Konten dari Pengguna

“Mundur Manang Mambayar Denda 100 Juta?”: Makna "Manang" dalam Bahasa Batak Toba

Dian Purba

Dian Purba

Dosen IAKN Tarutung, Peneliti Toba Initiatives

·waktu baca 8 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dian Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meneriakkan yel-yel saat mengikuti Pelatihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta, Kamis (25/6/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meneriakkan yel-yel saat mengikuti Pelatihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta, Kamis (25/6/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Riwayat kata "manang" mengajarkan kita bahwa bahasa selalu beradaptasi dengan zamannya; dan hari ini, di negeri ini, ia sedang dipaksa merekam sebuah pilihan yang tidak menyisakan ruang bagi kemanusiaan.

Bahasa daerah selalu menyimpan kejutan yang hidup di balik setiap kosakatanya. Sering kali, sebuah kata yang kita anggap biasa justru menyimpan teka-teki mendalam yang terekam rapi dalam ingatan kolektif para penuturnya. Inilah yang melekat kuat pada kata "manang" dalam bahasa Batak Toba. Di telinga kita, kata kecil ini mungkin terdengar sederhana karena begitu akrab dalam percakapan sehari-hari. Namun, di balik kesederhanaan itu, para ahli bahasa justru menemukan keunikan struktur dan sejarah perubahan bunyi yang sangat menarik; sebuah bukti bahwa satu kata pendek pun mampu memikul banyak fungsi sekaligus.

Secara umum, kita dapat melihat bahwa kata "manang" setidaknya memiliki tiga kegunaan yang berbeda di dalam susunan kalimat. Peran pertama dan yang paling sering kita gunakan adalah sebagai kata hubung untuk menyatakan pilihan, yang berarti "atau". Menariknya, fungsi ini tidak hanya berlaku dalam kalimat pernyataan (deklaratif) untuk menimbang pilihan, tetapi juga memegang peran penting sebagai penentu dalam susunan kalimat tanya.

Saat meneliti penggunaannya dalam kalimat pernyataan biasa, Michael Yoshitaka Erlewine (2025), seorang ahli bahasa dari University of Helsinki, mencatat contoh seperti "Si Poltak manjaha manang modom" yang artinya "Poltak sedang membaca atau tidur". Contoh lain yang ia dapatkan langsung dari penutur asli adalah "Diinum si Poltak tes manang kopi" yang artinya "Poltak minum teh atau kopi". Kalimat seperti ini biasa diucapkan saat kita tahu Poltak meminum salah satunya, tetapi kita tidak tahu pasti atau sengaja tidak ingin memperjelas pilihan tersebut.

Cara kerja kata "manang" sebagai kata "atau" ini menjadi semakin menarik jika bertemu dengan kata penolakan (seperti kata "tidak") atau kata petunjuk keinginan. Erlewine memberikan contoh kalimat: "Si Uli naeng mangallang pinasa manang honas". Kalimat ini dapat memiliki dua arti: Uli ingin makan salah satu dari buah tersebut (mana saja boleh), atau Uli sebenarnya menginginkan buah yang spesifik tetapi si pembicara tidak tahu buah mana yang ia mau.

Tidak hanya menghubungkan satu kata saja, "manang" juga sangat luwes karena mampu menghubungkan bagian kalimat yang lebih panjang, bahkan dua kalimat utuh sekaligus. W. Keith Percival (1981) dalam buku tata bahasanya mencatat contoh kalimat tanya yang menggabungkan dua kalimat penuh: "Na gotap do manang na digotap do?" yang artinya "Apakah itu pecah sendiri atau dipecahkan (oleh seseorang)?". Di sini, "manang" berdiri di tengah-tengah dua kalimat yang sama-sama utuh.

Bahasa Batak Toba juga membolehkan kita menyelipkan kata "manang" ini jauh di dalam anak kalimat tanpa merusak aturan bahasanya. Erlewine membuktikannya lewat contoh kalimat: "Dituhor ho buku na disurat si Poltak manang si Uli?" yang artinya "Apakah kamu membeli buku yang ditulis oleh Poltak atau buku yang ditulis oleh Uli?".

Kegunaan kedua dari "manang" adalah sebagai penanda dalam kalimat tanya tidak langsung, mirip seperti kata "apakah" dalam bahasa Indonesia. Bedanya, dalam kalimat tanya langsung, kata "manang" tidak boleh diletakkan di awal kalimat. Namun, dalam kalimat tanya tidak langsung, kata "manang" ini wajib ada untuk pertanyaan yang jawabannya berupa "ya atau tidak".

