Kisah Harmonika Menemani Nommensen Menjumpai Raja Batak

Dosen IAKN Tarutung, Peneliti Toba Initiatives
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Dian Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah masuknya agama Kristen di Tanah Batak oleh badan misi Jerman, RMG (Rheinische Missionsgesellschaft), biasanya selalu menceritakan tentang pembukaan stasi misi, pergumulan para tokoh terkenal, atau konflik dengan adat. Namun, jika kita melihat catatan harian para misionaris RMG, ada banyak cerita kecil yang sangat menarik dan jarang diketahui orang. Salah satunya adalah kisah tentang bagaimana alat musik Barat, khususnya harmonika, pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat. Alat musik kecil ini ternyata sempat dikira sebagai makhluk hidup atau "binatang yang menjerit" karena suara aneh yang dikeluarkannya.
Pada tahun 1860-an, para misionaris Eropa mulai masuk ke pedalaman Sumatra. Badan misi RMG mencatat tanggal 7 Oktober 1861 sebagai hari lahirnya misi ini, ketika para misionaris berkumpul untuk mengadakan konferensi pertama di Sipirok. Mereka membagi wilayah pelayanan menjadi beberapa pos (stasi), di antaranya Klammer menetap di Sipirok, Denninger di Waringin, dan Saudara Betz di Bungabandar. Sementara itu, wilayah Silindung yang saat itu masih merdeka direncanakan untuk ditempati oleh W. Heine dan L. I. Nommensen. Saat itu, berkomunikasi dengan masyarakat lokal sangatlah sulit karena masalah bahasa dan adanya rasa curiga yang besar. Oleh karena itu, para misionaris harus mencari cara kreatif agar masyarakat mau mendekat, salah satunya dengan menggunakan musik.
Bagi masyarakat Batak waktu itu, benda-benda buatan Eropa yang dibawa oleh para misionaris adalah hal yang sepenuhnya baru. Di sinilah harmonika mengambil peran yang sangat unik. Bukannya dianggap sebagai alat musik biasa, harmonika justru memicu rasa penasaran, kelucuan, sekaligus rasa takjub yang mendalam. Cerita tentang benda kecil ini memperlihatkan bagaimana interaksi pertama antara orang Eropa dan masyarakat Batak terjalin melalui cara yang tidak biasa.
Rasa Penasaran dan Pertemuan Pertama Dua Budaya
Ketika para misionaris pertama kali bergerak di wilayah Sipirok, mereka menyadari bahwa tugas mereka tidak akan mudah. Masyarakat saat itu masih memegang teguh kepercayaan asli mereka, yang berpusat pada penghormatan kepada roh leluhur (sumangot atau begu). Orang asing yang datang sering dicurigai sebagai perintis atau mata-matai pemerintah kolonial Belanda yang akan mengambil alih tanah mereka. Ditambah lagi, wilayah selatan seperti Sipirok sempat mengalami trauma akibat serangan dari kaum Padri beberapa tahun sebelumnya. Oleh karena itu, pintu komunikasi pertama harus dibuka dengan cara yang ramah.
Para misionaris sering memanfaatkan rasa ingin tahu masyarakat. Berdasarkan catatan harian Nommensen, saat berkunjung ke sebuah perkampungan (huta), mereka biasanya menumpang di tempat penginapan umum bagi orang asing yang disebut sopo—sebuah bangunan beratap dan berlantai tanpa dinding. Di sopo inilah masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua renta, datang berjongkok dan menatap para misionaris dengan rasa ingin tahu yang besar. Musik menjadi salah satu umpan terbaik untuk mencairkan kecurigaan tersebut.
Namun, cara masyarakat lokal memahami musik Barat sangat berbeda dengan orang Eropa. Orang Batak terbiasa mendengar alat musik mereka sendiri seperti gondang atau serunai. Ketika ada suara melengking yang sangat berbeda keluar dari sebuah kotak kecil yang ditiup dan ditarik oleh misionaris, mereka langsung menghubungkannya dengan keberadaan makhluk hidup misterius di dalamnya.
Ruang interaksi di sopo ini akhirnya menjadi tempat saling mengenal. Di satu sisi, para misionaris seperti Nommensen dan Heine senang karena berhasil mengumpulkan orang banyak tanpa menggunakan kekerasan. Di sisi lain, para kepala suku (raja) memperhatikan dengan saksama pendatang baru ini. Pertemuan awal ini membuktikan bahwa penyebaran agama saat itu dimulai dari pendekatan indrawi sehari-hari yang sederhana.
Kisah Unik Harmonika di Tangan Sang Raja
Di antara berbagai barang yang dibawa, harmonika menjadi alat yang paling praktis. Ukurannya yang kecil membuatnya mudah dibawa saat misionaris harus menempuh perjalanan berat, seperti saat Nommensen berjalan kaki menembus rawa, menyeberangi sungai, dan mendaki Pegunungan Si Gurunggurung yang sangat terjal dan berbahaya. Saat tiba di sebuah desa dalam kondisi lelah dengan kaki terluka akibat berjalan tanpa alas kaki (blootsvoets) di atas batu tajam, memainkan harmonika menjadi cara instan untuk menenangkan massa.
