Foto: Dari Kulit Buah Menjadi Ekoenzim, Upaya Anantasari Kurangi Sampah
Kulit jeruk, mangga, jambu, dan nanas terhampar di teras rumah Anantasari. Satu per satu, ia mengumpulkan dan membersihkan sisa buah tersebut untuk diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Bagi Anantasari, kulit buah yang kerap berakhir di tempat sampah menyimpan potensi untuk membantu mengurangi timbulan sampah organik.
Dari rumahnya, ia mengolah kulit buah menjadi ekoenzim. Antasari juga membagikan pengetahuan tersebut kepada masyarakat dan anak-anak sekolah melalui tugasnya sebagai penyuluh lingkungan di Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan, Banten.
Ketertarikan Anantasari terhadap ekoenzim bermula saat pandemi COVID-19. Ketika kebutuhan akan cairan pembersih meningkat, ia mulai mempelajari cara membuat ekoenzim secara mandiri. Seiring waktu, pengalamannya mengolah sisa buah menumbuhkan ketertarikan yang lebih besar terhadap manfaat ekoenzim sekaligus potensinya dalam mengurangi sampah organik dari sumbernya.
“Semakin ke sini semakin senang karena manfaatnya melebihi ekspektasi dan salah satu solusi mengurangi limbah organik,” kata Anantasari.
Berawal dari kebiasaan di rumah, kepeduliannya kemudian berkembang menjadi kegiatan edukasi lingkungan. Ia mengajak masyarakat mengenali potensi sampah organik, menjelaskan proses pembuatan ekoenzim, serta mendampingi peserta untuk mempraktikkan pengolahan kulit buah secara langsung.
Anantasari juga menyambangi sekolah-sekolah untuk memperkenalkan pengelolaan sampah sejak usia dini. Menurutnya, pembiasaan sejak kecil dapat membentuk perilaku peduli lingkungan yang terbawa hingga dewasa, bahkan mendorong anak-anak untuk mengajak teman-temannya melakukan hal serupa.
“Jika dari usia dini sudah dibiasakan, maka akan menjadi sebuah kebiasaan secara tidak sadar, dan akhirnya nanti anak-anak dapat mengajak teman-temannya,” ujarnya.
Bagi Anantasari, keberhasilan penyuluhan tidak hanya diukur dari materi yang disampaikan. Ia merasa senang ketika masyarakat menunjukkan ketertarikan, berani mencoba, dan merasakan langsung manfaat dari pengetahuan yang diperoleh. Sementara itu, ketika sebagian orang belum tertarik, ia menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk menyampaikan edukasi dengan cara yang lebih baik.
Upaya tersebut berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni meningkatnya timbulan sampah organik. Sisa makanan dan kulit buah merupakan bagian dari sampah yang dihasilkan rumah tangga. Karena itu, pengelolaan sampah sejak dari sumbernya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.
Di rumahnya, Anantasari memproduksi sedikitnya 36 liter ekoenzim setiap bulan. Untuk menghasilkan produk tersebut, ia mengolah sekitar 10,4 kilogram kulit buah yang berasal dari sampah rumah tangganya sendiri serta sisa buah dari penjual kudapan.
Ekoenzim hasil fermentasi itu kemudian dimanfaatkannya sebagai bahan campuran cairan pembersih untuk kebutuhan rumah tangga, termasuk mengepel lantai. Sesekali, ia juga membagikan ekoenzim hasil produksinya kepada masyarakat yang membutuhkan.
Meski demikian, Anantasari menyadari bahwa ekoenzim bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan sampah. Baginya, kebiasaan mengolah sisa buah merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat berkontribusi pada pengurangan sampah organik apabila dilakukan secara konsisten dan meluas.
“Kalau dilakukan secara masif di setiap rumah tangga, saya yakin dapat mengurangi timbulan sampah organik secara signifikan,” katanya.
Anantasari meyakini perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh dari aktivitas sederhana di rumah, seperti memilah dan mengolah kulit buah yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
