Konten dari Pengguna

Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Kontekstual (Bagian I)

Dian Purba

Dian Purba

Dosen IAKN Tarutung, Peneliti Toba Initiatives

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dian Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pramoedya Ananta Toer. Foto: kumparan.com
zoom-in-whitePerbesar
Pramoedya Ananta Toer. Foto: kumparan.com

Sastrawan Indonesia paling gemilang dan paling menderita adalah Pramoedya Ananta Toer. Karyanya dipuja di hampir seluruh negeri di atas bumi namun dihujat di negerinya sendiri. Seperti nabi yang tidak pernah mendapat perlakuan istimewa di kampung halamannya sendiri, Pramoedya hingga akhir hayatnya diperlakukan penguasa seakan-akan dia seorang yang patut disingkirkan. Ironis. Bahkan ketika dunia mengakui ketangkasannya merangkai kata dengan beberapa kali dinobatkan sebagai calon peraih nobel, negeri tempat dia besar dan mengembuskan napas terakhirnya seolah-olah abai dengan semua itu. Ini terbukti dengan tidak pernah dicabutnya pelarangan penerbitan karya-karyanya hingga kini.

Kita boleh menggeleng kepala lantaran negara tetangga kita, Malaysia, menjadikan karya Pramoedya sebagai bacaan wajib murid-murid sekolah, sementara di kelas-kelas di sekolah-sekolah Indonesia hampir-hampir tidak pernah menelaah karyanya.

Kita punya kisah tentang zaman di mana seseorang akan dipenjarakan karena menyimpan dan membaca karya Pramoedya. Memang demikian adanya, di saat itu orang harus mencari tempat paling sepi dan kemudian bersembunyi di sana dan baru kemudian bisa membaca karya sastrawan terkenal ini. Isti Nugroho dan Bonar Tigor Naipospos mesti mendapat hukuman dengan tuduhan telah memiliki karya Pramoedya, membacanya, dan mendiskusikannya. Pembenaran untuk itu: buku-buku Pramoedya menyebarkan Marxisme dan Leninisme.

Apakah memang karya-karya Pramoedya mengandung unsur-unsur kedua paham itu? Pramoedya dekat dengan PKI, iya. Dia terdaftar sebagai anggota Lekra. Pramoedya mengaku dirinya seorang kiri, namun tidak serta-merta dia seorang komunis. Baginya kiri itu adalah orang-orang yang tidak berdaya. Dan tentu: kiri tidak sama dengan komunis.

Keterlibatan Pramoedya di Lekra sesungguhnya terjadi secara tidak disengaja. Tahun 1959 waktu Lekra mengadakan kongres di Solo, dia diundang. Kemudian dia didaulat memberi kata sambutan. Selepas memberi sambutan dia pulang ke hotel dan tidur. Di akhir kongres, Lekra mengangkatnya menjadi anggota pleno. Pramoedya terdaftar sebagai anggota bukan karena mendaftarkan diri. Di organisasi ini Pramoedya menjadi terbuka mata tentang masalah-masalah politik.

Inilah sesungguhnya penyebab utama tuduhan karyanya mengandung ajaran Marxisme-Leninisme. Pendapat ini mendapat sanggahan dari Koh Young Hun, pengajar Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea. Dia membantah tuduhan bahwa novel Bumi Manusia menyebarkan ajaran Marxisme-Leninisme. Tokoh utama novel itu, Minke dan Nyai Ontosoroh, kata tuduhan itu merupakan perwujudan dari teori pertentangan kelas, salah satu teori yang berasalah dari ajaran Karl Marx. Bagi Koh Young Hun Pramoedya menunjukkan dirinya di karyanya sebagai penentang ketidakadilan, bukan pertentang kelas. Pramoedya di novel itu ingin menggambarkan perjuangan pribumi semata-mata untuk kepentingan hak pribumi dan kebangkitan nasional.

Di titik inilah kita mesti menempatkan diri dalam menganalisis karya Pramoedya. Pramoedya adalah sastrawan yang bertanggung jawab, wajar mengungkapkan konflik-konflik yang timbul dalam perubahan zaman. Pramoedya adalah seorang penulis yang berpapasan dengan zaman. Akan gagal kegiatan menilai karya-karya Pramoedya, tulis Koh Young Hun, jika karya-karya itu tidak dilihat dalam konteks perubahan zaman, karena di situlah letaknya kepentingan, ketinggian, dan kedalaman kualitas karya-karyanya.

