Konten dari Pengguna

Van der Tuuk: Si Pembuat Onar yang Mencintai Bahasa Batak

Dian Purba

Dian Purba

Dosen IAKN Tarutung, Peneliti Toba Initiatives

·waktu baca 15 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dian Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Herman Neubronner van der Tuuk (1824-1894) di depan rumahnya di sebuah desa di sebelah selatan Singaraja (1880). Foto: KITLV
zoom-in-whitePerbesar
Herman Neubronner van der Tuuk (1824-1894) di depan rumahnya di sebuah desa di sebelah selatan Singaraja (1880). Foto: KITLV

Dunia ketimuran dalam lanskap kolonial abad ke-19 kerap kali dipandang lewat kacamata yang seragam: sebuah wilayah eksotis yang tunduk di bawah kuasa administrasi dan dogma keagamaan Barat. Namun, di tengah gelombang asimilasi dan tatapan superior tersebut, hadir sesosok figur eksentrik yang mendobrak batas-batas konvensional tersebut, Herman Neubronner van der Tuuk. Lahir dari rahim kosmopolitanisme Malaka, ia tumbuh menjadi seorang linguis lapangan sejati yang tidak sudi meringkuk di balik kehangatan menara gading universitas-universitas Eropa. Alih-alih tunduk pada otoritas gereja yang mendanainya atau patuh pada birokrasi kolonial yang kaku, Van der Tuuk memilih jalan sunyi yang radikal—meleburkan diri secara total dengan masyarakat pribumi, merayap ke pedalaman yang paling terisolasi, dan membiarkan dirinya dituntun oleh kejujuran empiris yang tanpa kompromi.

Langkah kakinya yang berani membawa Van der Tuuk mendarat di pesisir barat Sumatra pada pertengahan abad ke-19, sebuah wilayah yang kala itu masih diselimuti mitos kengerian kanibalisme di mata dunia Barat. Di barisan perbukitan dan lembah pedalaman Tanah Batak inilah, ia justru menemukan sebuah oasis literasi yang luar biasa kaya dan mandiri. Dengan metode kerja yang melampaui zamannya, Van der Tuuk menanggalkan sekat-sekat rasial; ia duduk bersama para datu, mendengarkan ratapan tradisi, serta membongkar rahasia aksara kuno yang terpahat di atas buluh bambu dan kulit kayu. Tugas suci menerjemahkan Alkitab yang diembannya segera menjelma menjadi obsesi ilmiah yang jauh lebih agung, yakni melakukan purifikasi dan penyelamatan terhadap keaslian bahasa-bahasa Nusantara dari kepunahan akibat penetrasi budaya luar.

Ketajaman intuisi linguistiknya tidak hanya melahirkan deretan kamus monumental dan rumusan tata bahasa Batak yang presisi, melainkan juga memicu guncangan hebat di panggung akademik Eropa. Melalui debat-debat ilmiah yang pedas dan penuh sarkasme, ia menelanjangi kepalsuan teori para pakar bahasa yang merumuskan dunia Timur hanya dari lembaran kertas sekunder di Belanda. Bagi Van der Tuuk, bahasa adalah organisme hidup yang bernyawa, yang hanya bisa dipahami dengan cara meraba langsung denyut nadinya di lapangan. Warisan emas yang ditinggalkannya—mulai dari hukum perubahan bunyi Austronesia hingga pembakuan aksara Nusantara—bukan sekadar catatan filologi yang beku, melainkan sebuah monumen penghormatan tertinggi bagi martabat dan jati diri kebudayaan pribumi yang tak lekang oleh waktu.

Jalan Menuju Tanah Batak

Herman Neubronner van der Tuuk dilahirkan pada tanggal 23 Februari 1824 di Malaka, sebuah wilayah koloni yang pada waktu itu masih berada di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Ia merupakan anak sulung dari pasangan Sefridus van der Tuuk, seorang penegak hukum asal Friesland di Belanda utara, dan Louise Neubronner, seorang wanita keturunan Indo-Eropa yang lahir di Malaka. Nama tengah "Neubronner" diambil dari nama keluarga ibunya, sedangkan nama depan "Herman" diperoleh dari kakek dari pihak ayahnya. Setahun setelah kelahirannya, tepatnya pada April 1825, Malaka ditukarkan oleh pemerintah Hindia-Belanda dengan koloni Inggris di Bengkulu sebagai dampak dari Perjanjian London 1824. Akibat perpindahan kekuasaan tersebut, keluarga Van der Tuuk bermigrasi ke Surabaya, tempat sang ayah kemudian meniti karier sebagai anggota hingga menjadi Presiden Raad van Justitie (Kejaksaan Agung).

