Mengapa Banyak Orang Lebih Percaya Influencer daripada Ahli?

Mahasiswa - Akuntansi - universitas Pamulang
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Dian Nastiti Ariani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Popularitas Menjadi Sumber Kepercayaan Baru
Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Jika dahulu seseorang harus membaca buku, mendengarkan penjelasan pakar, atau mengikuti media arus utama untuk memahami suatu persoalan, kini cukup membuka media sosial dan dalam hitungan detik berbagai informasi sudah tersedia. Di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang semakin sering terlihat: banyak orang lebih mempercayai influencer daripada ahli.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada satu bidang. Dalam urusan kesehatan, misalnya, tidak sedikit orang yang lebih mengikuti saran pola makan, penggunaan suplemen, atau pengobatan tertentu dari seorang kreator konten dibandingkan rekomendasi dokter. Di bidang keuangan, banyak orang mengambil keputusan investasi hanya karena mengikuti tokoh media sosial tanpa memahami risiko yang ada. Bahkan dalam isu pendidikan, politik, hingga lingkungan, pendapat influencer sering kali lebih cepat menyebar dan lebih mudah diterima daripada penjelasan akademisi atau peneliti.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan penting. Mengapa masyarakat yang hidup di era dengan akses informasi begitu luas justru lebih mudah mempercayai figur populer dibandingkan mereka yang memiliki kompetensi dan keahlian?
Salah satu penyebabnya adalah perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi. Media sosial dirancang agar informasi dapat diterima dengan cepat, singkat, dan menarik. Video berdurasi kurang dari satu menit, desain visual yang menarik, serta bahasa yang sederhana membuat informasi terasa lebih mudah dipahami. Sebaliknya, penjelasan para ahli sering kali menggunakan istilah ilmiah, data statistik, dan penjabaran yang lebih panjang. Bagi sebagian orang, informasi semacam itu dianggap rumit dan membosankan.
Selain itu, influencer mampu membangun hubungan emosional dengan pengikutnya. Mereka membagikan aktivitas sehari-hari, pengalaman pribadi, hingga cerita mengenai kehidupan mereka. Hubungan yang terjalin secara terus-menerus membuat pengikut merasa mengenal sosok tersebut secara pribadi, meskipun sebenarnya hubungan itu hanya terjadi melalui layar. Kedekatan emosional inilah yang kemudian melahirkan rasa percaya.
Dalam psikologi komunikasi, seseorang cenderung lebih mudah menerima pesan dari figur yang dianggap dekat dan memiliki kesamaan pengalaman. Ketika seorang influencer mengatakan, "Saya sudah mencoba produk ini dan hasilnya bagus," banyak pengikut yang merasa pengalaman tersebut cukup menjadi bukti. Padahal pengalaman pribadi tidak selalu dapat dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan yang berlaku bagi semua orang.
Di sisi lain, algoritma media sosial juga memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir masyarakat. Platform digital dirancang untuk menampilkan konten yang mampu menarik perhatian dan menghasilkan interaksi tinggi. Konten yang memancing emosi, kontroversi, atau rasa penasaran biasanya lebih mudah masuk ke beranda pengguna dibandingkan penjelasan ilmiah yang lebih tenang dan penuh kehati-hatian.
Akibatnya, masyarakat lebih sering melihat opini yang viral daripada informasi yang telah melalui proses penelitian. Lambat laun, popularitas dianggap sebagai bukti bahwa suatu informasi benar. Padahal, sesuatu yang banyak dibagikan belum tentu sesuai dengan fakta.
Fenomena ini semakin diperparah oleh rendahnya literasi digital. Sebagian masyarakat masih sulit membedakan antara opini, pengalaman pribadi, iklan terselubung, dan fakta ilmiah. Tidak sedikit pula yang hanya membaca judul atau menonton potongan video tanpa mencari sumber informasi yang lebih lengkap. Kebiasaan tersebut membuat informasi yang belum tentu benar dapat dengan mudah dipercaya dan disebarkan kembali.
Meski demikian, menyalahkan influencer sepenuhnya juga bukanlah langkah yang adil. Banyak influencer yang justru memanfaatkan popularitas mereka untuk mengedukasi masyarakat. Mereka mengundang narasumber yang kompeten, mencantumkan sumber informasi yang jelas, serta mengingatkan pengikut agar tidak menelan mentah-mentah setiap informasi yang diterima. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh besar di media sosial juga dapat digunakan untuk tujuan yang positif.
Permasalahan muncul ketika popularitas lebih dihargai daripada kompetensi. Seseorang dianggap benar bukan karena memiliki pengetahuan yang mendalam, melainkan karena memiliki jutaan pengikut dan tingkat interaksi yang tinggi. Jika pola pikir seperti ini terus berkembang, masyarakat berisiko mengambil keputusan penting berdasarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dampaknya bisa sangat luas, mulai dari kesalahan dalam menjaga kesehatan, kerugian finansial, hingga meningkatnya penyebaran hoaks yang memecah belah masyarakat.
Karena itu, meningkatkan literasi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan internet atau media sosial, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memverifikasi informasi, memahami konteks, serta menilai apakah sumber informasi tersebut benar-benar memiliki keahlian di bidang yang dibahas.
Di sisi lain, para ahli juga perlu beradaptasi dengan perubahan zaman. Pengetahuan yang benar tidak akan memberikan manfaat apabila hanya tersimpan dalam jurnal ilmiah yang sulit dipahami masyarakat. Akademisi, dokter, peneliti, ekonom, dan berbagai profesi lainnya perlu hadir di ruang digital dengan bahasa yang lebih sederhana tanpa mengurangi kualitas informasi yang disampaikan. Dengan demikian, masyarakat memiliki akses terhadap informasi yang akurat sekaligus mudah dipahami.
Pada akhirnya, influencer dan ahli sebenarnya tidak harus diposisikan sebagai dua pihak yang saling berlawanan. Kolaborasi antara keduanya justru dapat menghasilkan edukasi yang lebih efektif. Influencer memiliki kemampuan menjangkau audiens dalam jumlah besar, sedangkan para ahli memiliki pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Apabila keduanya bekerja sama, media sosial dapat menjadi ruang yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerdaskan masyarakat.
Fenomena lebih percayanya masyarakat kepada influencer daripada ahli menjadi cerminan perubahan cara manusia membangun kepercayaan di era digital. Namun, popularitas seharusnya tidak menggantikan kredibilitas. Jumlah pengikut bukanlah bukti keahlian, dan konten yang viral bukan berarti paling benar. Di tengah banjir informasi, kemampuan berpikir kritis merupakan bekal terpenting agar masyarakat mampu membedakan antara opini dan fakta, antara sensasi dan pengetahuan, serta antara popularitas dan kompetensi. Dengan begitu, media sosial dapat menjadi sarana yang memperluas wawasan, bukan justru mempersempit cara berpikir kita.
