswa Prodi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Diandra Mayla Valiza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika saya mendengar kata “pendidikan”, bayangannya selalu seragam: papan tulis, tumpukan buku, guru yang menerangkan, dan nilai rapor yang menentukan masa depan. Tapi semakin lama, saya sadar bahwa sekolah bukan cuma tempat belajar matematika atau sejarah. Ada “pelajaran lain” yang sering tidak kita sadari pelajaran yang tidak pernah tertulis dalam kurikulum.
Inilah yang disebut hidden curriculum, konsep yang dibahas Samuel Bowles dan Herbert Gintis dalam Schooling in Capitalist America (1976). Menurut mereka, sekolah tidak cuma mengajarkan pelajaran akademik, tetapi juga melatih murid untuk menjadi pekerja yang patuh, disiplin, dan siap mengikuti aturan dunia kerja kapitalis (Bowles et al., 1976). Dan kalau kita lihat dinamika sekolah Indonesia hari ini, teori itu terasa sangat dekat dengan realitas.
Sekolah: Ruang Latihan Kepatuhan?
Coba ingat pengalaman masa sekolah: bangun pagi, antre upacara, baris rapi, tidak boleh melawan guru, tidak boleh bertanya terlalu banyak, dan nilai yang bagus sering disamakan dengan murid yang “patuh”. Sebenarnya, pola ini mirip dengan dunia kerja modern: jam masuk, target, atasan, kedisiplinan, dan sistem penilaian kinerja. Inilah yang disebut Bowles & Gintis sebagai correspondence principlebahwa struktur sekolah dibuat supaya “selaras” dengan struktur dunia kerja (Bowles et al., 1976). Dengan kata lain, sekolah bukan hanya mengajar, tapi juga membentuk perilaku tertentu.
Contoh Nyata yang Terasa Dekat
Fenomena hidden curriculum ini makin terlihat ketika aturan-aturan formal sekolah lebih sering diprioritaskan dibanding proses pembelajaran yang kreatif. Dikutip dari RRI.co.id (27/08/2024), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menegaskan bahwa aturan seragam sekolah tetap mengacu pada Permendikbudristek No. 50 Tahun 2022, tanpa ada perubahan desain maupun kewajiban penggantian seragam secara nasional. Penegasan ini menunjukkan bahwa aspek kedisiplinan visual seperti kerapian dan keseragaman masih menjadi perhatian besar dalam sistem pendidikan kita. Dalam konteks hidden curriculum, penekanan pada keseragaman seragam ini bukan hanya soal pakaian, tetapi juga tentang bagaimana sekolah membentuk budaya kepatuhan yang konsisten di antara siswa.
Di saat dunia kerja semakin menuntut kreativitas, inovasi, dan kemampuan berpikir kritis, sekolah-sekolah kita masih menghabiskan energi yang besar untuk memastikan murid rapi, seragam, dan mengikuti aturan tanpa banyak bertanya. Ini membuat kritik Bowles & Gintis terasa semakin relevan: sekolah tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga pabrik kecil yang mengajarkan murid cara “tunduk dengan benar”.
Kisah Dua Murid: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Bayangkan dua siswa SMA dari latar belakang berbeda. Siswa yang bersekolah di institusi elite biasanya sudah terbiasa dengan kompetisi ketat, tugas berlapis, dan struktur pembelajaran yang sangat terorganisir. Mereka diajari untuk mengejar target, membangun portofolio, dan menyesuaikan diri dengan budaya performatif yang mirip dengan dunia korporasi modern. Di sisi lain, siswa dari sekolah negeri biasa lebih sering mengalami penekanan pada aturan-aturan kedisiplinan fisik seperti seragam, rambut, sepatu, atau sikap tubuh. Dalam banyak kasus, penghargaan yang mereka dapatkan sering lebih terkait dengan “kepatuhan” daripada kemampuan berpikir kritis.
Kedua kelompok murid ini berada di dalam sistem yang sama-sama mengajarkan kepatuhan. Namun, murid dari sekolah elite biasanya punya sumber daya, kesempatan, dan modal sosial yang jauh lebih besar untuk mengembangkan diri di luar struktur tersebut. Ini membuat mereka lebih siap memasuki posisi-posisi strategis. Sementara itu, murid dari latar belakang biasa lebih sering diarahkan untuk menjadi pelaksana yang baik tepat waktu, patuh, dan tidak banyak bertanya yang merupakan ciri utama pekerja di sistem kapitalis. Di sinilah reproduksi kelas yang dibicarakan Bowles & Gintis mulai tampak jelas.
Masalahnya Apa?
Masalah muncul ketika kepatuhan menjadi nilai utama yang dikejar sekolah. Ketika murid lebih sering dipuji karena menurut daripada karena bertanya, mereka perlahan kehilangan kemampuan untuk mengambil keputusan, berdebat, atau bertanggung jawab atas ide sendiri. Gambaran “murid baik adalah murid yang diam” lambat laun membentuk generasi yang ragu untuk menyampaikan pendapatnya. Di era yang penuh ketidakpastian seperti sekarang, justru kemampuan bertanya, mencoba, dan menganalisis situasi lah yang paling dibutuhkan.
Ketika sekolah lebih sibuk memastikan sepatu hitam, kaos kaki putih, dan rambut di atas alis, muncul kegelisahan: apakah kita benar-benar mendidik manusia yang siap menghadapi masa depan? Atau kita hanya mencetak generasi yang takut salah dan tidak berani mengambil risiko?
Haruskah Kita Menerima Sistem Ini?
Pendidikan tentu membutuhkan struktur dan aturan, tapi bukan berarti kepatuhan harus menjadi nilai yang menenggelamkan kreativitas. Kita membutuhkan sekolah yang memberi ruang bagi dialog, bukan hanya instruksi satu arah. Proses belajar harus dilihat sebagai perjalanan, bukan sekadar hasil akhir seperti nilai atau ranking. Guru pun perlu diposisikan bukan hanya sebagai pengawas yang memastikan semua murid tertib, tetapi sebagai fasilitator yang membuka ruang diskusi, pertanyaan, dan keberanian berpikir.
Jika pola pendidikan yang sangat hierarkis ini terus dibiarkan, kita akan terus mengulang siklus lama: murid patuh yang kemudian menjadi pekerja patuh, lalu membentuk masyarakat yang pasif dan enggan mempertanyakan ketidakadilan.
Akhir Kata: Kita Butuh Sekolah yang Membebaskan
Pada akhirnya, sekolah seharusnya menjadi ruang yang membentuk manusia yang merdeka bukan sekadar manusia yang patuh. Hidden curriculum mungkin tidak tertulis dalam kurikulum resmi, tetapi dampaknya nyata dalam cara murid melihat dunia dan dirinya sendiri. Jika kita ingin menciptakan generasi yang kritis, inovatif, dan berani mengambil langkah berbeda, kita harus berani mengubah cara kita memandang pendidikan.
Kadang, perubahan besar justru dimulai dari satu pertanyaan sederhana:
“Apakah semua aturan ini benar-benar membuat murid belajar, atau hanya membuat mereka patuh?”
