Konten dari Pengguna

Saat LI Nommensen Menemui “Pembunuh” Munson dan Lyman

Dian Purba

Dian Purba

Dosen IAKN Tarutung, Peneliti Toba Initiatives

·waktu baca 10 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dian Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ludwig Ingwer Nommensen, zendeling RMG di Tanah Batak. Foto: KILTV.
zoom-in-whitePerbesar
Ludwig Ingwer Nommensen, zendeling RMG di Tanah Batak. Foto: KILTV.

Nommensen terkejut, “Mereka memberi tahu saya bahwa Panggalamei (Sanggalamei), yang menjadi Raja Sisakkak ketika kedua misionaris Amerika itu dibunuh, ternyata masih hidup.”

Langkah awal Ludwig Ingwer Nommensen di dataran Silindung tidak dapat dilepaskan dari bayang-bayang peristiwa tragis yang merenggut nyawa dua utusan pertama asal Amerika, Samuel Munson dan Henry Lyman, pada tahun 1834. Dalam catatan dan surat-surat arsipnya, Nommensen menyadari bahwa untuk memahami masyarakat Batak, ia harus menelusuri kebenaran di balik peristiwa berdarah tersebut secara adil dan objektif. Di balik kedatangan Munson dan Lyman tersimpan kisah idealisme pribadi yang luhur, sementara di sisi lain, masyarakat Batak saat itu bertindak atas dasar ketahanan kedaulatan wilayah di tengah kecurigaan mendalam terhadap kekuatan asing.

***

Samuel Munson lahir di Maine pada tahun 1804 dan harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan kedua orang tuanya akibat wabah penyakit di masa kecilnya. Melalui kerja keras dan ketekunan dalam pendidikannya di Bowdoin College hingga Andover Seminary, ia memantapkan diri untuk mendedikasikan hidupnya bagi pelayanan di wilayah seberang. Begitu pula dengan Henry Lyman, yang lahir di Massachusetts pada tahun 1809 dan sempat melalui masa muda yang penuh gejolak sebelum akhirnya menemukan arah hidup baru dalam jalur pengabdian rohani. Keduanya berangkat ke Nusantara dengan niat membawa pembaruan, meski mereka harus menghadapi realitas sosial politik yang kompleks di tanah Batak.

Setibanya di kepulauan Nusantara, Munson dan Lyman aktif mempelajari bahasa lokal, membuka layanan kesehatan gratis, serta membagikan bahan bacaan bagi masyarakat luas di Batavia dan Sumatra. Namun, ketika mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan darat menuju dataran tinggi Silindung melalui Tapanuli, situasi di pedalaman tidak sedang ramah bagi orang asing. Masyarakat Batak kala itu hidup dalam tatanan mandiri yang sangat menjaga kedaulatan desanya, di mana kehadiran orang asing berpakaian serba putih sering kali disalahartikan sebagai pertanda awal ancaman politik atau gangguan terhadap tatanan adat yang berlaku.

Meskipun sempat diperingatkan oleh penguasa setempat bernama Raja Soeasa untuk menunda perjalanan akibat ketegangan dan situasi yang tidak menentu di Silindung, Munson dan Lyman tetap melangkah maju karena merasa datang dengan niat damai. Peristiwa naas di penghujung Juni 1834 terjadi ketika rombongan tersebut tiba di perbatasan wilayah adat dan memicu kesalahpahaman besar di tengah suasana yang sudah tegang. Di tengah kepanikan akibat kecurigaan yang memuncak, bentrokan tidak terhindarkan, yang memperlihatkan betapa benturan antara kebudayaan asing dan masyarakat lokal yang sedang trauma berujung pada tragedi kemanusiaan.

***

Puluhan tahun berselang, ketika Nommensen tiba di tanah Silindung, ia memilih untuk tidak menghakimi masyarakat Batak, melainkan berusaha memahami akar permasalahan dari peristiwa masa lalu tersebut secara bijaksana. Dalam catatan harian dan laporan misinya, Nommensen menggambarkan betapa tertutupnya warga ketika nama tempat kejadian perkara, Sisakkak atau Sihaksak, disinggung di hadapan orang luar. Sikap tertutup ini bukan sekadar bentuk kejam tanpa alasan, melainkan wujud perlindungan diri masyarakat yang masih menyimpan trauma mendalam atas berbagai intervensi luar.