Di Surabaya inilah Herman Neubronner van der Tuuk menghabiskan masa kecilnya dalam lingkungan masyarakat yang sangat kosmopolit. Ia tumbuh di tengah-tengah interaksi bahasa yang sangat kaya, meliputi bahasa Belanda, Melayu, Jawa, dan Madura. Meskipun ia menempuh pendidikan formal di Europese Lagere School (Sekolah Dasar Eropa), interaksi sehari-hari dengan pelayan, masyarakat sekitar, dan teman sepermainan membuatnya akrab dengan bahasa Jawa dan pasar Melayu sejak usia dini. Selain itu, ia diduga mempelajari dasar-dasar bahasa Portugis dari ibunya, mengingat komunitas Indo-Eropa di Malaka pada masa itu lazim berkomunikasi menggunakan bahasa Portugis Kreol. Fondasi linguistik multisistem inilah yang di kemudian hari membentuk ketajaman intuitif Van der Tuuk sebagai seorang ahli bahasa lapangan yang sangat disegani di Nusantara.

Pada tahun 1836, saat usianya menginjak sekitar dua belas tahun, Van der Tuuk dikirim oleh orang tuanya ke Belanda untuk mendapatkan pendidikan lanjutan yang lebih mapan. Setibanya di negerinya leluhurnya, ia mula-mula tinggal bersama pamannya yang berprofesi sebagai pendeta, G. van der Tuuk, di Berlikum. Setahun kemudian, pada 1837, ia dipindahkan ke sebuah sekolah berasrama di gymnasium Veendam dan tinggal di sana sebagai anak indekos. Kehidupan remaja yang jauh dari orang tua dan berpindah-pindah tempat kos ini diduga menjadi salah satu faktor yang membentuk kepribadiannya yang mandiri, eksentrik, kurang disiplin, dan cenderung memberontak terhadap otoritas di masa depan.

Menginjak usia enam belas tahun, tepatnya pada tanggal 6 Juli 1840, Van der Tuuk resmi terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Groningen. Di kampus tersebut, ia mengambil kuliah di Fakultas Sastra dan Hukum, serta sempat menempuh ujian sarjana muda hukum pada 30 Juni 1843. Namun, ketertarikannya pada ilmu hukum segera luntur; ia hampir tidak pernah lagi mengikuti kuliah hukum dan justru menenggelamkan diri dalam studi bahasa-bahasa Timur, Semit, dan Eropa Kuno. Selama periode ini, ia bersahabat karib dengan Willem Doorenbos dan Jacob Roos, serta mulai mempelajari bahasa Arab, Persia, Portugis, Inggris Kuno (Anglo-Saksis), dan karya-karya Shakespeare. Atas bimbingan Profesor Th. W. J. Juynboll, seorang guru besar bahasa Semit, minat linguistik Van der Tuuk semakin terarah secara akademis.

Ketika Profesor Juynboll pindah dan diangkat menjadi guru besar di Universitas Leiden pada tahun 1845, Van der Tuuk memilih untuk mengikutinya ke kota tersebut. Di Leiden, meskipun tidak pernah secara resmi terdaftar sebagai mahasiswa universitas, ia secara intensif mengikuti kuliah privat bahasa Arab dan Persia dari Juynboll, serta belajar bahasa Sanskerta dari Profesor A. Rutgers. Pada musim gugur tahun 1846, dalam usia dua puluh dua tahun, ia menerbitkan sebuah telaah kritis yang anonim (dengan inisial S.B. yang merujuk pada Surabaya) mengenai naskah Melayu yang disunting oleh J.J. de Hollander. Publikasi perdana ini langsung mengejutkan dunia akademik Belanda karena memperlihatkan pemahaman Van der Tuuk yang sangat mendalam dan kritis terhadap seluruh literatur berbahasa Melayu yang ada pada masa itu.

