Sejarah Lahirnya Rumah Sakit Zending di Rura Silindung

Dosen IAKN Tarutung, Peneliti Toba Initiatives
·waktu baca 23 menit
Tulisan dari Dian Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Ketika wabah kolera melanda, para dokter dari rumah sakit zending Tarutung mendatangi rumah penduduk dari pintu ke pintu untuk memberikan pengobatan langsung."
Kehadiran misi keagamaan di berbagai belahan dunia sering kali tidak hanya membawa misi spiritual, tetapi juga harus berhadapan langsung dengan kenyataan sosial dan kondisi fisik masyarakat setempat yang sangat rumit. Ketika para misionaris dari Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Batak, mereka tidak hanya disambut oleh tantangan alam dan budaya, tetapi juga oleh kondisi kesehatan masyarakat yang sangat memprihatinkan. Berbagai wabah penyakit menular telah lama menjadi ketakutan besar bagi penduduk lokal di kawasan Rura Silindung dan sekitarnya, sehingga menciptakan situasi yang membutuhkan penanganan segera di luar sekadar ceramah agama. Kondisi ini menempatkan para penginjil pada posisi yang unik, di mana mereka harus cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang masyarakatnya sedang menderita secara fisik akibat penyakit.
Salah satu penyakit yang paling penting dan banyak menyita perhatian serta tenaga para misionaris pada masa-masa awal pelayanan mereka adalah wabah cacar, yang oleh masyarakat Batak lokal dikenal dengan ngenge. Catatan mengenai penyebaran penyakit ini terekam dengan sangat baik dalam berbagai dokumen internal mereka, termasuk Majalah Immanuel, yang berfungsi sebagai media komunikasi resmi bagi RMG di Tanah Batak. Melalui laporan berkala yang diterbitkan, terlihat jelas bagaimana masalah kesehatan masyarakat berhubungan langsung dengan kepercayaan lokal serta ketegangan politik yang sedang berlangsung pada masa itu. Penyakit tidak lagi dilihat sekadar sebagai masalah tubuh semata, melainkan menjadi bagian penting dari cerita keagamaan, perlawanan budaya, dan pergeseran kekuasaan yang sedang terjadi di wilayah pedalaman Sumatra.
Perjumpaan Awal Zending dengan Wabah Penyakit
Pada masa-masa awal kedatangannya, para misionaris RMG langsung dihadapkan pada kenyataan pahit mengenai buruknya kebersihan lingkungan dan penyebaran penyakit menular yang sangat luas di kalangan penduduk lokal. Dalam majalah Immanuel edisi Januari-Desember 1890, seorang misionaris bernama J. H. Meerdwardt menulis sebuah ulasan yang ditujukan khusus kepada warga gereja mengenai awal mula mereka menghadapi wabah ngenge atau cacar. Dalam pandangan para misionaris pada waktu itu, kedatangan penyakit menular ini sering kali diartikan sebagai bentuk hukuman atau peringatan dari Tuhan.
Secara khusus, Meerdwardt menilai bahwa berjangkitnya wabah cacar tersebut merupakan cara Tuhan untuk menghentikan perlawanan bersenjata dari Sisingamangaraja yang saat itu menentang keras aktivitas para misionaris di wilayah tersebut. Berdasarkan catatan sejarah, Sisingamangaraja sengaja diundang oleh kelompok masyarakat Silindung yang belum menganut agama Kristen, yang oleh pihak zending disebut sebagai sipele begu atau penyembah setan. Kedatangan pasukan tersebut bertujuan untuk mengusir dan membunuh para misionaris yang mulai membangun pengaruh mereka di kawasan Silindung, sehingga memicu kegemparan yang luar biasa di seluruh wilayah.
Kabar mengenai rencana penyerangan tersebut tentu saja membuat orang-orang Batak yang telah memilih masuk Kristen menjadi sangat cemas. Mereka diliputi rasa takut yang besar karena mengira bahwa Sisingamangaraja tidak akan datang sendirian, melainkan akan membawa serta seluruh pasukan perangnya yang dikenal kuat untuk melancarkan aksi pembersihan. Menghadapi kepanikan massal tersebut, para misionaris mencoba menenangkan jemaat dengan meminta agar orang-orang Kristen tetap teguh dan sepenuhnya berserah pada perlindungan Tuhan dalam menghadapi ancaman tersebut.
Kenyataan yang terjadi berikutnya di lapangan kemudian digambarkan secara jelas dalam tulisan berbahasa Batak oleh Meerdwardt sebagai bukti nyata dari kuasa Tuhan yang mereka yakini: "Alai dung songoni godang ni parmaraan di angka na mangihuthon hata ni Debata, dipasangap Tuhan Jesus ma goarna maradophon angka na mangalo Ibana, dipatoltol ma tangganna dompak angka musuna i, djadi marragean ma nasida dibahen. Dia ma podangna nimmu? Ngenge do. Masa ma tutu ngenge di Silindung, dibahen Debata, djadi sundat ma tahi ni roha ni angka parbegu, ndang ro be si Singamangaradja djala ndang marolopolop angka musu ni hata ni Debata, ai andung na ma manggohi huta nasida, dibahen torop ni angka na mate."
