Pajak Sambu Medan

Dosen IAKN Tarutung, Peneliti Toba Initiatives
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dian Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Medan is the queen city of the island of Sumatera,” tulis Dirk A. Buiskol. Lanjutnya, "Until about 48 years ago (dihitung dari tahun 1917) the site was wild, virgin jungle. Today there exists a charming city, brisk and bustling in its business quarters, surrounded by pretty suburbs, with a sanitary system equal to that of any English town." Belakangan hari Medan dikenal juga sebagai Paris van Sumatra.
Medan dirancang sedemikian rupa sebagai kota ini tidak kalah dengan kota-kota lain di Hindia Belanda. Salah satu fasilitas kota prioritas yang dibangun adalah pasar. Orang Medan menyebut "pasar" dengan "pajak". "Pasar" adalah "pajak", "pajak" adalah "pasar".
Pasar didirikan Belanda hampir bersamaan dengan pendirian fasilitas-fasilitas kota yang lain. Pasar pertama yang dibangun di Medan adalah Pajak Ikan. Pasar itu dibangun tahun 1886. Pasar yang dikhususkan menjual ikan dan daging ini didirikan setahun setelah stasiun kereta api di Esplanade, Lapangan Merdeka sekarang, dibangun. Setelah itu, hotel pertama di Medan, Grand Hotel Medan, berdiri tahun 1887. Sekarang bangunan hotel ini digunakan oleh Bank Mandiri. Tahun 1898 Hotel De Boer menambah kemewahan Medan saat itu. Sekarang hotel ini beralih nama menjadi Inna Dharma Deli Hotel. Setahun sebelum Hotel De Broer berdiri, Belanda mendirikan perusahaan listrik tahun 1897. Perusahaan air bersih, Ajer Bersih water company, didirikan tahun 1905.
Tahun 1905 Pajak Hongkong berdiri melengkapi Pajak Ikan. Tempat ini dikhususkan menjual sayur-sayuran. Sepuluh tahun kemudian, tahun 1915, Pajak Petisah berdiri. Tempat ini khusus menjual alat-alat dapur. Ketiga pajak ini sengaja dibuat terpisah sebagai pembeda suatu produk. Sepertinya orang Belanda tidak begitu suka menyatukan banyak hal di satu tempat. Pemisahan pajak ini, sepertinya, akan menggampangkan Belanda menarik retribusi dari pedagang. Selain itu, fungsi pengawasan akan semakin efektif menangkal tumbuhnya serikat-serikat pedagang yang hendak berlawan.
Selama penjajahan, Belanda pun membagi daerah Medan berdasarkan suku. Di sebelah barat Esplanade, dihuni oleh masyarakat Eropa. Sebelah selatan Esplanade di sekitar Kesawan adalah perkampungan Cina. Kampung Kling atau Kampung Madras berdiam komunitas India. Padang Bulan menjadi tempat masyarakat Pribumi bermukim.
Jarak antara Pajak Ikan, Pajak Hongkong, dan Pajak Petisah berjarak jauh satu sama lain. Saat seorang keluarga Belanda hendak melengkapi peralatan masaknya, dia mesti pergi ke Pajak Petisah. Sementara itu di waktu bersamaan ikan dan sayur sudah ludes di dapur. Dia mesti ke Pajak Hongkong lalu ke Pajak Ikan. Kita hanya bisa membayangkan betapa sibuknya mereka kala itu.
Tak jauh dari Pajak Ikan, Belanda juga menyediakan tempat khusus memacu kuda-kuda mereka. Dengan mempertimbangkan semua keuntungan dan kerugian pemisahan ketiga pajak itu, tahun 1931 diputuskan akan mempensiunkan tempat pacuan kuda itu. Di bekas pacuan kuda, daerah Sambu sekarang, itu didirikanlah pajak modern pertama di Medan: Medans Centrale Pasar.
Pembangunan pun mulai dilaksanakan pada 2 April 1931, namun sempat tersendat akibat krisis ekonomi yang terjadi pada tahun tersebut. Pembangunan baru diselesaikan pada 21 Desember 1932. Pusat Pasar dibuka pertama kalinya pada 1 Maret 1933. Kompleks pasar dibagi kepada empat gedung dan terdiri dari 183 unit kios. Enam puluh unit untuk Pribumi. Enam puluh unit untuk Cina. Enam puluh unit untuk Arab dan India. Dan tiga unit difungsikan sebagai kantor administrasi.