Jalan Van der Tuuk menuju Tanah Batak terbuka lebar ketika Persekutuan Alkitab Belanda (Nederlandsch Bijbelgenootschap atau NBG) berencana memperluas penerjemahan Alkitab ke bahasa-bahasa daerah di Nusantara. Pada tahun 1845, NBG memutuskan untuk menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Dayak, Makasar, Bugis, dan Batak. Pilihan untuk mengirim utusan bahasa ke daerah Batak di Sumatra didorong oleh pandangan kolonial-religius masa itu, yang menganggap suku Batak sangat membutuhkan "Cahaya Ilahi" karena masih mempraktikkan hukum kanibalisme. Atas rekomendasi dari Profesor Juynboll, Profesor Rutgers, dan Profesor T. Roorda, Van der Tuuk yang baru berusia dua puluh tiga tahun akhirnya diangkat oleh NBG sebagai utusan bahasa (taalafgevaardigde) untuk wilayah Batak pada 8 Desember 1847 dengan gaji f 4.000 setahun.

Sebelum bertolak ke Sumatra, Van der Tuuk melakukan persiapan yang sangat matang di Eropa antara tahun 1847 hingga 1849. Ia meneliti seluruh dokumen tentang Batak yang tersedia di Belanda dan menyusun daftar kosakata awal berdasarkan naskah-naskah kuno. Demi memperluas referensinya, ia menunda keberangkatannya dan memilih berkunjung ke London pada periode Mei hingga September 1848. Di sana, ia menyalin dan memeriksa naskah-naskah Batak berbentuk pustaha (buku kulit kayu) serta puluhan naskah Melayu klasik yang tersimpan di East India House, King's College, dan British Museum. Setelah merampungkan katalogisasi naskah tersebut, ia akhirnya bertolak menuju Hindia-Belanda menggunakan kapal Prinses Sophia pada awal Juni 1849.

Perjalanan laut selama tiga bulan membawa Van der Tuuk tiba di Batavia pada tanggal 2 September 1849. Namun, perjalanannya menuju Tapanuli tidak dapat segera terlaksana akibat berbagai kendala teknis dan kesehatan. Ia sempat mengunjungi keluarganya di Surabaya, menolak desakan ayahnya untuk menikah, dan kembali ke Batavia untuk menunggu berakhirnya muson barat yang berbahaya bagi pelayaran menuju pantai barat Sumatra. Naasnya, pada Mei 1850, ia terserang penyakit kulit yang parah hingga harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Militer Batavia dalam jangka waktu lama. Depresi dan penderitaan fisik selama di rumah sakit sempat membuatnya mengirim surat pengunduran diri kepada NBG karena merasa tidak cocok dengan tugas kerohanian, tetapi NBG mengabaikan permintaan tersebut. Baru pada 14 Januari 1851, setelah benar-benar pulih, Van der Tuuk bertolak dari Batavia menuju Padang dan meneruskan perjalanan ke wilayah Tapanuli.

Aktivitas Linguistik di Tanah Batak

Herman Neubronner van der Tuuk tiba di wilayah Keresidenan Tapanuli pada pertengahan tahun 1851 dan mula-mula menetap di Sibolga. Namun, ia segera menyadari bahwa Sibolga bukanlah tempat yang ideal untuk mempelajari bahasa Batak yang murni karena bahasa setempat telah mengalami distorsi dan infiltrasi yang kuat dari bahasa Melayu pasar. Demi mendapatkan lingkungan linguistik yang otentik, Van der Tuuk memutuskan pindah ke Barus, sebuah kota pesisir yang terletak sekitar lima puluh kilometer di sebelah utara Sibolga. Meskipun Barus didominasi oleh penduduk yang memeluk agama Islam dan mengidentifikasi diri sebagai orang Melayu, mayoritas dari mereka sejatinya beretnis Batak, menggunakan bahasa Batak dalam keseharian, dan menjadi titik temu bagi orang-orang Batak dari pedalaman yang datang untuk berdagang.