Perkenalan kita dengan karya-karya monumental Pramoedya tidaklah kita peroleh di bangku sekolah. Perlakuan rezim Orde Baru yang melarang bukunya beredar dan dibaca, bahkan membakar buku-bukunya berperan besar menciptakan kondisi itu. Sementara puluhan, bahkan ratusan, sarjana-sarjana di luar negeri menjadikan karya Pramoedya jadi bahan skripsi, sarjana-sarjana Indonesia masih sangat sedikit membuatnya jadi kajian skripsi. Tersedia segudang alasan untuk ini. Seperti yang sudah disinggung di atas, sejak awal kita tidak pernah diperkenalkan dengan Pramoedya Ananta Toer dan karyanya secara utuh.

Kita masih mewarisi pandangan pemerintah rezim Orde Baru yang menganggap karya Pramoedya sebagai karya seorang komunis sehingga mesti dihindari. Kita kemudian menjadi pelajar yang menghujat suatu karya tanpa terlebih dahulu membaca karya tersebut. Dampak lanjutannya karya sastrawan terkemuka Indonesia ini menjadi sesuatu yang tidak perlu dipelajari lantaran larangan itu sudah mewujud menjadi satu kebenaran.

Inilah yang diterima Pramoedya dari negara yang sangat dicintainya. Dan tentu saja kita tidak boleh meninggalkan terali besi dari kehidupannya. Masa mudanya hingga menjelang uzur dia menghabiskan waktunya di penjara. Belanda memenjarakannya dua setengah tahun pada masa revolusi. Kemudian tentara nasional mendekapnya setahun pada tahun 1961 karena bukunya Hoakiau di Indonesia. Dan Orde Baru tak membiarkannya menghirup kebebasan selama 14 tahun. Bagaikan Tan Malaka yang menulis buku petualangannya ke berbagai penjuru dunia, Dari Penjara ke Penjara, demikian pulalah Pramoedya melakoni hidup: dari penjara ke penjara.

Penjara yang membuat namanya melejit ke seluruh dunia adalah Pulau Buru. Hiruk-pikuk peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965 membuat Pramoedya beserta jutaan rakyat Indonesia lainnya mesti disingkirkan dari kehidupan masyarakat. Keanggotaan Pramoedya di Lekra, lembaga kesenian PKI, membuat dia dituduh seorang komunis. Tuduhan ini cukup untuk membuat semua apa yang dia punya dilenyapkan. Semua harta miliknya dirampas. Rumah yang ditinggalinya juga disita. Bahkan jas tebal dan seluruh perkakas rumah tangga dirampas. Dia mesti meninggalkan istrinya dan lima orang anaknya yang masih kecil.

Sebelum mereka dikirim ke Pulau Buru, mereka diinterogasi di Kodam. Di sana Pramoedya dan teman-temannya dipukuli. Dengan popor senjata, kuping kiri Pramoedya dipukul. Gendang telinganya rusak. Semenjak itu dia menjadi tuli. Orang harus berbicara keras kepadanya. “Untuk lebih aman,” tulis Linda Christanty, “biarkan saja dia yang bercerita. Suaranya lantang, lebih agar dia sendiri bisa mendengar ketimbang tamu-tamunya yang berpendengaran normal.” Di pulau ini mereka mesti menghidupi diri mereka sendiri, lebih tepatnya mereka kerja paksa di sana.

Karya-karya besar Pramoedya hampir semua ditulis di penjara. Dari Juli 1947 sampai akhir tahun 1949 semasa dalam tawanan Belanda di penjara Bukit Duri, Pramoedya menulis dua buku: Perburuan dan Keluarga Gerilya, di samping cerpen-cerpen. Sedangkan magnum opus-nya, tetralogi Pulau Buru—Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca—lahir di Pulau Buru. Apa yang membuat Pramoedya bisa begitu kreatif dalam kungkungan penjara?

Pramoedya memberikan jawaban panjang: “Persoalan yang dihadapi oleh orang yang berada dalam penjara itu sedikit sekali. Paling-paling menghadapi kekuasaan saja. Dan ketika menulis itu sebenarnya orang berhadapan dengan dirinya sendiri daripada berhadapan dengan anak dan bininya. Yang sering terjadi adalah dialog atau lebih tepatnya monolog dengan diri sendiri. Dan itu yang diperlukan dalam proses menulis. ...Untuk saya pribadi, berada di penjara bisa lebih produktif daripada di luar penjara. Di penjara saya bisa hidup dengan lebih sederhana.”