Ketegangan di pedalaman Tapanuli pada masa lalu yang dihadapi Nommensen ternyata berakar kuat dari bayang-bayang trauma historis yang mendalam akibat ekspansi Kaum Padri dari daratan Minangkabau ke wilayah selatan tanah Batak. Dalam catatan sejarah mengenai penderitaan kolektif tersebut, Nommensen secara saksama merekam bagaimana ingatan akan kekejaman Perang Padri serta wabah penyakit yang menyertainya masih membekas kuat di benak penduduk lokal. Kekerasan berdarah yang dibawa oleh ekspansi militer dari selatan itu menghancurkan banyak kampung halaman dan menyisakan duka yang mendalam bagi struktur marga di pedalaman, hingga Nommensen mencatat dalam laporannya bagaimana bayang-bayang kelam masa lalu itu membentuk sikap defensif warga: "Ingatan akan malapetaka yang dibawa oleh pasukan Padri masih begitu segar dalam ingatan orang-orang di sini, di mana darah tumpah dan wabah penyakit datang melanda bertubi-tubi setelahnya, membuat mereka melihat setiap orang asing luar sebagai pembawa bencana yang mengancam keselamatan kampung. […] wabah demam melanda lembah tersebut, yang menyebabkan hampir semua anak-anak meninggal; disusul oleh penyakit cacar yang menyeret banyak orang ke liang kubur, sehingga Silindung benar-benar menjadi kecil (sedikit penduduknya)."

Trauma pasca-Padri tersebut tidak hanya berhenti pada kerusakan fisik dan korban jiwa, melainkan juga melahirkan kecemasan sosial yang berkepanjangan terhadap segala bentuk intervensi asing. Setiap kali rombongan luar atau utusan asing melintas mendekati teritori mereka, memori kolektif tentang kehancuran masa lalu langsung memicu refleks perlawanan untuk melindungi diri, sehingga Nommensen mencatat lebih lanjut mengenai dampak psikologis tersebut: "Mereka hidup di bawah bayang-bayang ketakutan bahwa malapetaka serupa akan terulang kembali, sehingga penolakan terhadap orang asing bukanlah semata-mata karena kebencian, melainkan jeritan ketahanan dari sebuah masyarakat yang pernah dihantam badai kekerasan dari luar." Tampaknya pemahaman inilah yang kemudian menjadi landasan bagi Nommensen untuk mendekati masyarakat Batak dengan cara yang jauh berbeda dari para pendahulunya.

Nommensen mencatat kesulitan luar biasa tersebut dalam catatan perjalanannya: "Selama waktu saya berada di sini, saya sering kali melakukan penyelidikan tentang Sisakkak, tetapi tidak bisa mengetahui di mana sebenarnya letak tempat itu. Begitu orang Batak mendengar nama itu, mereka langsung menjadi tertutup dan merahasiakannya, dan saya tidak bisa mendapatkan informasi apa pun bahkan dengan janji-janji yang paling besar sekalipun, sampai akhirnya melalui sepasang warga yang mulai akrab dengan saya, saya menemukan tempat tersebut." Betapa rapatnya rahasia itu dijaga karena ketakutan dan kehati-hatian kolektif yang masih membekas di tengah masyarakat.

Nommensen terkejut, “Mereka memberi tahu saya bahwa Panggalamei (Sanggalamei), yang menjadi Raja Sisakkak ketika kedua misionaris Amerika itu dibunuh, ternyata masih hidup.” Dengan pendekatan yang sabar, penuh penghargaan, dan perlahan membangun kepercayaan, Nommensen akhirnya berhasil menjalin kedekatan hingga diantarkan menuju lokasi tempat peristiwa itu pernah terjadi.