Percival (1981) memperlihatkan perbedaan besar ini dengan membandingkan dua kalimat. Kalimat "Ndang huboto na udan" artinya "Aku tidak tahu bahwa hari sedang hujan" (pembicara sudah pasti tahu hari hujan). Namun, begitu kita menyisipkan kata "manang" seperti catatan Percival: "Ndang huboto manang na udan", artinya berubah menjadi "Aku tidak tahu apakah hari sedang hujan (atau tidak)".

Sementara itu, untuk jenis kalimat tanya tidak langsung yang sudah memiliki kata tanya (seperti kata "siapa" atau "apa"), penggunaan kata "manang" di depan kalimat sifatnya manasuka (boleh dipakai, boleh tidak). Erlewine menuliskan contoh kalimatnya: "Huboto manang ise na ro nantoari" yang artinya "Aku tahu siapa yang datang kemarin". Kalimat ini tetap sah dan artinya sama persis meskipun kata "manang"-nya dihilangkan.

Masuk ke kegunaan ketiga, "manang" berfungsi sebagai pembentuk kata ganti tak tentu saat digabung dengan kata tanya. Kata tanya dasar seperti aha (apa) atau ise (siapa) sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri jika ingin diartikan menjadi "apa saja" atau "siapa saja". Supaya artinya berubah seperti itu, kata tanya tersebut harus ditemani oleh kata "manang" di depannya.

Gabungan "manang + kata tanya" ini memiliki sifat yang sangat mirip dengan kata "any-" dalam bahasa Inggris, yang sering muncul dalam kalimat negatif atau kalimat pengandaian. Erlewine mencontohkan kalimat penolakan atau negatif: "Ndang hutuhor manang aha", yang artinya "Aku tidak membeli apa pun". Di sini, "manang aha" bertindak sebagai penguat kalimat negatif setelah kata ingkar ndang.

Selain dalam kalimat negatif, gabungan kata ini juga bisa bermakna "pilihan bebas" dalam kalimat perintah. Erlewine mencatat kalimat perintah sehari-hari seperti "Allang manang aha!" yang artinya "Makanlah apa saja!". Kalimat ini memberikan kebebasan penuh kepada orang yang diajak bicara untuk memilih makanan apa pun, berbeda artinya dengan perintah "Allang sude!" yang artinya "Makan semuanya!".

Dalam percakapan, frasa pilihan bebas ini sering kali diperkuat dengan menambahkan kata pe di belakangnya, seperti "manang aha pe" atau "manang ise pe". Peneliti zaman dulu, Johannes Warneck, dalam kamus buatannya tahun 1906 mencatat bahwa "manang aha" artinya sesuatu atau apa pun, sedangkan "manang aha pe" maknanya lebih luas yaitu "apa pun itu tanpa batasan". Warneck juga merekam bentuk "manang ise pe" yang berarti "siapa pun itu".

Kemampuan satu kata untuk memikul tiga kegunaan yang sangat berbeda ini menjadi sangat menarik jika kita melihat catatan sejarah masa lalu pada abad ke-19. Dalam buku tata bahasa legendaris karya Dr. H.N. van der Tuuk yang terbit tahun 1864-1867, kata "manang" ternyata sama sekali tidak pernah ditulis atau disebutkan.

Kata yang dicatat oleh Van der Tuuk pada zaman itu justru adalah kata "barang". Pada pertengahan tahun 1800-an, masyarakat Batak Toba menggunakan kata "barang" untuk mengartikan "atau", "apakah", maupun untuk membentuk kata ganti tak tentu. Van der Tuuk merekam fungsi kata "atau" lewat kalimat kuno: "halak na tubu anakna barang boruna" yang artinya "seseorang yang anak laki-lakinya atau anak perempuannya telah lahir".

Van der Tuuk juga mencatat penggunaan kata "barang" untuk kalimat tanya tidak langsung. Ia mencontohkan kalimat: "Sungkun na muse barang piga pinggan ninna" yang artinya "Tanya dia lagi berapa banyak piring yang dia katakan harus ada". Untuk kata ganti tak tentu, Van der Tuuk menuliskan kalimat pilihan bebas: "Barang si aha lomo roham baen gowar ni anakta i" yang artinya "Apa pun nama yang kau sukai, buatlah itu menjadi nama anak kita".