Terjemahan dari catatan tersebut menjelaskan bahwa meskipun para pengikut Kristus harus mengalami banyak penderitaan, Tuhan Yesus akhirnya menunjukkan kuasa-Nya secara nyata kepada orang-orang yang melawan Dia. Tuhan kemudian digambarkan mengulurkan tangan-Nya untuk menghukum musuh-musuh-Nya, yang mengakibatkan para penentang tersebut jatuh dan meninggal di berbagai tempat. Senjata utama yang digunakan untuk melenyapkan kekuatan musuh tersebut bukanlah pedang biasa, melainkan penyakit cacar atau ngenge yang melanda wilayah tersebut secara tiba-tiba.
Akibat datangnya wabah cacar yang mematikan di Silindung ini, niat dan rencana awal dari kelompok sipele begu untuk melakukan penyerangan menjadi batal sepenuhnya. Sisingamangaraja pun pada akhirnya memutuskan untuk membatalkan rencana kedatangan pasukannya ke wilayah Silindung karena situasi yang tidak memungkinkan. Para musuh zending menjadi sama sekali tidak berdaya karena bahaya nyata yang mereka hadapi saat itu berubah menjadi ratap tangis yang memenuhi kampung akibat tingginya angka kematian yang disebabkan oleh cacar.
Hingga memasuki akhir tahun 1920-an, permasalahan kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat Batak ternyata tidak hanya berkutat pada penyebaran penyakit menular yang bersifat musiman. Para misionaris bersama dengan beberapa orang Eropa yang berkunjung ke daerah ini mulai menyadari bahwa kurangnya pengetahuan dasar tentang kebersihan tubuh memiliki andil yang sangat besar terhadap tingginya angka kematian. Salah seorang ahli dari Eropa, Prof. Dr. A. W. Nieuwenhuis, memberikan pandangan kritis dan pengamatan mendalam mengenai pola hidup dan pemahaman kesehatan masyarakat lokal.
Dalam tulisan mengenai masyarakat Batak, A. W. Nieuwenhuis menyebutkan bahwa suku ini tampaknya tidak mengerti apa-apa tentang susunan dan kesehatan tubuh mereka sendiri, atau aktivitas hidup mereka sendiri. Nieuwenhuis menilai bahwa tingkat pemahaman masyarakat lokal masih sangat rendah untuk dapat mengenali jenis dan sifat penyakit yang menyerang mereka. Secara tegas, Nieuwenhuis menyimpulkan bahwa pada masa itu orang Batak sama sekali belum memahami konsep dasar mengenai kesehatan modern.
Dampak langsung dari ketidaktahuan yang mendasar ini, menurut analisis Nieuwenhuis, adalah kegagalan total masyarakat Batak dalam mengenali gejala awal serta mengobati berbagai penyakit secara tepat sehingga mereka harus menanggung penderitaan fisik yang lama. Nieuwenhuis juga mengamati bahwa cara penyembuhan penyakit yang dijalankan oleh masyarakat Batak pada waktu itu masih sangat dipengaruhi oleh sisa-sisa ajaran agama Hindu yang sebenarnya sudah sangat lama tidak ditemukan lagi di daerah Batak. Pengaruh tersebut bercampur dengan sistem kepercayaan lokal yang mengakar kuat.
Dalam sistem kepercayaan tersebut, orang Batak percaya dengan teguh bahwa sumber utama dari segala penyakit berasal dari luar diri mereka, yakni akibat gangguan begu atau hantu. Selain faktor luar tersebut, seseorang juga dipercaya jatuh sakit karena tondi atau arwah pelindung dirinya telah meninggalkan tubuh jasmaninya. Oleh karena itu, metode pengobatan dan penyembuhan utama yang diandalkan oleh masyarakat adalah melakukan ritual khusus untuk memanggil kembali tondi tersebut agar bersedia masuk kembali ke dalam tubuh orang yang sakit.
Namun, pelaksanaan ritual untuk mengembalikan tondi ini tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di dalam lingkungan kampung, melainkan hanya bisa dipimpin oleh orang-orang tertentu yang dianggap memiliki kemampuan gaib. Tugas penyembuhan ini berada sepenuhnya di tangan datu atau dukun, yang bertindak sebagai perantara antara dunia nyata dan dunia roh. Posisi datu ini menjadikannya tokoh yang sangat dihormati sekaligus mengatur seluruh sendi kehidupan spiritual dan budaya masyarakat Batak sebelum masuknya pengaruh medis barat.