Nommensen menceritakan pengalamannya saat bermalam di sebuah sopo di Kampung Si Djukang. Setelah malam tiba dan tempat itu dipenuhi penduduk, ia sempat berbincang dengan seorang datu (dukun/ahli adat) untuk mencatat tiga puluh nama hari dalam sebulan. Setelah itu, Nommensen mengeluarkan harmonikanya dan mulai memainkan lagu-lagu rohani. Seketika itu juga, suasana menjadi sunyi senyap. Orang-orang di Kampung Si Djukang terdiam karena mereka belum pernah mendengar "binatang" seperti itu menjerit sebelumnya.
Istilah "binatang yang menjerit" ini lahir karena kepolosan masyarakat yang mengira ada makhluk hidup tersembunyi di dalam kotak tersebut. Kesalahpahaman yang lucu ini justru menguntungkan misionaris. Suasana kampung yang awalnya tegang langsung berubah menjadi penuh kekaguman. Respons serupa juga terjadi di tempat lain ketika Nommensen melanjutkan perjalanan melewati Kampung Tuka Dolok, wilayah Rambe, hingga tiba di Kampung Tembe dan Pangarutan.
Melihat keajaiban tersebut, Raja Si Djukang yang merasa penasaran ingin mencoba memainkan alat musik itu. Namun, karena tidak tahu cara memakainya, sang radja langsung menarik-narik instrumen itu dengan kasar hingga hampir rusak. Untuk menyelamatkan harmonikanya, Nommensen dengan cerdik menekan katup udara (luchtkleppen) secara diam-diam saat menyerahkannya kembali. Akibatnya, ketika sang radja meniup dan menariknya sekuat tenaga, tidak ada satu pun nada yang keluar.
Hal ini membuat sang raja dan seluruh penduduk semakin takjub. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sang raja mengembalikan harmonika tersebut karena mengira "binatang" di dalamnya hanya mau tunduk kepada sang misionaris. Melalui trik sederhana dan alat musik kecil ini, Nommensen berhasil menegakkan otoritas dan rasa hormat di mata para pemimpin adat setempat.
Musik sebagai Jalan Masuk dan Perubahan Kepercayaan
Lama-kelamaan, harmonika tidak lagi sekadar menjadi alat penarik massa di pasar (onan) atau balai desa. Ketika stasi misi mulai berkembang, alat musik ini digunakan untuk mendukung pelajaran menyanyi di sekolah. Di Sipirok, Misionaris Klammer mengambil alih sekolah dari pemerintah Belanda. Awalnya sekolah itu hanya didatangi 12 anak, tetapi berkat pendekatan yang ramah dan bantuan kepala kampung Sipirok, sekolah tersebut segera dipenuhi anak-anak. Klammer melatih anak-anak ini bernyanyi, dan suara nyanyian mereka menarik perhatian orang-orang tua untuk datang berkumpul di sopo.
Pengenalan lagu-lagu baru ini perlahan-lahan mulai menggeser dominasi ritus lama. Jika sebelumnya masyarakat mengadakan pesta besar untuk mendamaikan roh-roh atau begu karena takut gagal panen—seperti saat wabah tikus sawah melanda pada tahun 1863—kini anak-anak sekolah mulai terbiasa melipat tangan dan berdoa kepada Tuhan Yesus sebelum tidur. Pengaruh pengajaran dan musik ini bahkan membuat Klammer berhasil membaptis tiga anak lelaki pertama pada Hari Natal tahun 1864, di mana salah satunya yang berusia 12 tahun memilih nama Johannes. Peristiwa ini juga disaksikan dengan penuh sukacita oleh Thomas, seorang pemuda Dayak dari Kalimantan yang setia mengikuti gurunya melayani di Sumatra.
Peralihan ini juga dibantu oleh para asisten lokal. Nommensen dibantu oleh seorang pemuda bernama Punrau yang bertindak sebagai juru masak, serta seorang pemuda Mandailing bernama Djamalaja (mantan penderita kusta dari Prausorat) yang melayaninya tanpa upah sepeser pun. Ketika Nommensen mendirikan pos misi di wilayah Silindung—tepatnya di Kampung Saitnihuta (Onan Si Aahurie) setelah menumpang di sopo milik Raja Ompu Aonggol—kehadiran para pembantu lokal dan alunan musik membantu meredam ancaman dari radja-radja lain yang sempat berniat membakar rumah misinya atau memotong kakinya.
Melalui kegiatan bernyanyi bersama ini, kelompok orang Kristen Batak pertama mulai membangun kebersamaan yang kuat. Musik harmonika memberikan hiburan serta penguatan iman, terutama saat mereka harus menghadapi tantangan dari kelompok yang belum menerima kehadiran misi. Kisah sederhana tentang harmonika yang sempat dikira sebagai "binatang yang menjerit" ini menjadi bukti penting dalam sejarah misi awal RMG. Cerita ini menunjukkan bahwa perubahan besar di Tanah Batak tidak dimulai dengan paksaan, melainkan melalui pendekatan budaya yang halus dan menyentuh hati masyarakat melalui sebuah alat musik kecil.
Daftar Pustaka
Kom Over en Help Ons! Maret 1862, Januari 1863,,Juni 1863, Juli 1865.