Di Barus, Van der Tuuk mendirikan sebuah rumah kecil yang pintunya selalu terbuka lebar bagi setiap orang Batak yang datang berkunjung. Pola kerja lapangannya sangat disiplin, unik, dan melebur dengan objek penelitiannya; sepanjang hari ia duduk bersama informan pribumi, bercakap-cakap, mendengarkan cerita rakyat (suhut-suhutan (Toba)/sukut-sukuten (Dairi)), ratapan (andung), teka-teki, serta membuat catatan-catatan linguistik yang komprehensif. Pada malam hari, ia mengolah seluruh catatan tersebut secara mandiri, menyusun draf kamus, memformulasikan tata bahasa, serta menguji hasil terjemahannya kepada orang Batak keesokan harinya untuk dikoreksi bersama. Guna memperlancar usahanya, ia menyewa para datu (spesialis ritual/dukun) dan penulis lokal untuk menyalin naskah-naskah kesusastraan Batak dari media bambu maupun kulit kayu ke atas kertas Eropa.

Untuk memperluas cakrawala penelitiannya terhadap dialek-dialek Batak lainnya, Van der Tuuk melakukan beberapa ekspedisi berani ke wilayah pedalaman yang masih asing bagi orang Eropa. Pada Maret-April 1852, ia melakukan perjalanan darat yang panjang dengan berjalan kaki menuju wilayah Mandailing dan Angkola, melintasi Padang Sidempuan, Sipirok, hingga Panyabungan. Di setiap perhentian, ia mencatat lagu daerah, anekdot, menyalin pustaha, serta meneliti situs-situs kuno. Selanjutnya, pada Februari 1853, ia melakukan ekspedisi legendaris menuju Silindung dan berhasil menjadi orang Eropa pertama yang menginjakkan kaki di tepi Danau Toba yang disucikan oleh masyarakat Batak. Namun, perjalanan pulang dari Toba hampir merenggut nyawanya karena ia dicurigai sebagai mata-mata pemerintah kolonial (Kompeni) dan nyaris dieksusi oleh penduduk setempat, sebuah trauma yang membuatnya enggan kembali ke pedalaman wilayah Batak yang belum ditaklukkan Belanda.

Selama periode enam tahun tinggal di wilayah Batak (1851–1857), Van der Tuuk berhasil mengumpulkan korpus kesusastraan yang luar biasa masif meliputi dialek Batak-Toba, Batak-Dairi, dan Batak-Mandailing. Kendati sering mengeluhkan kebiasaan hidup masyarakat lokal yang ia sebut "kotor dan malas," ia menunjukkan loyalitas dan pembelaan yang luar biasa terhadap hak-hak rakyat Batak. Melalui kedekatannya dengan penduduk, ia kerap membongkar kasus pemerasan dan penindasan yang dilakukan oleh para kepala suku maupun kebijakan kerja paksa pemerintah kolonial yang tidak diketahui oleh Batavia. Pengetahuannya yang mendalam tentang bahasa daerah bahkan membuat pemerintah Hindia-Belanda kerap meminta bantuannya untuk menerjemahkan pengumuman-pengumuman resmi ke dalam berbagai dialek Batak agar dapat dipahami oleh masyarakat luas.

Sebagai seorang utusan bahasa, Van der Tuuk menghasilkan karya-karya monumental yang meletakkan batu pertama bagi studi linguistik modern di Indonesia. Karyanya yang paling utama meliputi Bataksch-Nederduitsch Woordenboek (Kamus Batak-Belanda) yang diterbitkan pada tahun 1861, serta Tobasche Spraakkunst (Tata Bahasa Toba Batak) yang terbit dalam dua jilid pada tahun 1864 dan 1867. Selain itu, ia menyusun tiga jilid buku bacaan kesusastraan asli Batak (Bataksch Leesboek, 1860–1862) yang memuat teks-teks otentik dari dialek Toba, Mandailing, dan Dairi. Melalui analisis mendalam terhadap perubahan bunyi kesusastraan Batak ini, Van der Tuuk merumuskan hukum perubahan bunyi genetis yang kelak menempatkan namanya sebagai pelopor ilmu perbandingan bahasa Austronesia di panggung dunia.

