Konten dari Pengguna

Dian, Pelita yang Menemukan Jalannya di Cihurip

Dian Rosdiani

Dian Rosdiani

ASN Guru Sekolah Dasar

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dian Rosdiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Guru-guru yang berfoto bersama di Tugu Kecamatan Cihurip. Dok. Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Guru-guru yang berfoto bersama di Tugu Kecamatan Cihurip. Dok. Pribadi.

Saya pertama kali datang ke Cihurip pada tahun 2019.

Kecamatan di Kabupaten Garut yang saya pilih untuk melamar CPNS. Informasi sederhana dalam whatsapp grup karya ilmiah mahasiswa yang menyampaikan bahwa di Garut masih minim pelamar CPNS.

Selama mengikuti berbagai tahapan tes, pikiran saya hanya tertuju pada satu hal : bagaimana mendapatkan nilai terbaik dan menjadi peringkat pertama untuk mengisi formasi. Saya tidak memikirkan bagaimana kondisi sekolah dan bagaimana perjalanan menuju lokasi.

Setelah dinyatakan lulus dan menyerahkan persyaratan pemberkasan CPNS ke BKD, saya bersama ayah melakukan survei ke sekolah tempat saya akan bertugas.

Tiga jam menuju Cihurip

Kami berangkat menggunakan motor tua milik ayah yang beberapa kali mogok dalam perjalanan. Dari pusat pemerintahan Kabupaten Garut menuju Kecamatan Cihurip memakan waktu sekitar tiga jam. Di sepanjang perjalanan, saya disuguhi pemandangan Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Perkebunan Teh Cikajang, hingga tebing batu yang biasa disebut dengan nama Batu Tumpang.

Setelah melewati Kecamatan Cikajang, perjalanan menuju Cihurip semakin terasa berbeda. Deretan pohon besar, jalan curam berbelok, hingga telepon genggam yang kehilangan sinyal. Sampai akhirnya saya melihat tugu berwarna kuning.

Tulisan hitam di atasnya menyambut siapa pun yang datang :

“Selamat Datang di Kecamatan Cihurip”

Tugu "Selamat Datang di Kecamatan Cihurip." Dok. Pribadi

Dari Puncak Pikiran, saya bisa melihat hamparan wilayah Garut Selatan. Dari kejauhan, laut pantai selatan seperti berada lebih tinggi dari Kecamatan Cihurip. Namun deretan gunung dan bukit menjadi pagar alami yang mengelilinginya. Di bawah sana terlihat hamparan sawah dan pemukiman warga yang berkumpul di balik pegunungan.

Dari Puncak Pikiran, perjalanan masih sekitar setengah jam menuju kampung tempat saya akan mengajar. Kami terus menuruni jalan. Sampai akhirnya saya melihat sekolah itu.

Sekolah di balik pegunungan

Sekolah terdiri atas dua baris bangunan yang saling berhadapan. Satu baris merupakan ruang kelas 1, 2, dan 3. Bangunannya masih cukup layak digunakan dan sudah berkeramik. Di depannya terdapat lapangan tempat siswa melaksanakan upacara.

Di seberang lapangan, terdapat tangga menuju tanah yang lebih rendah. Di sanalah berdiri bangunan kelas 4, 5, dan 6 serta sebuah rumah dinas yang kondisinya sudah tidak layak digunakan. Gentingnya banyak yang berlubang.

Sebagian retak dan jatuh.

Atapnya miring dan nyaris roboh.

Temboknya juga terlihat miring.

Beberapa jendela retak, bahkan ada yang sudah pecah.

Ayah saya langsung melarang saya mengajar di bangunan tersebut.

Kekhawatirannya sederhana. Jika hujan besar turun, ia takut atap bangunan itu roboh.

Tidak lama kemudian, datang seorang warga yang menjelaskan bahwa sekolah berada di daerah perbukitan yang rawan mengalami pergeseran tanah. Sekolah sedang direlokasi secara bertahap. Bangunan yang sudah tidak layak digunakan tersebut sudah ditinggalkan. Murid kelas 5 dan 6 sudah dipindahkan ke lokasi sekolah yang baru.

Sekolah baru dan 45 anak

Sekolah baru itu memiliki dua bangunan, yaitu ruang kelas 5 dan kelas 6. Letaknya di pinggir jalan desa. Tanahnya datar, tidak bertingkat seperti sekolah lama. Di samping sekolah terbentang hamparan sawah yang luas. Di belakangnya terdapat deretan kebun cengkeh dan pohon kelapa. Di tempat itulah saya akhirnya ditempatkan sebagai guru kelas 5. Saya memasuki kelas dengan 45 murid, dengan tiga murid yang belum lancar membaca. Dua di antaranya sudah bisa membaca huruf menjadi suku kata. Sementara satu anak lainnya baru mengenal huruf. Saya kemudian membeli buku “Bacalah” Volume 1, 2, dan 3. Dua murid menggunakan Volume 2, sementara satu murid memulai dari Volume 1.

Tidak ada program besar.

Tidak ada seremoni.

Tidak ada anggaran khusus.

Hanya ada tiga murid, beberapa buku, dan waktu yang kami sisihkan setelah jam sekolah selesai.

Kami belajar perlahan.

Huruf.

Suku kata.

Kata.

Kalimat.

Hari demi hari.

Sampai akhirnya mereka naik ke kelas 6.

Ketiganya sudah bisa membaca.

Mereka mampu mengikuti pembelajaran bersama teman-temannya tanpa tertinggal.

Buku "Bacalah" yang digunakan untuk membantu murid yang belum lancar membaca. Dok. Pribadi.

Bagi sebagian orang, mungkin itu adalah pencapaian kecil.

Bagi saya, tidak.

Karena saya tahu bagaimana mereka memulainya. Bagaimana satu murid bahkan baru mengenal huruf. Dan saya tahu betapa bahagianya melihat mereka akhirnya mampu membaca dan mengikuti pembelajaran bersama teman-temannya.

Dari mana datangnya nama Dian?

Nama saya Dian.

Orang tua memberikan nama itu dengan sebuah doa agar kelak saya bisa menjadi pelita bagi orang lain. Dulu saya tidak pernah benar-benar memikirkan makna nama tersebut. Namun Cihurip membuat saya memandang nama itu dengan cara yang berbeda. Saya mulai memahami bahwa menjadi pelita tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Ia hanya perlu memberikan cahaya yang cukup agar seseorang bisa melihat langkah berikutnya.

Mungkin itulah yang terjadi pada tiga anak tersebut.

Saya tidak mengubah seluruh kehidupan mereka.

Saya tidak tahu kelak mereka akan menjadi apa.

Saya hanya membantu mereka melewati satu bagian kecil dari perjalanan mereka:

belajar membaca.

Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan mereka sendiri.

Dan mungkin, di situlah sesungguhnya makna menjadi seorang guru.

Bukan selalu tentang seberapa banyak materi yang berhasil kita sampaikan. Tetapi tentang apakah setelah kita mengajar, ada seorang anak yang akhirnya mampu melangkah sedikit lebih jauh.

Karena pada akhirnya saya percaya:

Pengabdian tidak selalu tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi tentang seberapa terang kita meninggalkan jalan yang pernah kita lalui.