Kondisi Higienitas Pemukiman
Catatan mengenai detail kehidupan sehari-hari masyarakat Batak, khususnya yang menyangkut pola hidup dan kebersihan rumah, hampir tidak pernah ditemukan dalam tulisan lokal, melainkan tersimpan dalam tulisan para misionaris serta pengembara Eropa. Suatu hari, seorang dokter yang bekerja di rumah sakit Pearaja merasa penasaran dengan kenyataan sosial yang digambarkan oleh Nieuwenhuis dalam laporannya. Didorong oleh keinginan yang kuat untuk menemukan akar penyebab dari rendahnya tingkat kesehatan masyarakat, dokter tersebut memutuskan untuk datang langsung dan melihat sebuah kampung di Silindung.
Berdasarkan hasil pengamatannya di lapangan, pemukiman atau huta tersebut terdiri dari sekitar 60 rumah yang dibangun berjejer rapi dalam dua baris memanjang mengikuti alur jalan utama kampung. Lebar jalan di tengah pemukiman tersebut diperkirakan berukuran sekitar 10 meter. Kompleks huta ini dibangun dengan sistem pertahanan yang sangat kuat, di mana sekelilingnya dibentengi oleh dinding tanah yang tinggi dan pada bagian pinggir benteng luar ditanami dengan tanaman bambu yang rapat untuk menghalau musuh.
Akses jalan masuk ke dalam pemukiman tersebut dibuat sangat terbatas, di mana hanya tersedia satu jalan masuk utama yang berfungsi sebagai pintu gerbang kampung. Jalur tunggal inilah yang setiap hari dilalui bersama-sama oleh manusia yang beraktivitas maupun oleh hewan-hewan ternak yang digembalakan. Ketika malam hari tiba, pintu gerbang utama ini akan dikunci dengan rapat demi alasan keamanan seluruh penghuni kampung dari ancaman luar, baik serangan musuh maupun hewan buas.
Hampir seluruh bangunan tempat tinggal yang berdiri di dalam huta tersebut merupakan rumah tradisional Batak asli berbentuk panggung dengan atap yang menjulang tinggi. Keunikan sekaligus masalah kebersihan utama dari bentuk rumah ini terletak pada pemanfaatan ruang, di mana bagian kolong bawah rumah sengaja digunakan sebagai kandang ternak besar dan kecil. Hewan-hewan seperti sapi, kuda, babi, hingga kambing dipelihara bersama-sama langsung di bawah lantai tempat pemilik rumah tidur dan beraktivitas sehari-hari.
Bagian dalam rumah Batak asli pada masa itu memiliki ruang tamu yang luas tanpa dilengkapi dengan langit-langit atau plafon pembatas. Akibatnya, satu rumah besar sering kali harus ditempati oleh lebih dari satu keluarga secara bersama-sama, yang membuat rumah menjadi sangat padat. Masalah diperparah oleh ketiadaan cerobong asap di bagian atap, sementara pada dinding kayu bangunan hanya terdapat satu jendela berukuran sangat kecil yang digunakan untuk membuang sisa kotoran atau barang dari dalam rumah.
Kondisi pertukaran udara yang sangat buruk ini menyebabkan cahaya matahari dan aliran udara bersih ke dalam ruangan menjadi sangat terbatas. Asap tebal yang berasal dari tungku dapur di dalam rumah harus mencari jalannya sendiri untuk keluar secara perlahan melalui celah-celah kecil di atap dan dinding kayu. Pada saat yang sama, bau menyengat yang berasal dari kolong bawah rumah yang dijadikan kandang ternak terus-menerus masuk ke dalam ruang tinggal di atasnya.
Rumah tinggal tersebut hanya akan terbebas dari bau kotoran ternak pada waktu-waktu tertentu saja, yaitu ketika kandang dikosongkan saat semua hewan dibawa ke lahan pertanian. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa kondisi fisik rumah orang Batak pada masa itu selalu kotor dan lembap di bagian bawahnya sepanjang tahun. Situasi rumah yang tidak bersih ini menciptakan lingkungan yang sangat cocok bagi berkembangnya berbagai kuman pembawa penyakit di sekitar lingkungan keluarga.
Kondisi buruk ini akan berlipat ganda ketika musim hujan tiba, di mana situasi lingkungan di dalam kampung menjadi sangat kotor. Udara segar tidak dapat bertiup bebas memasuki area kampung karena terhalang oleh dinding pertahanan tanah dan rumpun bambu yang sangat tinggi di sekeliling pemukiman. Hewan-hewan peliharaan seperti anjing, babi, dan ternak lainnya dibiarkan berkeliaran secara bebas di sepanjang jalan utama kampung yang becek dan berlumpur.
