Sepiring Nasi Pecel Untukku di Pasar Ngasem

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Diazrayya Krisnandharu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Langkah demi Langkah menuju Pasar Ngasem
Di antara hiruk pikuknya kafe-kafe dan tempat ngopi di Jogja, ada satu tempat yang selalu tak lupa dilirik warga lokal atau pun wisatawan untuk dikunjungi: Pasar Ngasem. Sebuah pasar yang berisi makanan-makanan zaman dulu hingga masa kini. Sebuah pasar yang tak lekang dimakan waktu. Kala itu, 3 November 2025, aku memulai perjalananku dari Stasiun Jebres. Tepat pukul 06.11, aku meninggalkan Solo dengan KRL. Setibaku di Stasiun Tugu Jogja pukul 07.29, aku langsung membuka aplikasi kesayangan mahasiswa—Gojek—bermaksud memesan ojek untuk mengantarku ke pasar tersebut.
Sekitar pukul 08.09, aku memulai langkahku di Pasar Ngasem. Mataku tertuju ke belakang Pasar Ngasem ketika aku melihat ada sebuah bangunan tua seperti vila yang terbengkalai. Tanpa kusadari, itu adalah salah satu bangunan dari Taman Sari! Tempat yang mau aku kunjungi dari kapan tahun itu ternyata ada di belakang Pasar Ngasem! “Habis ini ke sana, ah!,” batinku.
Ketika aku mulai menelusuri Pasar Ngasem, kondisi pasar itu tak terlalu ramai. “Mungkin karena weekdays, apalagi ini hari Senin, kan,” kata Aza, seseorang yang menemaniku dalam melakukan perjalanan antarkota itu. ‘Tak terlalu ramai’ yang kumaksud di sini adalah aku masih bisa berjalan dengan cepat dan tanpa berdempet-dempetan, juga tanpa terhalang antrian yang banyak. Tiap warung hanya ada setidaknya 2—3 pembeli, sisanya mereka duduk di tribune Plaza Ngasem. Kalau boleh jujur, tribune di Plaza Ngasem itu 11/12 dengan tribune di Hutan FISIP UNS. “Tempat-tempat yang aku datangi pasti selalu mengingatkanku akan rumah,” kataku.
Sayangnya, aku tidak begitu mencium aroma yang khas dari pasar ini. Hanya pemandangan “vila” itu dan kondisi pasar yang tidak terlalu ramai yang bisa aku deskripsikan. Setidaknya, seperti itulah cara Pasar Ngasem mengucapkan ‘selamat datang’ padaku.
Sepiring Nasi Pecel Untukku
Kala pasar kuliner tersebut sibuk mengucapkan ‘selamat datang’ padaku dan orang-orang setelahku, langkahku terbawa di pemberhentian pertamaku di pasar itu: nasi pecel. Di nasi pecel itu, aku bertemu dengan Bu Suci, seseorang yang menawariku seporsi nasi pecel. Yang juga dengan dua tangannya, sedang melayani pembeli lain. Aku pun memutuskan untuk singgah dan memesan sepiring hidangan nasi khas Jawa itu.
Sambil menyantap hidangan pertamaku pagi itu, Bu Suci mengatakan bahwa ia sudah setahun bekerja di sana. “Saya cuma ikut orang, ini yang punya orang belakang Malioboro,” tambahnya. Nasi pecel yang ia jual, laris. Bahkan di hari-hari tertentu seperti Jum’at—Minggu, dagangannya sudah habis sebelum jam 12.00 siang.
Pasar Ngasem sendiri buka dari jam 5.00 pagi—16.00 sore. Tapi, waktu-waktu paling ramai ada di pagi hari. Saat di mana orang-orang ingin menghabiskan waktu paginya di tempat 1001 kuliner itu, atau bahkan hanya sekedar singgah sebentar untuk membeli makan sebelum memulai hari. Dulu, katanya, pasar ini pernah viral gara-gara penjual jenang di dekat nasi pecelnya. “Di sini ada jenang viral dulu, laris banget,” kenang Bu Suci. “Tapi sekarang ya biasa aja,” tambahnya. Melihat itu, pikiranku tergugah—selayaknya roda kehidupan, pasar ini juga punya masa-masa naik dan turunnya.
Bu Suci menyebut pasar Ngasem dengan satu kata: nyaman. “Di sini saya kadang ketemu orang-orang yang jauh, Mas. Kadang kalau enggak ada kembalian, mereka bilang, “Udah, kembaliannya buat Ibu aja.” Itu hal yang selalu saya ingat.”
Pasar yang aku datangi itu ternyata dulunya bukanlah pasar kuliner. Sekitar 10 tahun yang lalu, pasar tersebut adalah pasar burung, yang tentu isinya adalah orang yang berjualan burung-burung. Tapi pasar burung itu dipindahkan ke Jalan Bantul dan sekarang pasar tersebut dikenal dengan nama Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY).
Ada Aroma yang Memanggilku di Taman Sari
Percakapan kami pun hampir habis seiringan dengan habisnya nasi pecel di piringku. Kenyang? Iya. Kagum? Jelas. Rindu? Selalu. Karena perutku sudah kenyang akan cita rasa pasar, saatnya mengenyangkan hatiku dengan cita rasa seni. Aku pun angkat kaki dan berjalan ke arah Taman Sari. Namun sayangnya, loket baru dibuka pukul 09.00. Aku memutuskan untuk menunggu sambil mengagumi lukisan-lukisan di sebuah galeri. Ketika aku masuk, di detik pertama, aku langsung disambut oleh aroma lilin. Bagiku, aromanya aneh, tapi menenangkan. Di tempat yang sama, aku juga dipertemukan dengan Pak Tri, seorang tour guide yang kebetulan sedang berada di sana.
“Lukisan ini bukan dilukis diatas kanvas, tapi di atas kain,” jelasnya sambil menunjuk beberapa karya. “Cara bikinnya juga kayak membatik, Mas. Makanya di ruangan ini aromanya kayak aroma lilin.” Saat aku melihat lukisan-lukisan itu lebih dekat, aku melihat beberapa bagian yang kurang sempurna. Ada noda juga warna yang tidak rata. “Kalau lukisannya di-print, hasilnya pasti sempurna dan minim kesalahan, Mas. Tapi kalau dibuat dengan tangan, pasti ada bagian kayak kecoret atau kegores gitu,” tambahnya.
Karena jam sudah menunjukkan pukul 09.00 lebih dan Aza sudah menunggu, aku hendak pamit pada Pak Tri, berharap bisa bertemu dengannya di waktu yang lain. Sebelum aku melangkah ke luar ruangan, Pak Tri mengingatkan:
Pintu-pintu di Taman Sari itu dibuat rendah, Mas. Nanti hati-hati dan ditundukkan kepalanya, ya. Mereka dibuat rendah agar manusia senantiasa rendah hati.
Dan pagi itu, sepiring nasi pecel dari Bu Suci terasa lebih lengkap dengan sepiring cerita dari Pak Tri.