Pandangan Teologis, Polemik Ilmiah, dan Warisan Emas Van der Tuuk

Pandangan Herman Neubronner van der Tuuk terhadap agama Islam dipenuhi dengan kejengkelan sosiolinguistik dan geopolitik, meskipun ia mengagumi struktur bahasanya. Ia sangat mencemaskan ekspansi agama Islam di daerah Batak karena perluasan iman tersebut selalu berjalan beriringan dengan represi terhadap bahasa asli Batak dan digantikan oleh bahasa Melayu pasar. Van der Tuuk menuduh pemerintah kolonial Hindia-Belanda secara tidak langsung ikut mempermudah jalan bagi Islamisasi di Tanah Batak. Tuduhan ini didasarkan pada kebijakan pemerintah yang menempatkan guru-guru beragama Islam di sekolah-sekolah Batak, menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar resmi, serta mengajarkan aksara Arab (Jawi), sementara aksara dan bahasa Batak diabaikan sama sekali. Pandangan kritis dan laporan terperinci dari Van der Tuuk ini bahkan sempat dijadikan nota protes resmi oleh NBG yang dikirimkan kepada Menteri Koloni di Den Haag pada Agustus 1856.

Di sisi lain, pandangannya terhadap agama Kristen dan institusi zending (misi pekabaran Injil) justru jauh lebih sinis dan destruktif. Sudah sejak awal keberangkatannya, Van der Tuuk tidak pernah merahasiakan bahwa dirinya adalah seorang ateis atau setidaknya sangat anti-Kristen. Ia menganggap tugas penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Batak sebagai beban yang merintangi kebebasan jiwanya dalam meneliti bahasa untuk kepentingan sains semata. Ia mengkritik keras para misionaris yang dianggapnya tidak berkompeten, egois, dan tergesa-gesa menerjemahkan Alkitab tanpa mempelajari dasar linguistik pribumi secara ilmiah. Baginya, menerjemahkan Kitab Suci untuk bangsa yang belum mengenal konsep teologis seperti surga, neraka, dan keabadian adalah kesia-siaan ilmiah yang hanya menghasilkan terjemahan yang buruk dan tidak dimengerti oleh masyarakat lokal.

Pandangan Van der Tuuk terhadap karakter masyarakat Batak merefleksikan dualisme antara ambivalensi personal dan kekaguman ilmiah. Di satu sisi, dalam surat-surat pribadinya kepada NBG, ia kerap mencaci takhayul, kebersihan, dan apa yang disebutnya sebagai "keserakahan" orang Batak. Namun di sisi lain, ia mengakui bahwa masyarakat Batak memiliki sistem literasi yang luar biasa luas dan mandiri, di mana kemampuan membaca dan menulis aksara Batak di atas bambu dan kulit kayu telah menyebar di luar sekat-sekat otoritas keagamaan tradisional. Ia memandang kebudayaan Batak memiliki identitas moral dan kemandirian hukum (adat) yang sangat bernilai, sehingga ia berjuang keras mendesak pemerintah agar membakukan bahasa Batak sebagai bahasa pengantar pendidikan dan pemerintahan demi membendung arus asimilasi budaya Melayu-Islam.

Salah satu aspek paling menonjol dari kehidupan pasca-Tanah Batak Van der Tuuk adalah perselisihan sengit dan polemik ilmiahnya yang berkepanjangan dengan Profesor Taco Roorda, guru besar bahasa Jawa terkemuka di Delft dan Leiden. Roorda adalah tipikal akademisi "menara gading" yang merumuskan teori-teori tata bahasa deskriptif-ahistoris di Eropa hanya berdasarkan dokumen-dokumen sekunder yang dipasok oleh orang lain tanpa pernah sekalipun mengunjungi Hindia-Belanda. Van der Tuuk, sebagai seorang linguis lapangan sejati, menyerang metode Roorda secara membabi buta melalui berbagai brosur ilmiah yang diterbitkannya dengan biaya sendiri pada tahun 1864 dan 1865. Ia mengecam etimologi perbandingan bahasa Roorda sebagai metode yang "tidak bersistem" dan "sama sekali tidak berguna" karena mengabaikan pendekatan linguistik historis-komparatif dan data empiris lapangan. Polemik pedas ini memicu ketegangan besar dalam komunitas ilmiah Belanda, namun menempatkan Van der Tuuk pada posisi superior yang tak terbantahkan dalam validitas sains kesusastraan Nusantara.

