Inisial yang Tertukar: I.L. Nommensen atau L.I. Nommensen?

Dosen IAKN Tarutung, Peneliti Toba Initiatives
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Dian Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Persoalan inisial nama Ludwig Ingwer Nommensen sering kali menjadi perdebatan kecil yang luput dari kajian sejarah, namun sangat terasa dalam memori kolektif masyarakat Batak hingga saat ini. Banyak orang Batak secara turun-temurun menyebutnya sebagai "I.L. Nommensen", sementara seluruh dokumen sejarah primer secara konsisten menuliskan "L.I. Nommensen". Penelusuran terhadap beberapa biografi Sang Ephorus pertama ini memberikan alasan-alasan yang tidak terbantahkan mengenai identitas aslinya yang berakar pada tradisi Eropa Utara.
Alasan pertama dan yang paling fundamental terletak pada urutan nama pemberian (given name) saat ia dilahirkan di tanah kelahirannya. Ludwig Ingwer Nommensen lahir pada 6 Februari 1834 di Noordstrand, sebuah pulau kecil di pantai barat Schleswig yang kala itu masih berada di bawah kekuasaan Denmark. Nama depannya adalah Ludwig, diikuti oleh nama tengah Ingwer, dan nama keluarga (marga) Nommensen (Hemmers, 1928). Dalam kaidah penulisan inisial Barat, huruf depan dari nama-nama tersebut diambil sesuai urutan kelahiran, sehingga menjadi L.I. Nommensen (Schreiner, 1927).
Keberadaan nama "Ingwer" sendiri merupakan warisan budaya Frisia yang sangat kental dalam latar belakang genealogis Nommensen. Ia berasal dari keturunan Frisia, sebuah suku bangsa di wilayah pesisir Jerman Utara yang dikenal memiliki karakter kuat dan religiusitas yang mendalam. Dalam biografi yang disusun oleh C. Th. Scharten, nama lengkapnya selalu dicantumkan sebagai Ludwig Ingwer Nommensen tanpa pernah tertukar posisinya (Scharten, 1919). Oleh karena itu, secara administratif, inisial "I.L." tidak memiliki dasar dalam identitas asli Nommensen.
Mengapa masyarakat Batak cenderung menyebutnya "I.L. Nommensen"? Kemungkinan besar hal ini berkaitan dengan dinamika pelafalan lisan atau kesalahan transkripsi awal dalam publikasi gereja di masa lampau yang kemudian mengakar kuat secara kognitif. Dalam budaya Batak, penekanan pada nama sering kali mengikuti ritme bicara yang lebih mengalir. "I.L." mungkin terasa lebih ritmis bagi lidah Batak dibandingkan "L.I.". Namun, jika kita merujuk pada monumen rasa terima kasih bangsa Batak di Tarutung, di sana dengan jelas terpahat nama: Dr. Ludwig Ingwer Nommensen (Rijkhoek, 1932).
Bila kita telisik dari sisi sosiolinguistik, "Ludwig" adalah nama panggilan utama atau roepnaam dalam tradisi Jerman. Ketika ia tiba di Barus pada 14 Mei 1862, ia mendaftarkan dirinya sebagai Ludwig Nommensen. Penggunaan inisial "I" di tengah merupakan penanda identitas keluarga dari pihak ibu atau tradisi penamaan Frisia (Scharten, 1919). Membalikkan inisial menjadi "I.L." secara teknis berarti mengubah nama depannya menjadi Ingwer, yang secara historis tidak pernah dilakukan oleh Nommensen sendiri dalam surat-surat resminya.
Bukti lain mengenai penyebutan inisial ini dapat kita temukan dalam laporan kematian resmi yang diterbitkan segera setelah beliau wafat. Dalam majalah De Rijnsche Zending edisi 1918, berita kematian tersebut dituliskan dengan sangat khidmat. Laporan tersebut secara resmi menggunakan nama L.I. Nommensen untuk mengumumkan berpulangnya tokoh besar ini kepada jemaat dan pendukung misi di Eropa (De Rijnsche Zending, 1918). Dokumen ini menjadi bukti bahwa hingga akhir hayatnya, identitas resmi yang diakui adalah L.I. Nommensen.
