Sekolah Favorit Tak Pernah Hilang, Apa yang Salah dengan Pemerataan Pendidikan?

Mahasiswa - Akuntansi - universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dian Nastiti Ariani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama kualitas sekolah belum benar-benar setara, masyarakat akan terus berlomba mencari sekolah yang dianggap terbaik.
Pemerataan pendidikan telah lama menjadi salah satu tujuan utama pembangunan nasional. Berbagai kebijakan terus dilakukan agar setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama memperoleh pendidikan berkualitas. Namun, hingga kini masih muncul satu pertanyaan yang terus menjadi perbincangan, mengapa sekolah favorit tetap menjadi incaran banyak orang tua dan siswa?
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan bukan hanya soal akses, melainkan juga kualitas. Masyarakat tentu ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Ketika terdapat perbedaan kualitas guru, fasilitas, prestasi akademik, maupun lingkungan belajar antar sekolah, maka wajar jika sebagian sekolah menjadi lebih diminati dibandingkan sekolah lainnya.
Pemerataan Belum Menyentuh Kualitas
Selama ini pembahasan mengenai pemerataan pendidikan sering berfokus pada distribusi peserta didik. Padahal, pemerataan yang sesungguhnya adalah memastikan setiap sekolah memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda.
Masih banyak sekolah yang memiliki keterbatasan laboratorium, perpustakaan, fasilitas teknologi, hingga jumlah tenaga pendidik yang memadai. Di sisi lain, ada sekolah yang justru memiliki fasilitas lengkap dan prestasi yang lebih baik. Perbedaan inilah yang membuat masyarakat tetap memandang adanya sekolah favorit.
Jika kondisi tersebut belum berubah, berbagai kebijakan penerimaan peserta didik hanya akan menjadi solusi sementara. Akar persoalan tetap berada pada ketimpangan mutu pendidikan.
Masyarakat Tidak Salah Memilih yang Terbaik
Sering kali muncul anggapan bahwa masyarakat terlalu berlebihan mengejar sekolah favorit. Padahal, keinginan orang tua agar anak memperoleh pendidikan terbaik merupakan hal yang wajar.
Keputusan memilih sekolah biasanya didasarkan pada kualitas pembelajaran, lingkungan yang kondusif, prestasi alumni, hingga peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selama masih ada perbedaan kualitas antarsekolah, pilihan tersebut akan terus terjadi.
Oleh karena itu, yang perlu dibenahi bukan hanya cara siswa diterima di sekolah, tetapi juga kualitas sekolah itu sendiri.
Pemerataan Harus Menjadi Prioritas
Pemerintah perlu terus mempercepat pemerataan kualitas pendidikan melalui peningkatan kompetensi guru, penyediaan fasilitas belajar yang memadai, pemerataan akses teknologi, serta penguatan manajemen sekolah.
Ketika setiap sekolah mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas, kepercayaan masyarakat terhadap seluruh sekolah akan tumbuh dengan sendirinya. Pada saat itulah istilah "sekolah favorit" perlahan akan kehilangan maknanya.
Pendidikan yang adil bukan berarti semua siswa belajar di sekolah yang sama, tetapi setiap sekolah mampu memberikan kualitas pembelajaran yang setara. Selama kesenjangan mutu masih terjadi, masyarakat akan terus mencari sekolah yang dianggap terbaik. Oleh karena itu, pemerataan pendidikan harus dimulai dari pemerataan kualitas, bukan sekadar pemerataan peserta didik. Ketika seluruh sekolah mampu memberikan pendidikan yang sama baiknya, barulah cita-cita pendidikan yang benar-benar setara dapat terwujud.