Terkait hubungannya dengan organisasi misi Jerman, Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), Van der Tuuk memiliki andil yang sangat besar namun dibayangi oleh ketegangan ideologis. Pada akhir tahun 1861, sekembalinya ke Amsterdam, Van der Tuuk bersedia memberikan kursus privat bahasa Batak secara intensif kepada tokoh legendaris RMG, Ludwig Ingwer Nommensen, sebelum sang misionaris berangkat ke Sumatra pada tahun 1862. Ia juga memberikan diktat tata bahasa serupa kepada Dr. August Schreiber dan dua zendeling RMG lainnya pada tahun 1865. Walaupun secara personal ia memandang sinis motivasi keagamaan RMG, Van der Tuuk secara objektif mengakui bahwa kehadiran zending dapat membantu merangsang minat baca dan pendidikan masyarakat Batak, sekaligus menjadi benteng yang efektif untuk menghentikan laju Islamisasi di pedalaman Sumatra. Di kemudian hari, pihak NBG sendiri mengakui secara jujur bahwa karya linguistik Van der Tuuk yang agung secara tidak langsung telah merintis jalan kesuksesan zending RMG di Sumatra.

Herman Neubronner van der Tuuk menghabiskan dua puluh empat tahun terakhir masa hidupnya di Pulau Bali sejak tahun 1870, bekerja untuk pemerintah kolonial demi menyusun mahakarya agungnya, Kawi-Balineesch-Nederlandsch Woordenboek. Di Bali, ia memilih hidup menyendiri "seperti orang Bali" di sebuah gubuk bambu kotor di Kampung Baratan, Singaraja, menjauh dari komunitas Eropa, setengah telanjang dengan hanya mengenakan sarung, namun memiliki pasokan anggur terbaik dan makanan Eropa yang lezat. Karakter eksentrik, kasar, namun berhati mulia dan jujur secara ilmiah ini membuatnya dijuluki "Goesti Dertik" oleh masyarakat Bali yang sangat menghormati pengetahuannya yang tanpa tanding atas bahasa Kawi dan Bali. Sang "Raja Pakar Bahasa" ini akhirnya menghembuskan napas terakhir akibat serangan disentri di Rumah Sakit Militer Surabaya pada tanggal 17 Agustus 1894 dalam usia tujuh puluh tahun. Ia meninggalkan warisan emas berupa standarisasi linguistik modern dan koleksi ribuan naskah Nusantara berharga tinggi yang kini tersimpan abadi di Perpustakaan Universitas Leiden.

Referensi:

C.D. Grijns. (1996). "Van der Tuuk and the Study of Malay." Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 152, 3de Afl., hlm. 353–381.

Clara Brakel-Papenhuyzen. (2007). "Treasures of Indonesia's Cultural Heritage: Van der Tuuk's Collection of Batak Manuscripts in Leiden University Library." Sari: Jurnal Alam dan Tamadun Melayu, Vol. 25, hlm. 9–21.

Clara Brakel-Papenhuyzen. (2016). "Dairi Storytelling and Stories in the Batak Reader of Herman Neubronner van der Tuuk." Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia, Vol. 17, No. 2, hlm. 278–302

G.E. Marrison. (1996). "Working with Van der Tuuk: Some British Links in the Development of Indonesian Studies." Journal of the Royal Asiatic Society, Third Series, Vol. 6, No. 1, hlm. 65–68.

Herman Neubronner Van der Tuuk. (1860–1862). Bataksch Leesboek. Amsterdam: Frederik Muller.

Herman Neubronner Van der Tuuk. (1865). "On the Existing Dictionaries of the Malay Language." The Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland, New Series, Vol. 1, No. 1/2, hlm. 181–186.

Herman Neubronner Van der Tuuk. (1971). A Grammar of Toba Batak. (Penerjemah: Jeune Scott-Kemball; Editor: A. Teeuw & R. Roolvink). The Hague: Martinus Nijhoff / Springer Science+Business Media.

Kees Groeneboer. "Dari Radja Toek sampai Goesti Dertik: Herman Neubronner van der Tuuk sebagai Linguis Lapangan di Indonesia pada Abad Kesembilan Belas."

Marije Plomp. (2014). Never-Neverland Revisited: Malay Adventure Stories; With an Annotated Edition and Translation of the Malay Story of Bahram Syah. Disertasi Doktoral, Universiteit Leiden.