Lantas, bagaimana dengan orang yang bebas namun pikirannya terpenjara? Pramoedya membebaskan pikirannya di saat tubuhnya terpenjara. Bagi dia kebebasan itu harus merupakan produk dari sebuah pergulatan sendiri. Kalau kebebasan itu merupakan hadiah dari luar, hasilnya akan terlampau labil. Kita perlu membiasakan diri bahwa semua itu adalah produk dari usaha dan kerja sendiri, bukan pemberian. Kalau kebebasan itu tidak bersumber dari usaha sendiri, ketika ada guncangan kecil saja semuanya akan bubar.

Namun, puncak dari semua alasan Pramoedya selalu menggerakkan penanya adalah dia menulis sebagai tugas pribadi dan tugas nasional. Pramoedya orang bijak yang menjadi tuan atas dirinya sendiri yang dengan sadar dan berani menempatkan hidupnya dalam bahaya untuk perjuangan terhadap kedaulatan kemanusiaan.

Pramoedya mendapatkan inspirasi dari kehidupan. Ketika sesuatu menyinggungnya, dia akan marah, dan mendapat inspirasi untuk melawan. “Menulis bagi saya adalah perlawanan. Di semua buku saya, saya selalu mengajak untuk melawan. Saya dibesarkan untuk menjadi seorang pejuang.”

Kehidupan yang berlawan itu seolah-olah hanya tertuju kepada mereka yang lemah dan dilemahkan. Buku-buku sejarah kita tidak menuliskan orang-orang biasa, rakyat jelata sebagai pahlawan. Kita hanya mencatat nama-nama pejabat, raja-raja, pangeran sebagai pahlawan. Di titik inilah Pramoedya menempatkan diri: berpihak kepada yang lemah. Maka, tokoh-tokoh utama dalam novel-novel Pramoedya selalu orang biasa, rakyat jelata, dan bahkan mereka yang hanya dikategorikan “massa” dalam sejarah Indonesia. Pramoedya mencoba berbicara tentang sejarah dari sisi lain, melalui Gundik (Bumi Manusia), anak petani (Arus Balik), ataupun pelacur (Larasati), dan melalui seorang gundik (Gadis Pantai).

Dalam karya-karya Pramoedya sering muncul tokoh wanita yang kuat. Pramoedya mengaku itu timbul dari kecintaannya kepada nenek dan ibunya. Dari neneknya Pramoedya mendapatkan sosok wanita mandiri, pekerja keras, dan tidak menggantungkan diri pada orang lain. Dan wanita yang paling ideal baginya adalah ibunya. Kata Pramoedya: “Didikannya terhadap saya membuat saya semakin menghormatinya. Ibu saya mengatakan, “Jangan jadi pegawai negeri, jadilah majikan atas dirimu sendiri. Jangan makan keringat orang lain, makanlah keringatmu sendiri.”

Ketika ditanya apakah kecintaannya pada kedua wanita itu yang menginspirasi dia berkarya, dia mengatakan: “Sepertinya memang demikian.” Selama masa penahanannya di Pulau Buru dia menciptakan sosok Nyai Ontosoroh. Penciptaan tokoh ini terinspirasi sewaktu para penjaga battalion Pattimura membunuh sebelas tawanan sekaligus. Mereka begitu kejam. Kondisi mental para tawanan menurun hingga mencapai titik terburuk. Beberapa dari mereka menjadi gila, dan ada yang menggantung diri. Di saat itulah dia berpikir apa yang dapat dia perbuat. Saat itulah muncul sosok Nyai Ontosoroh untuk memberikan contoh kepada rekan sesama tawanan mengenai perjuangan seorang perempuan yang dapat membela dirinya dari kekuatan penjajah seorang diri. Dan ternyata berhasil, cerita tersebut diceritakan di mana-mana.

Pramoedya senantiasa menghadirkan orang-orang biasa dalam penokohannya lantas disandingkan dengan orang-orang yang status sosialnya lebih tinggi. Di roman Gadis Pantai, misalnya. Peran orang biasa itu diperankan oleh Gadis Pantai berhadap-hadapan dengan orang yang status sosialnya lebih tinggi itu Bendoro, sang priyayi. Sesungguhnya kita mesti memandang karya ini dari sisi penolakan Pramoedya terhadap budaya Jawa. Pramoedya dibesarkan dalam pengaruh budaya Jawa, namun dia menyebut dirinya bukan Jawa lagi. Dia merasa sebagai orang Indonesia, berpikir dalam bahasa Indonesia, bukan dalam bahasa Jawa. Ketika seorang mahasiswa Swedia datang mewawancarainya untuk menyusun disertasinya bertanya: “Apa yang masih tertinggal dari ke-Jawa-an Tuan?” Pramoedya menjawab: “Masih ada, yaitu gamelan.”