Sementara itu, saluran pembuangan air hujan sama sekali tidak berjalan atau bahkan tidak pernah dibangun oleh masyarakat di dalam pemukiman tersebut. Dampak lingkungan yang terjadi adalah genangan air kotor terbentuk di mana-mana, yang memicu pertumbuhan dan perkembangbiakan nyamuk secara sangat cepat dan banyak. Kehadiran lalat dalam jumlah besar di sekitar timbunan kotoran turut mempercepat penyebaran berbagai penyakit pencernaan, yang menjelaskan mengapa urusan kesehatan orang Batak terus menjadi perhatian serius zending.
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Nieuwenhuis, tingkat kelahiran tahunan masyarakat Batak sebenarnya tergolong tinggi, yaitu mencapai angka 50 per 1000 penduduk. Namun, kenyataannya, angka kematian anak-anak di wilayah ini juga berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Diperkirakan sekitar setengah atau 50% dari jumlah bayi yang lahir tidak mampu bertahan hidup dalam jangka waktu lama, yang sebagian besar dipicu oleh kondisi kesehatan ibu yang mengidap penyakit menular sejak masa kehamilan.
Faktor penyebab lain yang tidak kalah penting terhadap tingginya angka kematian anak adalah buruknya sistem perawatan bayi serta pola asuh yang dinilai kurang memiliki kesadaran medis. Sejak usia dini atau sesaat setelah lahir, para orang tua di Batak sudah membiasakan memberi makanan padat berupa nasi kepada bayi mereka. Tidak hanya itu, mereka juga sedini mungkin menyuapi bayi dengan pisang raja dan makanan lunak lainnya sebelum organ pencernaan bayi siap menerima makanan tersebut.
Akibat dari cara pemberian makan yang keliru ini, masalah kurang gizi sering kali muncul pada anak-anak karena para ibu tidak mengutamakan pemberian air susu ibu (ASI). Kondisi kekurangan gizi ini juga melanda kelompok usia dewasa, di mana pola makan harian mereka dinilai masih jauh dari kata sehat. Keterbatasan sumber daya alam serta ketidaktahuan mengenai jenis makanan yang sehat memaksa orang Batak untuk menggantungkan kebutuhan makan mereka hanya pada jenis makanan nabati.
Meskipun mengandalkan sektor pertanian, hasil panen mereka sering kali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan makanan seluruh anggota keluarga sepanjang tahun. Makanan yang mengandung protein hewani, termasuk ikan, sangat jarang ditemukan dan dikonsumsi oleh masyarakat di sebagian besar wilayah pedalaman. Pasokan ikan segar umumnya harus didatangkan dari kawasan pantai dengan harga jual yang sangat tinggi, sehingga bahan makanan ini hanya dapat dibeli dan dikonsumsi oleh segelintir orang kaya saja.
Lembaga Medis, Kebijakan Pemerintah, dan Transformasi Budaya Sehat
Melihat rumitnya persoalan kesehatan di lapangan, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa para misionaris pada masa awal kehadiran mereka di Tanah Batak lebih sering bertindak sebagai tenaga medis daripada penginjil murni. Pengenalan sistem pengobatan modern yang mereka bawa secara taktis digunakan sebagai alat utama bagi zending untuk mendapatkan kepercayaan dan simpati dari penduduk lokal yang semula curiga. Namun, proses mengubah cara berpikir orang Batak tidak pernah berjalan mudah karena sering memicu penolakan dan benturan kebiasaan di lapangan.
Sebagian penduduk memang mulai mendatangi pos-pos zending untuk meminta obat-obatan modern, tetapi tidak sedikit pula kelompok masyarakat yang datang untuk memprotes cara perawatan medis barat. Mereka menuntut kesembuhan yang instan dan cepat, sedangkan waktu pengobatan medis ala zending dinilai terlalu lama dan berbelit-belit jika dibandingkan dengan jampi-jampi ritual. Ketidaksabaran ini sering kali mendorong pasien untuk kembali berpaling dan melakukan pengobatan alternatif kepada para datu di kampung mereka.
Ketegangan antara metode kedokteran dan hal mistis ini sempat diwarnai oleh kehebohan besar mengenai kabar kesembuhan ajaib di sebuah sungai yang terletak di antara wilayah Bakara dan Muara. Pada tanggal 26 Agustus 1931, dua orang Batak yang sempat mengalami kecelakaan parah sekitar tiga bulan sebelumnya mendatangi aliran sungai tersebut karena merasa putus asa. Kedua pasien tersebut sebenarnya telah menjalani perawatan intensif selama tiga bulan di rumah sakit zending yang berlokasi di Balige, namun luka-luka tubuh mereka belum juga sembuh.
Karena merasa tidak ada perubahan atau perbaikan pada luka mereka, keduanya memilih untuk keluar dari rumah sakit dan pulang ke kampung halaman, lalu mencoba mandi di sungai tersebut. Cerita ajaib mulai muncul di mana setelah mereka mandi, luka-luka di tubuh mereka diklaim langsung sembuh seketika dalam waktu singkat. Desas-desus mengenai kesembuhan gaib ini segera menyebar dengan sangat cepat ke seluruh pelosok negeri Batak, diperkuat oleh mitos bahwa Sisingamangaraja dan pasukan gajahnya dulu pernah mandi di sana dalam perjalanan menuju Samosir.