30 Juli 1865. Di sana, ia berjumpa langsung dengan Sanggalamei, tokoh lokal yang dulu terlibat dalam penyerangan tersebut dan kini hidup dalam bayang-bayang penyesalan serta kecemasan. Nommensen merekam perjumpaan yang sarat ketegangan psikologis itu dalam catatannya: "Saya masuk ke dalam melalui sebuah pintu kecil, dan saya langsung menuju ke pintu rumah yang sedang terbuka, lalu melihat ke dalam; saya segera mengenali si pembunuh tua itu, persis seperti yang digambarkan orang-orang kepada saya. Dia kini hanya memiliki mata kirinya, mata kanannya sudah memutih seluruhnya, dia seorang pria berusia sekitar 55–60 tahun."

Perjumpaan tatap muka antara misionaris Eropa dan mantan tokoh lokal itu memperlihatkan sisi kemanusiaan yang rapuh dari kedua belah pihak. Beban sejarah dan rasa bersalah yang dipendam selama puluhan tahun menghantui nurani Sanggalamei begitu melihat kehadiran Nommensen di hadapannya. Nommensen merekam detik-detik menegangkan tersebut dalam catatan hariannya: "Namun, dia duduk terpaku seperti tersambar petir, menatap saya dengan tajam, tidak menggerakkan satu pun anggota tubuhnya, dan juga tidak memberikan jawaban atas apa yang saya tanyakan kepadanya. Itu tampaknya menjadi momen yang mengerikan baginya, melihat seorang pria kulit putih duduk di hadapannya, yang menyapanya dengan ramah dalam bahasanya sendiri."

Suasana canggung dan tegang di dalam rumah panggung itu semakin terasa ketika aturan adat setempat berbenturan dengan situasi darurat perjumpaan tersebut. Nommensen mendokumentasikan sebuah detail kecil yang mencerminkan dinamika sosial saat itu: "Salah seorang pemuda saya mengikuti saya ke dalam rumah, dan melihat bahwa saya duduk di atas papan kayu—sesuatu yang bertentangan dengan adat istiadat negeri ini—dia menegur lelaki tua itu atas ketidakbasa-basiannya dan mengingatkan akan adatnya, yang mendesak lelaki tua itu akhirnya berdiri dan membentangkan selembar tikar di atas lantai." Hal ini memperlihatkan bagaimana norma adat tetap dijunjung tinggi di tengah situasi batin yang sedang terguncang.

Di bawah tekanan mental yang teramat berat akibat kehadiran tamu asing yang mengingatkannya pada peristiwa masa lalu, Sanggalamei mencoba mencari jalan keluar untuk menghindar. Nommensen menuturkan pelarian sang buronan dalam catatannya: "Dia akhirnya berkata bahwa dia akan pergi menjemput istrinya untuk memasak makanan. Begitu dia keluar dari pintu, dia melarikan diri ke dalam hutan, meninggalkan dua anak yang menangis; sia-sia saja saya mengutus orang-orang untuk mencarinya." Peristiwa pelarian ini meninggalkan Nommensen bermalam di rumah tersebut bersama anak-anak Sanggalamei yang ketakutan.

Keesokan paginya, ketika suasana desa perlahan terang, Nommensen memanfaatkan waktu untuk melakukan penyisiran fisik guna mencari barang-barang peninggalan yang berkaitan dengan peristiwa tragis tahun 1834. Dari hasil penelusurannya di tempat kejadian, ia berhasil menemukan barang bersejarah yang selama bertahun-tahun tersimpan di perkampungan itu. Nommensen mencatat penemuan tersebut: "Mengenai barang-barang milik kedua saudara yang terbunuh itu, saya tidak menemukan apa pun kecuali senapan dari salah satu dari mereka, yang bagaimanapun sudah tanpa pemantik, tetapi masih sangat mudah dikenali. Senapan yang kedua masih dalam kondisi baik; saya bahkan melihatnya hari ini."

Selain mengamankan barang bukti sejarah berupa senapan berkarat tersebut, Nommensen juga menemukan situasi kemanusiaan yang memprihatinkan di perkampungan itu. Ia mendapati seorang anak lelaki setempat yang tengah mengalami perlakuan tidak adil dengan dipasung di dalam balok kayu. Nommensen kemudian mengambil keputusan untuk menebus dan membebaskan anak tersebut, membawanya pulang ke Silindung serta meninggalkan pesan agar warga mengambil uang tebusannya. Tindakan nyata ini tidak hanya menyelamatkan seorang anak, tetapi juga membuka jalan bagi pemulihan kepercayaan antara dirinya dan masyarakat setempat.

