Dunia Membacaku

Seorang mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Diar Lestari Anjarwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca adalah menjadi kegiatan yang sudah aku sukai sejak Sekolah Dasar (SD). Berawal saat aku mulai suka membaca banyak tulisan di setiap iklan saat berpergian, aku mulai penasaran dengan berbagai buku cerita di perpustakaan sekolah. Kala itu perpustakaan sekolah ku tidak terlalu besar, namun bukunya tertata sangat rapi dan sesuai dengan kelompoknya, seperti buku mengenai pelajaran, buku cerita, sejarah, dan lain sebagainya.
Saat itu aku mulai tertarik dengan buku cerita sederhana, seperti KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) atau beberapa buku cerita dongeng yang sering aku temui di buku bahasa Indonesia. Melihat barisan tulisan yang merangkai cerita mengenai persahabatan dan keluarga, membuat minat bacaku mulai melonjak tinggi. Aku mulai sering meminjam buku cerita di perpustakaan atau menikmati waktu luang sebelum les untuk membaca cerita baru.
Perlahan membaca menjadi hobi baruku selain bermain selepas pulag sekolah. Setiap kali ada bazzar bulanan yang akan datang ke sekolah, aku selalu menyisihkan uang jajanku untuk membeli buku cerita atau buku untuk menunjang pelajaranku. Tanpa aku sadari, bahwa aku mulai belajar untuk mengoleksi buku hanya untuk memenuhi keinginan jiwaku yang sedang membara dalam membaca.
Sampai suatu hari, aku datang bermain ke rumah sepupuku, duduk manis di meja makannya dan memperhatikan kardus besar berisikan banyak mainan. Manikku tertuju pada satu objek, tentu saja sebuah buku dengan ukuran seperti majalah, tidak tebal dan covernya sangat menarik perhatianku. Aku mulai membukanya, memperhatikan setiap gambar dan tulisan pada kotak, dialog yang tidak biasa, tanpa ada deretan kalimat penjelasan, tetapi aku mengerti apa yang sedang diceritakan.
Aku benar-benar larut dalam buku tersebut, sampai tidak terasa kalau halaman terakhir menjadi penutup kisah yang seharusnya masih berlanjut. Aku terdiam sejenak, membuka kembali dan mengulang bacaanku dari awal hingga akhir, sampai aku menyadari kalau kisah sang tokoh belum berakhir dan masih berlanjut pada buku yang lain. Manikku menatap bagian sisi akhir cover buku, terlihat banyak cover cerita yang sama dengan judul dan cover yang berbeda.
Hari itu aku menyadari, kalau membaca tidak hanya tentang barisan kata hingga akhir, tetapi dialog dan gambar juga bisa menjadi media untuk menyampaikan sebuah cerita karangan. Semenjak saat itu, aku mulai mencari cerita yang serupa di perpustakaan sekolah, sayangnya perpustakaan tidak memiliki cerita yang aku inginkan. Aku sangat mengingat jelas judul cerita tersebut The Adventures of Tintin sebuah komik yang menceritakan tentang reporter laki-laki bernama Tintin dan anjingnya yang selalu menyelesaikan banyak masalah.
Semenjak saat itu, aku mulai tertarik dengan cerita bertemakan petualangan dan pada akhirnya aku mulai mencarinya di buku cerita lain, tetapi aku tidak akan melupakan Petualangan Tintin dan berharap bisa membeli semua series komiknya. Namun, aku mulai menemukan komik dari Jepang, seperti Doraemon, Shinchan, dan beberapa komik yang aku sudah lupa judulnya. Aku mulai mengetahuinya saat tetanggaku memiliki komik setas penuh, yang mungkin isinya hampir 50 buku komik dengan berbagai judul.
Beranjak dewasa, memasuki masa Sekolah Menengah Pertama (SMP), aku mulai menjelajahi dunia internet. Kala itu, platfrom Line sedang marak di lingkungan sekolahku. Banyak teman-temanku yang berkomunikasi dengan aplikasi Line, baik untuk saling bertukar kabar, melihat banyak gambar dan tentunya membaca sebuah cerita.
Saat hampir menginjak waktu lulus sekolah, Webtoon hadir sebagai platfrom pilihanku kala aku mulai bosan membaca cerita di Wattpad. Ada beberapa cerita yang aku baca di Webtoon, bukan hanya karena tertarik dengan alur cerita mereka, tetapi aku tertarik dengan visualisasi yang ditampilkan, terutama visualisasi cerita mengenai kerajaan. Aku selalu bersemangat saat membaca komik bertemakan kerajaan atau bahkan sejarah fantasi.
Sayangnya, aku tidak bertahan lama dalam menikmati setiap cerita yang ada di Webtoon. Aku mulai kembali membaca novel dan membeli beberapa novel yang kala itu sedang ramai di aplikasi Wattpad. Aku benar-benar menyadari, kalau sejak awal aku lebih tergantung kepada barisan kata yang terlihat padat, tanpa ilustrasi yang memenuhi hampir satu buku.
Namun, perkembangan jaman tidak membuat minat bacaku berhenti. Aku membaca banyak cerita online di beberapa media, seperti Wattpad, Fizzo, Alternatif Universe (AU) yang ditulis pada media X (sebelumnya Twitter) dan TikTok, Medium, Archive of Our Own (AO3), dan beberapa media baca yang aku coba sekilas saja. Pada aplikasi Fizzo, ada fitur selain novel, yaitu komik, ada beberapa cerita yang menarik diriku untuk kembali membaca cerita komik.
Sampai saat ini aku sangat menyadari, bahwa dunia membacaku sudah menjelajah jauh pada berbagai media hingga web yang bisa memenuhi dunia imajinasiku. Selain itu, aku juga memang tidak bisa lepas dari komik walaupun pada kenyataannya aku sudah tidak terlalu tertarik membaca komik. Namun, rak buku-ku menjadi saksi kalau komik cetak dengan judul yang aku tidak ketahui menemani novel-novelku selama beberapa tahun.