Akibatnya, ribuan orang Batak dari berbagai daerah langsung berbondong-bondong mendatangi kawasan sungai tersebut karena percaya adanya kekuatan penyembuh yang terkandung di dalam airnya. Banyak pasien yang dibawa ke lokasi tersebut dalam kondisi kritis dilaporkan berhasil pulang dalam keadaan bugar dan sembuh total. Fenomena ini memicu lonjakan aktivitas transportasi, di mana seluruh perahu motor di Danau Toba segera membuka rute khusus menuju ke Bakara untuk mengangkut gelombang massa.
Perahu motor dari Balige tercatat melayani rute perjalanan sebanyak dua kali sehari menuju Bakara, langkah serupa juga diikuti oleh armada perahu dari Parapat dan Samosir. Melalui jalur darat, ratusan truk dikerahkan untuk membawa rombongan orang sakit dari segala penjuru arah menuju lokasi pemandian tersebut. Sungai itu menjadi sangat padat dan tidak pernah sepi sepanjang siang dan malam, hingga panitia lokal terpaksa memberlakukan sistem antrean ketat berdasarkan jenis kelamin.
Setiap 15 menit sekali diberikan giliran bagi kelompok laki-laki untuk masuk ke dalam air, dan 15 menit berikutnya giliran kelompok perempuan yang diperbolehkan mandi. Berdasarkan laporan dari lapangan, terdapat sekitar 10.000 orang Batak yang mendirikan tenda dan berkemah di gubuk-gubuk darurat sepanjang tepi danau di sekitar sungai. Bahkan, sejumlah penderita kusta dikabarkan ikut sembuh, yang memicu kedatangan beberapa petugas medis resmi ke lokasi tersebut untuk melakukan penyelidikan secara ilmiah.
Secara aturan, Pemerintah Hindia Belanda sendiri pada mulanya hanya menyediakan pelayanan kesehatan untuk kepentingan tentara Belanda demi mempertahankan kekuasaan penjajahan mereka. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal H. W. Daendels yang berlangsung antara tahun 1808 hingga 1811, pemerintah membentuk sebuah lembaga kesehatan militer resmi bernama Militaire Geneeskundige Dienst (MGD). Bersamaan dengan itu, Daendels memerintahkan pembangunan tiga rumah sakit militer besar di kota-kota utama Pulau Jawa, yakni di Batavia, Semarang, dan Surabaya.
Masing-masing rumah sakit tersebut berada di bawah pimpinan seorang bintara, dengan total kekuatan militer Hindia Belanda saat itu mencapai angka 18.450 orang personel. Jumlah anggota militer yang sangat banyak ini harus dilayani dengan kapasitas tenaga medis yang sangat sedikit, sehingga urusan kesehatan masyarakat sipil menjadi tidak terurus. Pemerintah baru mulai membuka akses pelayanan kesehatan terbatas bagi masyarakat pribumi pada tahun 1809, yang kemudian disusul dengan pembentukan Burgerlijk Geneeskundige Dienst (BGD) pada tahun 1827.
Dokter yang ditugaskan untuk melayani kesehatan masyarakat sipil pada lembaga BGD tersebut pada dasarnya merupakan dokter tentara yang diperbantukan. Akibatnya, dunia kedokteran barat tidak dapat diterima begitu saja oleh penduduk pribumi karena sistem pelayanan kesehatan pemerintah dianggap membeda-bedakan pasien. Para pasien sering kali merasa kecewa dan mengeluhkan buruknya kualitas pelayanan serta hasil pengobatan medis yang mereka terima di fasilitas milik pemerintah.
Di sisi lain, pemerintah kolonial memiliki rencana politik untuk menghapus keberadaan praktik pengobatan tradisional yang posisinya tetap tidak tergantikan oleh sistem medis Eropa. Pemerintah menganggap sistem kesehatan tradisional tersebut tidak sesuai dengan standar kesehatan Eropa serta menilai bahwa metode dukun terlalu kuno dan berbahaya bagi keselamatan. Namun, penolakan masyarakat pribumi terhadap pengobatan Eropa bukan semata karena faktor budaya, melainkan didasarkan pada alasan-alasan yang sangat logis.
Alasan pertama adalah kendala jarak, di mana lokasi fasilitas pelayanan kesehatan yang disediakan oleh pemerintah hanya berpusat di kawasan perkotaan besar saja. Kondisi ini menyulitkan warga desa pedalaman untuk menjenangkaunya karena keterbatasan kendaraan untuk melakukan perjalanan jauh menuju pusat kota. Alasan kedua adalah faktor biaya, di mana biaya pengobatan medis barat dinilai sangat mahal, sehingga sistem tradisional menjadi pilihan utama karena biayanya jauh lebih murah dan dapat dibayar menggunakan hasil panen pertanian.