Lalu, bagaimana kata "barang" bisa berubah total menjadi "manang" dalam waktu beberapa generasi saja? J.H. Meerwaldt pada tahun 1904, mulai mencatat bahwa kata "manang" telah menggantikan posisi kata "barang" dalam bahasa Toba modern, sementara kata "barang" mengalami pergeseran fungsi. Ahli bahasa menyimpulkan perubahan ini terjadi lewat pergeseran bunyi yang bertahap: kata barang berubah dahulu menjadi marang atau malang karena pertukaran huruf 'b' dan 'm', lalu ujungnya menyesuaikan dengan bunyi 'ng' di akhir kata sampai mantap menjadi manang.

Erlewine menunjukkan bahwa frasa "manang" ini posisinya dapat dipindahkan ke bagian paling depan kalimat untuk memberikan efek penekanan. Perhatikan saja variasi kalimat yang ia catat: "Manang aha pe ndang diallang si Poltak". Susunan kalimat ini memiliki arti yang sama persis dengan versi biasa, yaitu "Poltak tidak memakan apa pun," tetapi memberikan penekanan yang lebih kuat di awal kalimat.

Keluwesan perpindahan posisi ini juga berlaku untuk fungsi pilihan bebas. Erlewine membandingkan kalimat aktif "Diallang si Poltak manang aha pe" dengan versi depan yang berbunyi "Manang aha pe diallang si Poltak". Keduanya sama-sama sah dan artinya tetap "Poltak memakan apa saja". Pola ini menunjukkan bahwa kedua fungsi kata tersebut memiliki sifat kembar yang kuat dalam aturan bahasa.

Namun, makna "manang" sebagai kata pilihan bebas ini ternyata sangat sensitif terhadap aspek waktu kalimatnya. Erlewine menjelaskan bahwa frasa "manang aha" umumnya tidak cocok dipakai dalam kalimat yang menyatakan kejadian masa lalu atau sudah selesai (yang biasanya ditandai dengan kata nunga). Kalimat seperti "Nunga huallang manang aha" dinilai kurang pas oleh penutur asli jika dimaksudkan untuk menyatakan "Aku tadi sudah memakan apa saja".

Keterbatasan pada kalimat masa lalu ini dapat diakali dengan cara menambahkan kata penjelasan di belakangnya. Erlewine mencontohkan jika kita menambahkan keterangan khusus, kalimat lampau tadi langsung menjadi masuk akal: "Nunga huallang manang aha na dilompa si Uli". Kalimat ini artinya "Aku sudah memakan apa saja yang dimasak oleh Uli".

***

Pada akhirnya, kelenturan kata "manang" sebagai penentu pilihan tidak lagi sekadar menjadi objek riset bahasa di atas meja akademis Erlewine atau Van der Tuuk. Di tengah karut-marutnya kondisi Indonesia saat ini—di mana batasan hukum sering kali kabur dan nyawa manusia terasa murah—kata "manang" menjelma menjadi pilihan yang mengerikan sekaligus absurd. Saya mendadak teringat dengan kisah kelam proses perekrutan manajer Koperasi Desa Merah Putih. Konon, para pekerja dihadapkan pada kontrak yang menjerat: jika mundur didenda seratus juta rupiah, namun jika bertahan mereka dipaksa mengikuti latihan fisik ala militer. Tragisnya, lima orang dilaporkan meregang nyawa akibat latihan tersebut.

Di titik inilah, kata kecil itu beralih rupa menjadi sebuah teror eksistensial. Para calon manajer yang meninggal dunia itu barangkali berbisik dalam ketidakpastian yang getir: “Mundur sian Koperasi Desa Merah Putih manang ikkon mambayar denda 100 juta?” (Mundur dari Koperasi Desa Merah Puith atau membayar denda 100 juta?)

Riwayat kata "manang" mengajarkan kita bahwa bahasa selalu beradaptasi dengan zamannya; dan hari ini, di negeri ini, ia sedang dipaksa merekam sebuah pilihan yang tidak menyisakan ruang bagi kemanusiaan.

Daftar Pustaka

Erlewine, M. Y. (2025). Batak Toba manang: Notes on its uses and form. Studies in Language, 49(2), 478–500. https://doi.org/10.1075/sl.24067.erl

Meerwaldt, J. H. (1904). Handleiding tot de beoefening der bataksche taal. Leiden: E.J. Brill.

Percival, W. Keith. (1981). A grammar of the urbanized Toba-Batak of Medan. Pacific Linguistics.

Van der Tuuk, H. N. (1864–1867). Tobasche Spraakkunst. Amsterdam: Frederik Muller.

Warneck, J. (1906). Tobabataksch - Deutsches Wörterbuch. Batavia: Landsdrukkerij.