Populasi Medan tahun 1930 menurut Verslag Handelsvereeniging Medan menempatkan Pribumi di urutan terbanyak: 40.096 orang. Cina sebanyak 27.180 orang. Gabungan suku Arab, India dan suku-suku lain sebanyak 3.408 orang. Orang Eropa sendiri sebanyak 4.292 orang.
Tempat Medan Mal berdiri sekarang ini dulunya berdiri bangunan pasar yang sangat cantik. Bangunan itu dirancang beratap tinggi. Tidak butuh pendingin ruangan. Udara bebas keluar masuk sehingga di dalam terasa sejuk. Tahun 1971 dua dari empat bangunan pasar habis terbakar.
Berjalanlah jauh ke belakang dari samping Medan Mal. Dekat gerbang utama Pajak Sentral, berdiri bangunan setengah lingkaran bercat putih berlantai tiga. Dulu bangunan ini difungsikan sebagai kafe dan tempat makan siang. Sampai di dalam, kepala menggeleng-geleng berulang kali. Sungguh, gedung ini tampak lebih anggun saat Belanda masih menjajah kita. Sungguh, gedung ini benar-benar tak dirawat. PD Pasar yang menempati bangunan ini sekarang hanya menjadikannya kantor berdebu. Lebih tepat rasanya menyebut tempat ini sebagai gudang yang tak difungsikan pemiliknya beberapa tahun.
Menelusuri gedung itu kini, yang sekarang sudah bercat kuning, akan menyusahkan kita membayangkan betapa asyiknya dulu menyeruput kopi di sore hari sembari memandang ke bawah aktivitas orang-orang berbelanja. Belanda gemar membangun bangunan kokoh yang tahan berdiri berabad-abad. Sementara kita tak bersedia berkeringat merawatnya sebagai bangunan sejarah bernilai mahal.
Memanjang di belakang gedung itu, bangunan-bangunan berusia hampir seabad itu berdiri laksana atlet binaraga meregangkan semua otot tubuhnya. Perkasa. Tak tampak tanda-tanda bangunan itu akan melapuk. Jejeran kios itu kini difungsikan sebagai grosir pakaian dan sepatu.
Kita tak berani menyimpulkan Pajak Sentral sekarang lebih modern dari Medans Centrale Pasar di tahun 1930-an. Memang kini tiga bangunan utama sudah terhubung satu sama lain. Kita tak perlu takut diguyur hujan saat hendak beranjak dari Medan Mal ke grosir kain di gedung sebelahnya. Kalau kita sepakat ukuran kemodernan sebuah pasar diukur dari jumlah eskalator, baik, Pajak Sentral jauh lebih modern dari nenek moyangnya itu. Namun, kalau kita bermufakat bahwa kemodernan sebuah pajak diukur dari kebersihan dan penataan pajak itu sendiri, tentu Medan Centrale Pasar jauh lebih modern.
Berbelanja sambil menenteng keranjang di Pajak Sentral kini pastilah semakin nikmat sembari menapak tilas perjalanan panjang pasar modern pertama di Medan ini. Tentu tak kita temui lagi pemisahan pedagang berdasar etnik. Pasar di belakang Medan Mal menyuguhkan suasana berbelanja laiknya di pasar tradisional. Grosir kain dan sepatu merajai tempat ini. Tak ada banderol harga tertempel di barang dagangan. Bertransaksi jual beli sembari bercakap-cakap panjang seperti emak-emak di arisan boleh jadi akan menambah relasi, bahkan sahabat.
Bergeser ke gedung di belakangnya lagi, suasana pasar sangat riuh. Penjual cabai di ujung sana berteriak, "Sepuluh ribu sekilo. Mari, mari, mari." Teriakan itu bersahut-sahutan dengan jeritan penjual sayur. Di satu siku jalan, terdengar teriakan sangat menonjol, "Dipilih, dipilih. Dipegang boleh, diraba boleh. Baru dibuka, masih segar." Rupa-rupanya teriakan itu datang dari lapak penjual monja (pakaian bekas).