Dalam situasi kesulitan akses tersebut, lembaga-lembaga misionaris bergerak cepat dengan memberikan perhatian medis yang lebih ramah kepada kelompok masyarakat miskin di pedalaman. Lembaga kesehatan zending cenderung menerapkan metode pendekatan yang akrab, merangkul pasien dengan tarif berobat yang sangat murah, bahkan sering kali menggratiskan seluruh biaya perawatan. Rumah sakit misionaris ini awalnya difungsikan untuk melayani kesehatan ibu dan anak, sebelum akhirnya berkembang menerima pasien umum, sementara rumah sakit pemerintah lebih berfokus pada pengawasan penyakit menular.
Khusus di wilayah Batak, sebelum masuknya layanan medis dari RMG, urusan penyembuhan orang sakit berada di bawah kendali penuh datu atau dukun. Namun seiring berjalannya waktu, dominasi praktik pengobatan tersebut berhasil dikurangi secara nyata oleh aktivitas pengobatan dari para tenaga medis misionaris. Setiap kali para penginjil dan guru jemaat pribumi mengadakan kunjungan ke desa-desa, mereka selalu membekali diri dengan membawa persediaan obat-obatan modern.
Obat-obatan yang rutin dibawa antara lain adalah tablet kina yang sangat efektif untuk menyembuhkan penyakit malaria, berbagai jenis salep kulit, serta obat-obatan penting lainnya. Para penginjil lapangan ini telah dibekali dengan pengetahuan medis praktis mengenai penanganan berbagai jenis penyakit tropis di Asia serta cara higienis untuk menolong persalinan kaum ibu. Para tenaga pribumi seperti pendeta, pengkhotbah, dan guru zending juga memperoleh pelatihan dasar mengenai tata cara merawat orang sakit di kampung.
Bahkan, tidak sedikit dari para pendeta Batak yang mampu memanfaatkan bahan akar-akaran serta daun-daunan herbal lokal menjadi obat yang bisa menyembuhkan. Melalui perpaduan pelayanan penyembuhan fisik yang modern ini, masyarakat Batak mulai mengenal dan menggunakan sebuah pendekatan baru dalam menghadapi penyakit yang sangat berbeda dengan cara-cara datu. Antusiasme masyarakat terus mengalami peningkatan yang pesat setelah melihat bukti bahwa tingkat kesembuhan medis Eropa jauh lebih tinggi.
Merespons banyaknya permintaan tersebut, RMG mengambil langkah penting dengan memutuskan mendirikan fasilitas rumah sakit permanen sebagai bagian dari pengaturan pelayanan medis yang terpusat. Usulan pendirian ini pertama kali dibahas dalam sebuah pertemuan zending yang diselenggarakan di Pansurnapitu pada tahun 1899 di bawah pimpinan Direktur RMG, Dr. August Schreiber. Hasil keputusan pertemuan tersebut kemudian dikirimkan ke kantor pusat RMG di Jerman bersama dengan permintaan pengiriman tenaga dokter ke Tanah Batak.
Tepat pada tanggal 2 Juni 1900, RMG resmi mendirikan rumah sakit modern pertama di Tanah Batak yang berlokasi di Pearaja Tarutung dengan menempatkan dua orang dokter ahli. Kedua dokter perintis tersebut adalah Dr. Julius Schreiber dan Dr. Johannes Winkler, yang dalam operasional harian dibantu oleh sembilan orang perawat berkebangsaan Eropa. Fasilitas medis ini dibangun di atas lahan pargodungan Pearaja, yang merupakan tanah pemberian dari Raja Pontas Lumbantobing kepada sahabatnya, L. I. Nommensen, pada tahun 1870-an.
Mulai tahun 1906, manajemen rumah sakit mulai mempekerjakan tenaga kerja dari kalangan orang Batak untuk mengisi berbagai posisi pekerjaan. Struktur pekerja lokal saat itu terdiri dari satu orang apoteker, satu orang asisten, satu orang pembantu medis, satu orang praktisi perawat, satu orang penulis bagian administrasi, satu orang juru masak, dua orang perawat, dua orang pekerja umum, empat orang pencuci, dan delapan orang pembantu. Kehadiran tenaga kerja lokal ini mempercepat proses perpindahan pengetahuan medis ke masyarakat.
Kedua dokter perintis di Pearaja tersebut terus berusaha meningkatkan mutu pelayanan dengan menerapkan metode kedokteran modern yang didasarkan pada pemeriksaan penyakit secara ilmiah. Mereka tidak hanya menunggu pasien datang di rumah sakit, melainkan juga aktif turun langsung menemui penduduk di desa-desa terpencil untuk memberikan penyuluhan kesehatan. Langkah ini diambil karena menyadari bahwa para penduduk yang tinggal di luar wilayah Tarutung menghadapi kesulitan transportasi untuk menjangkau Pearaja.