Detail mengenai detik-detik kematiannya di Sigumpar pada 23 Mei 1918 semakin memperkuat bukti ini. Dalam majalah De Rijnsche Zending edisi 1919, yang memuat refleksi satu tahun setelah kematiannya, disebutkan bagaimana ribuan orang Batak datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Dalam seluruh narasi obituari tersebut, tidak ada satu pun penyebutan yang menggunakan inisial "I.L.". Semua catatan formal mengacu pada sosok yang sama: Dr. L.I. Nommensen, Sang Ephorus (De Rijnsche Zending, 1919).
Keakuratan sejarah menuntut kita untuk selalu kembali pada sumber primer dari lembaga Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) di Barmen. Jika kita membuka buku-buku klasik seperti In de Worstelings om de Wereld, konsistensi penggunaan "L.I." adalah mutlak dan tidak bisa digantikan dengan yang lain (Schreiner, 1927). Penggunaan "I.L." di masa modern kemungkinan besar adalah hasil dari tradisi lisan yang terdistorsi oleh waktu, di mana masyarakat lebih mementingkan bunyi daripada ketepatan dokumentasi tekstual yang ditinggalkan oleh rekan-rekan sejawat beliau.
Detail historis yang dipaparkan Scharten di bukunya menyebutkan bahwa Nommensen sendiri sangat teliti dalam hal administrasi. Sebagai seorang pemimpin yang mengorganisir ribuan jemaat, ia sangat menghargai ketertiban penamaan. Dalam buku Lichtstralen op den akker der world, digambarkan bagaimana ia sering kali harus mengoreksi pencatatan sipil jemaatnya (Scharten, 1919). Sangat ironis jika pemimpin yang begitu teliti justru mengalami "distorsi nama" di tangan generasi yang ia layani, sementara arsip misi di Jerman tetap menjaganya dengan benar.
Penyebutan "I.L." juga sering dikaitkan dengan gelar "Ingwer Ludwig", namun dalam sejarah Jerman abad ke-19, nama pertama selalu menjadi nama baptis utama. Ludwig adalah nama yang menghubungkannya dengan tradisi Kristen Eropa daratan, sementara Ingwer adalah akar lokalitasnya (Hemmers, 1928). Maka, menempatkan "I" di depan "L" secara tidak langsung mengaburkan hierarki identitas religius dan sipil yang dianutnya sejak pembaptisan hingga hari kematiannya.
Jika kita menilik lebih jauh ke dalam masa mudanya, Nommensen adalah seorang anak sluiswachter (penjaga pintu air) yang tangguh. Kehidupan keras di Noordstrand membentuk karakternya yang teguh. Namanya, Ludwig Ingwer, adalah satu-satunya harta warisan yang ia bawa saat melamar ke sekolah misi di Barmen (Scharten, 1919). Di buku induk pendaftaran calon zendeling, tercatat dengan tinta yang kini telah menguning: Ludwig Ingwer Nommensen. Urutan ini tidak pernah berubah selama setengah abad pelayanannya di Sumatera.
Kesimpangsiuran ini juga dapat dijawab melalui analisis terhadap tanda tangan Nommensen dalam surat-surat pribadinya. Nommensen hampir selalu menandatangani dokumen penting dengan singkatan "L. Nommensen" atau lengkap "L.I. Nommensen". Jarang sekali ia hanya menggunakan satu inisial, apalagi membaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa "L" dan "I" adalah satu kesatuan identitas yang berurutan dan tidak dapat dipertukarkan (Schreiner, 1927).
Lebih dalam lagi, struktur nama "Ludwig" memiliki arti "pejuang terkenal", sementara "Ingwer" berkaitan dengan perlindungan. Bagi Nommensen, urutan ini mungkin memiliki makna personal tentang panggilannya sebagai pejuang iman yang mencari perlindungan hanya pada Tuhan. Ketika masyarakat membaliknya menjadi "I.L.", makna filosofis yang terkandung dalam urutan nama pemberian orang tuanya secara simbolis ikut tergeser dan kehilangan konteks asalnya.
Kita juga harus memperhatikan buku Ompoe Nommensen de Apostel der Bataks karya D. Rijkhoek. Meskipun judulnya menggunakan nama populer, isinya secara konsisten merujuk pada Dr. L.I. Nommensen ketika berbicara dalam kapasitas formal (Rijkhoek, 1932). Ini membuktikan bahwa di literatur yang diterbitkan di Hindia Belanda sekalipun—bahkan oleh penerbit Kristen di Magelang—inisial "L.I." tetap menjadi standar baku yang diakui secara luas.
