'Senja' di Kolaborasi kumparan

Love needs effort, not magic
Tulisan dari Dian Rosalina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Jadi aku panggil kamu siapa nih? Di WhatsApp-mu namanya 'Senja'. Sudahlah, aku panggil kamu 'Senja' aja. Soalnya sudah banyak nama Dian," kata atasan baru kepadaku ketika baru beberapa hari masuk kerja.
"Hm.. ee.. tapi, mas..." kataku ragu.
"Nih aku sudah namakan Senja," katanya tegas.
"Ah ya sudah deh terserah kamu aja," kataku pasrah.
Seperti itulah asal mula panggilan 'Senja' di Kolaborasi. Ya, nama panggilanku sebenarnya adalah Dian. Entah kenapa, kalau di Divisi Kolaborasi aku lebih dikenal sebagai 'Senja'. Jujur, itu pun enggak sengaja. Nama itu merupakan panggilan yang dikasih sama mantan pacar (uhuk), karena waktu itu lagi 'bucin' banget, jadi enggak diganti deh. Hahaha.
Kupikir nama ini cuma disebut di dalam divisi pertamaku di kumparan itu, tetapi ternyata nama ini malah disebar ke mana-mana sama bosku, yang selalu kupanggil Mas Gaga. Misalnya aja saat pertama kali masuk malam, aku dikenalkan ke tim redaksi news dengan nama 'Senja'.
"Eh kenalin ini namanya Senja," kata Mas Gaga. Ya selalu begitu. Bahkan di divisi apa pun, aku selalu dikenalkan dengan nama 'Senja'.
Jujur sih awalnya enggak nyaman karena ya... enggak enak aja karena bukan nama asli yang dipanggil. Tapi setelah hampir 10 bulan di divisi ini, aku mulai terbiasa. Bahkan sekarang Office Boy di kantor kumparan Amil jadi panggil aku 'Mbak Senja'. Hahaha.
Aku jadi ingat setiap datang ke kantor dan pulang kantor, Mas Gaga selalu menyapa dengan lantang.
"Halo Senja!"
"Eh ada Senja!"
"Hati-hati Senja!"
Atau kalau lagi ada berita yang penting dan aku duduk di sampingnya, dia selalu bilang, "Ini ambil Senja", "Itu ambil Senja", "Ini bagus Senja". Ya begitulah. Tapi kalau lagi bad mood, Mas Gaga kadang langsung panggil nama asliku, sih. hihi.
Bicara soal divisi pertamaku di kumparan, Kolaborasi, awalnya aku enggak tahu secara pasti apa sih divisi ini. Secara saat Tim HR kumparan mewawancara aku, tidak banyak informasi tentang divisi ini. Termasuk dari Mas Gaga sendiri.
Intinya aku paham sih kalau divisi ini yang mengurus tulisan partner kumparan yang berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, tulisan user, dan membuat polling.
Setelah aku masuk, ternyata divisi ini enggak segampang yang aku bayangkan. Sama sulitnya seperti Divisi News, bahkan menurutku ini lebih berat. Terlebih lagi saat piket malam masih diadakan.
Jujur aja, piket malam pertamaku, gagal total. Sudah mengantuk berat, paginya aku harus diceramahi Mas Gaga karena menurutnya tulisanku tak layak sama sekali.
Aku pernah sampai menangis saat pulang ke rumah karena itu. Hahaha. Tapi dari situ, aku mulai belajar. Kesalahan yang pernah aku lakukan, sebisa mungkin tak akan aku ulangi.
Awalnya sih, minimal biar enggak kena ceramah Mas Gaga aja. Tapi lama-kelamaan, aku pun belajar dengan sendirinya. Walau sampai aku menulis tulisan ini, mungkin masih ada yang salah atau typo. hahaha. Maaf ya, Mas Gaga.
Eh enggak hanya Mas Gaga, di divisi ini ada seseorang yang selalu kupanggil 'ibu gembala', atau lebih dikenal dengan Mbak Dhini. Pertama kali aku ketemu dia, sungguh dia cantik banget, mirip artis. Awalnya kupikir dia galak, hehe, tapi sekarang malah jadi temen curhat. Cantik lah pokoknya.
Ya, sesekali aku sering curhat soal urusan perasaan sama dia, karena menurutku Mbak Dhini adalah orang dewasa yang bisa dijadikan panutan dan umurnya enggak beda jauh. Dia itu seperti kakak perempuan.
Aku senang kalau melihatnya setiap masuk kerja. Selalu adem. Ibaratnya, Mbak Dhini itu seperti air, yang bisa menenangkan Mas Gaga, haha. Kalau melihat mereka saling bercanda itu menyenangkan dan lucu.
Dan perlu diketahui, divisi ini terkenal dengan kehebohannya. Ya, bagaimana ya, karena setiap hari ada-ada aja kelakuan para anggotanya. Jadi banyak hal yang akan kurindukan ketika nanti akan berpisah dengan tim ini dan di-rolling ke divisi lain, yang sebenarnya sih lokasinya masih satu rumah, hehe.
Mulai dari Mas Gaga yang bertekad diet dari awal aku masuk kumparan tapi BELUM berhasil; si 'ibu gembala' yang selalu cantik dan baik, Mbak Dhini; ketemu Crazy Rich Medan alias Elma Bancin yang suka belanja di Shopee; berantem enggak jelas sama Katondio, ketemu partner fangirling BTS, Denia; mendengarkan obrolan nge-gas ala si Sabariah, Audrey; para sahabat rasul, Anggita, Ela, Selli, dan Cia, yang selalu bikin ketawa kalau dengar mereka lagi ngobrol.
Lalu Ajo yang kini merambah dari Go-jo ke Auto-jo; Ben Virga alias Allbi, si temen curhat; si kpopers sejati, Adel, yang selalu berbagi info soal kpop; Sis Lolita, yang belum lama ini buru-buru beli tiket pesawat dari Solo ke Jakarta karena disuruh pulang sama Mas Gaga; ketemu 'kakak-beradik', Bagas dan Wanda; Marissa si Bumil yang sebentar lagi melahirkan; si Taurus Girl yang sering pakai kaus kaki beda warna, Tiara, dan para adik-adik magangku yang manis, Mirna dan Rama.
Sebagai penutup tulisan ini, aku berterima kasih bisa masuk ke Kolaborasi sebagai awal perjalananku di kumparan. Aku diberi kesempatan untuk belajar lebih banyak soal dunia jurnalistik, yang selama ini ternyata aku belum ada apa-apanya. Di sini aku pun beruntung menemukan keluarga kecil yang menyenangkan. Walau tak banyak waktuku di Kolaborasi, tapi 'Senja' akan selalu ada untuk Kolaborasi. Hehehe.