Sebagai solusi atas kendala jarak tersebut, RMG secara bertahap mendirikan beberapa jaringan rumah sakit pembantu di daerah strategis seperti Humbang, Butar, dan Pangaribuan. Rumah sakit pembantu di kawasan Pangaribuan dan Butar resmi beroperasi pada tahun 1910, di mana masing-masing dipimpin oleh penginjil Meisel dan penginjil Wagner. Keberhasilan program ini terlihat nyata di mana pada tahun 1911 tercatat sebanyak 10.000 orang pasien telah mendapatkan perawatan medis di rumah sakit pembantu Pangaribuan.
Melihat hasil yang bagus tersebut, pada tahun 1911 zending kembali mendirikan fasilitas rumah sakit pembantu baru di wilayah Bonandolok, Doloksanggul, serta di kawasan Toba seperti Sitorang dan Balige. Perluasan layanan juga menjangkau Pulau Samosir dengan didirikannya pos medis di Nainggolan, Pangururan, dan Ambarita, sementara di bagian barat dibangun di Tukka dan Barus, serta di Angkola dan Sipirok. Seluruh jaringan fasilitas kesehatan pembantu yang tersebar di berbagai daerah tersebut secara aturan berstatus sebagai cabang dari rumah sakit induk di Pearaja.
Selain jaringan rumah sakit pembantu, zending juga membuka fasilitas poliklinik desa, seperti di Lembah Silindung yang memiliki tiga poliklinik utama di Hutabarat (1911), Pansurnapitu (1912), dan Simorangkir (1913). Jaringan poliklinik ini umumnya dipimpin oleh seorang suster misionaris Eropa dan rutin mendapatkan bantuan obat-obatan serta peralatan medis dari pemerintah kolonial.
Mari kita lihat data jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit misi berikut. Ketika wabah disentri menggila pada tahun 1909, rumah sakit Pearaja penuh dengan pasien. Tahun berikutnya jumlahnya bertambah drastis. Sebanyak 8180 pasien berobat ke rumah sakit. Sementara itu 52.928 pasien datang untuk mengkonsultasikan kesehatan mereka. Sebanyak 204 pasien dilakukan operasi. Setelah sepuluh tahun pertama keberadaannya, lebih dari 54.000 pasien telah diobati. Jumlah pasien yang berobat jalan jumlahnya jauh lebih tinggi, yakni lebih dari 289.000. Sebagian besar pasien berasal dari Silindung.
Lonjakan pasien tersebut membuat layanan kesehatan di Pearaja kewalahan. Pada tahun 1928, fasilitas rumah sakit induk Pearaja dipindahkan ke sebuah kompleks baru yang jauh lebih luas, yang saat ini berfungsi sebagai lokasi Rumah Sakit Umum Tarutung. Pada tahun yang sama, bersamaan dengan momen perayaan 100 Tahun RMG (1828-1928), zending mendirikan rumah sakit besar kedua di Balige.
Keberadaan gedung medis ini berdampak langsung pada lonjakan jumlah pasien. Tahun 1929, jumlah pasien yang berobat ke rumah sakit zending Tarutung lebih dari 40.000 pasien, sementara rumah sakit zending di Balige sebanyak 14.000 pasien. Hingga tahun ini, jumlah rumah sakit kecil, pembantu rumah sakit zending Tarutung dan rumah sakit zending Balige, dibangun sebanyak tujuh unit. Sementara jumlah klinik sebanyak 30 unit. Sementara itu, tahun 1931, jumlah pasien yang berobat di rumah sakit zending Tarutung dan rumah sakit zending Balige sebanyak 9700 orang dan 69.000 pasien rawat jalan. Sementara lebih dari 1000 operasai dan 600 persalinan terjadi.
Selama kolera melanda Tanah Batak, dokter-dokter dari rumah sakit zending Tarutung mendatangi rumah penduduk dari pintu ke pintu dan memberikan pengobatan. Tindakan ini “memenangkan hati” beberapa orang. Pada 1930-an terdapat penambahan jumlah orang Kristen sekitar lima ribu hingga sepuluh ribu setiap tahun. Pada 1932 tercatat jumlah orang Kristen sebanyak 300.000 orang. Tahun 1939, kedua rumah sakit zending memiliki 550 tempat tidur.
Statistik pada tahun 1931 menunjukkan bahwa jumlah pasien rawat inap di rumah sakit zending Tarutung dan ruma sakit zending Balige mencapai 9700 orang, dengan aktivitas rawat jalan melayani 69.000 pasien. Para tenaga medis zending juga sukses menyelenggarakan lebih dari 1000 tindakan operasi serta membantu proses melahirkan bagi 600 kaum ibu di Tanah Batak. Ketika wabah kolera melanda, para dokter dari rumah sakit zending Tarutung mendatangi rumah penduduk dari pintu ke pintu untuk memberikan pengobatan langsung.