Melalui penyelidikan mendalam di lokasi kejadian, Nommensen berhasil meluruskan berbagai mitos serta informasi keliru yang telanjur disebarkan oleh pihak luar mengenai detik-detik terakhir kematian Munson dan Lyman. Dalam laporan resminya, ia menuliskan koreksi sejarah yang sangat penting: "Kedua saudara itu tidak pergi dari desa ke desa seperti yang dikatakan Junghuhn, mereka juga tidak pernah ke Talar seperti yang dikatakan orang lain, melainkan mereka mengenakan topi jerami putih serta jas dan celana putih; mereka ditandu oleh penduduk asli dan membawa persediaan obat-obatan yang banyak. Mereka diserang dengan tembakan senapan di jalan oleh para penduduk Sihaksak."

Koreksi ini menegaskan bahwa Munson dan Lyman datang membawa persediaan obat-obatan dan berjalan dalam pengawalan, namun kesalahpahaman politik lokal serta trauma akibat ancaman luar memicu perlawanan fatal dari warga. Nommensen memahami bahwa kemarahan dan ketakutan penduduk desa pada masa itu berpangkal dari kekhawatiran eksistensial terhadap hilangnya kedaulatan wilayah, sebuah ketakutan yang semakin nyata setelah mereka mengalami guncangan akibat ekspansi Perang Padri. Trauma kolektif ini menciptakan refleks pertahanan diri yang ekstrem terhadap setiap orang asing yang melintasi teritori mereka.

Ironisnya, berbagai musibah, wabah penyakit, dan kekacauan politik yang melanda dataran Silindung pada tahun-tahun setelah peristiwa pembunuhan tersebut sering kali dihubungkan oleh masyarakat lokal sebagai bentuk malapetaka atau kutukan akibat darah orang tak bersalah yang tumpah. Nommensen melihat bahwa beban moral dan rasa bersalah ini harus disembuhkan bukan dengan pembalasan, melainkan melalui kehadiran yang membawa damai, pengampunan, serta karya nyata di tengah-tengah masyarakat. Pendekatan inilah yang secara perlahan meruntuhkan tembok permusuhan dan mengubah ketakutan menjadi keterbukaan.

Ketika Nommensen bersiap meninggalkan perkampungan tersebut pada akhir pekan, ia mendapati kenyataan bahwa Sanggalamei bahkan telah mengubah namanya guna menyembunyikan identitas diri dari masa lalunya yang kelam. Perjalanan kembali menuju pos pelayanan di Silindung memberikan kelegaan tersendiri bagi Nommensen, karena ia membuktikan bahwa ketakutan dan ancaman dapat dihadapi dengan keberanian yang dilandasi ketulusan hati. Setibanya di pos, ia disambut oleh rekan-rekan seiman yang dengan setia menjaga keamanan tempat tinggal mereka dari segala kemungkinan terburuk.

Pengalaman melakukan penyelidikan langsung ke Sisakkak memberikan pemahaman empiris yang mendalam bagi kelanjutan misi Nommensen di tanah Batak. Ia menyadari bahwa perintisan wilayah baru tidak dapat berjalan efektif melalui pemaksaan, melainkan menuntut adaptasi kultural, kesabaran, serta penghormatan terhadap otonomi masyarakat setempat.

Daftar Rujukan:

D. Rijkhoek, Munson en Lyman: De Bloedgetuigen (Uitgave van de Chr. Pers. Ver. Midden-Java, Kolportageboekhandel Magelang, 1934)

J. H. Hemmers. Schetsen uit het leven van Ludwig Ingwer Nommensen, den apostel der Batakkers (Uitgevers voor Nederland Bosch & Keuning, Baarn - Amsterdam/Druk Emmink Weltevreden, 1929)

Kom Over en Help Ons! Augustus 1865