Sejarah mencatat bahwa Nommensen pernah mengalami kecelakaan parah di masa kecil yang hampir melumpuhkan kakinya. Dalam momen kritis itu, ia berjanji akan menjadi utusan Tuhan jika disembuhkan (Scharten, 1919). Nama yang ia gunakan dalam kaul atau janji tersebut adalah Ludwig Ingwer. Ini bukan sekadar nama di atas kertas, melainkan nama yang terikat dengan perjanjian spiritualnya dengan Sang Pencipta yang membawanya jauh hingga ke Silindung.
Seiring meluasnya pengaruh Kristen di Tapanuli, nama Nommensen menjadi sangat legendaris sehingga muncul berbagai variasi penyebutan lisan. Namun, kita perlu merujuk pada catatan tahunan misi yang konsisten menyebut L.I. Nommensen. Misalnya, dalam laporan majalah De Rijnsche Zending tahun 1918, disebutkan bahwa kepergian L.I. Nommensen meninggalkan kekosongan besar bagi organisasi misi di Barmen (De Rijnsche Zending, 1918).
Penyebutan "I.L." juga sering ditemukan dalam terbitan-terbitan populer pasca-kemerdekaan. Hal ini mungkin dipicu oleh kurangnya akses masyarakat terhadap buku-buku primer berbahasa Belanda dan Jerman. Tanpa rujukan langsung pada karya Schreiner, Hemmers, atau majalah misi asli, masyarakat hanya mengandalkan ingatan kolektif yang rawan mengalami metatesis (pertukaran posisi huruf) dalam bahasa lisan yang dinamis.
Penting untuk diingat bahwa Nommensen adalah seorang Doktor Teologi kehormatan dari Universitas Bonn. Gelar akademik ini diberikan atas jasanya menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak. Dalam ijazah dan dokumen penganugerahan gelar tersebut, nama yang tertulis adalah Ludwig Ingwer Nommensen (Hemmers, 1928). Secara legal-formal dan akademik, urutan ini bersifat final, mengikat, dan diakui oleh institusi pendidikan tertinggi di Jerman.
Karya G.K. Simon, seorang kolega Nommensen, juga menceritakan interaksinya dengan L.I. Nommensen dalam konteks menghadapi tantangan dakwah di Tanah Batak (Simon, 1909). Para misionaris sejaman ini tidak pernah salah dalam menyebut nama pemimpin mereka. Akurasi ini menunjukkan bahwa dalam lingkaran internal misi RMG, tidak pernah ada keraguan sedikit pun mengenai urutan inisial "L" mendahului "I".
Perjalanan Nommensen dari Noordstrand ke lembah Silindung adalah perpindahan identitas yang besar. Namun, nama Ludwig Ingwer tetap menjadi jangkar keselamatannya (Scharten, 1919). Identitas ini ia bawa melewati badai di laut dan ancaman pembunuhan di Tapanuli. Menjaga urutan namanya berarti menghargai perjalanan panjang dan penderitaan sang pengembara Frisia tersebut.
Kekeliruan penyebutan nama oleh masyarakat Batak yang lazim menggunakan inisial "I.L." menuntut peninjauan kembali pada sumber-sumber autentik, di mana seluruh biografi awal tentang Nommensen dan juga laporan misi secara tegas membuktikan bahwa inisial yang benar adalah L.I. Nommensen. Menegakkan urutan ini bukan sekadar perkara teknis, melainkan upaya menjaga keselarasan sejarah antara kebiasaan tutur di Tanah Batak dengan dokumen sejarah resmi, mulai dari gelar akademik di Universitas Bonn hingga laporan kematian dalam majalah resmi RMG yang secara konsisten menggunakan nama Ludwig Ingwer. Kesetiaan pada urutan "L" sebelum "I" adalah bentuk tanggung jawab ilmiah dalam merawat akurasi dokumen primer, memastikan jati diri sosok yang wafat di Sigumpar ini tetap presisi sebagaimana tercatat dalam lembar-lembar catatan sejarah.