Selain itu, para dokter di Tarutung mengatur kampanye vaksinasi skala besar untuk menghentikan epidemi seperti kolera, disentri, cacar, TBC dan kusta agar tidak berulang dan berhasil memastikan bahwa setiap pasien yang terkena penyakit diisolasi di rumah sakit tambahan baru dan klinik cabang di tempat lain. Mereka sendiri tidak luput dari penyakit malaria yang melanda seluruh daerah.
Tindakan kemanusiaan ini berhasil menyentuh hati masyarakat, yang berdampak pada bertambahnya jumlah penganut agama Kristen sekitar 5000 hingga 10.000 orang setiap tahunnya di era 1930-an. Pada tahun 1932, total jumlah orang Kristen di wilayah ini telah tercatat mencapai angka 300.000 orang. Hingga tahun 1939, kedua rumah sakit zending utama tersebut telah berkembang menjadi institusi medis yang besar dengan kapasitas total mencapai 550 tempat tidur pasien.
Keberhasilan para dokter di Tarutung dalam mengatur gerakan vaksinasi massal secara berkala berhasil menghentikan penularan wabah mematikan seperti kolera, disentri, cacar, TBC, dan kusta di wilayah pedalaman. Ketika Nommensen pertama kali tiba pada tahun 1861 dan melihat Tanah Batak dari ketinggian, wilayah ini memang dipenuhi oleh masalah kesehatan yang sangat menyedihkan, di mana tiga perempat atau 75% anak yang lahir meninggal sebelum mencapai usia 8 tahun. Lewat penyebaran klinik dan obat-obatan Barat, RMG perlahan-lahan mendesak dan menggantikan cara pengobatan tradisional di Rura Silindung. Sistem medis modern ini sengaja dipakai untuk mengubah cara pandang masyarakat Batak, sehingga mereka meninggalkan peran datu (dukun) dan beralih ke aturan kesehatan yang dibawa oleh pihak gereja.
Referensi:
Bataklanden (R.Z.G.) Rondom Ons Zendingsveld, Uitgave Van Het Zendingsbureau Te Oegstgeest. No. 9 Februari 1939.
Bataviaasch Nieuwsblad, 6 Augustus 1930.
De Medische Werkzaamheid Der Rtjnsche Zending De Rijnsche Zending Tijdschrift, 1912.
De Sumatra Post, 2 Juli 1938;
De Sumatra Post, 18 November 1938.
F. Ticker B. Litt, “The Health of the East India Company’s Crews in The Seventeenth Century”, Indonesia 8.
Het Vaderland, 15 September 1931.
Het Nieuws Van Den Dag, 26 April 1932.
H. F. Tillema. Zonder Tropen –geen Europa!. Utrecht: Bloemendaal, 1926.
Imas Emalia. Wabah Penyakit & Penanganannya di Cirebon 1906-1940. Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2020.
J. H, Meerwaldt & P. van Wijk Jr.. De Rijnsche Zending Tijdschrift. Amsterdam: Höveker & Wormser, 1906.
J. Warneck. Sechzig Jahre Batakmission in Sumatra. RMG Barmen, 1925.
Johannes Winkler. Im Dienst der Liebe: Das Missionshospital in Pearaja 1900-1928, Barmen im Jubileumsjahr 28.
Jubil Raplan Hutauruk. Lahir, Berakar dan Bertumbuh di dalam Kristus: Sejarah 150 Tahun Huria Kristen Batak Protestan (HKBPP, 7 Oktober 1862-7 Oktober 2011. Tarutung: Kantor Pusat HKBP, 2011.
Immanuel, ‘Surat huliling sigonop bulan tinongos ni J. H. Meerwardt’, Januari-December 1890.
Nieuwe Apeldoornsche Courant, 29 Augustus 1931.
Prof. Dr. A. W. Nieuwenhuis. De Zending En De Beschaving In Indië door (IX). Tropisch Nederland Veertiendaagsch Tijdschrift Ter Verbreiding Van Kennis Omtrent Nederlandsch Oost- En West-Indië, Xii E Jaargang, Afl. No. 9 – 25 Augustus 1930.
Prof. Dr. A. W. Nieuwenhuis. De Indische Volken In Het Hooge Gebergte En In De Lage Streken Door. Tropisch Nederland Veertiendaagsch Tijdschrift Ter Verbreiding Van Kennis Omtrent Nederlandsch Oost- En West-Indië, Xii E Jaargang, Afl. No. 21 – 5 Februari 1940.
Tropisch Nederland Veertiendaagsch Tijdschrift Ter Verbreiding Van Kennis Omtrent Nederlandsch Oost- En West-Indië, Xii E Jaargang, Afl. No. 21 – 5 Februari 1940.
Uli Kozok, “Sejarah Terjemahan di Tanah Batak” dalam Henri Chambert-Loir. Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009.
