Pandemi COVID-19

PhD, Medical Doctor, Epidemiologist, Researcher and practitioner on Global Health Security Policy at the Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Policy adviser to Minister of Tourism Creative Economy Indonesia
Tulisan dari Dicky Budiman, dr MScPH PhD tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jumlah kasus COVID-19 yang telah mencapai 1 juta penderita adalah satu prediksi epidemiologi yang tidak bisa dibantah kebenarannya berdasar analisa data yang tersedia, sebagaimana juga sudah penulis prediksi jauh hari sebelumnya.
Hal ini juga dapat diartikan bahwa kemungkinan prediksi para epidemiolog terhadap perkembangan dan pola pandemi COVID-19 di Indonesia bisa menjadi kenyataan.
Tapi yang kita semua harapkan tentunya prediksi dengan skenario terbaiklah yang terjadi. Agar ini terealisasi maka diperlukan kepemimpinan yang kuat di setiap tingkat pemerintahan dan instansi serta gotong royong dalam mewujudkannya.
Angka kasus COVID-19 ini bisa terus meningkat mengingat virus SARS-CoV-2 merupakan virus baru yang menginfeksi manusia, sehingga sangat kecil kemungkinan untuk manusia saat ini memiliki kekebalan terhadap virus SARS-CoV-2.
Oleh karena itu, upaya intervensi yang dipilih dan dilakukan perlu semakin ditingkatkan untuk membuat landai kurva epidemi, sembari tetap melakukan evaluasi.
Asal Mula COVID-19
Anggapan bahwa sebetulnya virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 telah lama ada, memang benar adanya. Namun, harus diketahui bahwa virus ini sebelumnya hidup bukan di tubuh manusia.
Inang atau rumah asli dan awal dari Virus SARS-CoV-2 adalah binatang, yang diduga salah satunya adalah kelelawar. SARS-CoV-2 disebut sebagai zoonotic virus atau virus yang sebelumnya hidup pada binatang, namun kemudian menyebabkan penyakit pada manusia.
Artinya ketika terjadi perpindahan virus hewan ke manusia inilah timbul penyakit yang disebut zoonosis. Sifat virus ini tentu akan berbeda dengan ketika hidup di "rumah" sebelumnya.
Contoh lebih jelas tentang zoonotic virus lainnya adalah Human Immunodeficiency Virus. Virus HIV ini lama hidup di hewan primata hingga akhirnya di awal abad 19-an karena aktivitas kontak era antara hewan primata dan manusia di Afrika maka virus ini pindah ke manusia dan menyebabkan penyakit HIV dan AIDS.
Strategi Penanganan
Pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 masih menyimpan banyak misteri yang terus diteliti dan diungkap para ilmuwan.
Karena masih banyak yang belum diketahui inilah maka kita perlu berhati-hati dalam memilih opsi strategi atau rujukan pemahaman terkait COVID-19.
Sikap kehati-hatian ini penting karena terbukti seiring waktu ditemukan hal baru yang tidak kita duga. Misalnya, penderita dengan gejala ringan ternyata sangat berpotensi besar dalam penyebaran penyakit ini.
Selain itu, kasus temuan terbaru di kluster latihan paduan suara di Amerika Serikat, didapat bukti bahwa COVID-19 dapat ditularkan melalui mekanisme aerosol saat berbicara dan bernyanyi.
Itu sebabnya sangat penting untuk selalu melakukan Analisa kasus per kasus pada setiap kluster sehingga didapatkan informasi dan pola penyakit COVID-19 untuk selanjutnya dilakukan pencegahan.
Salah satu upaya pencegahan yang terbukti efektif adalah setiap masyarakat yang beraktifitas di luar rumah memakai masker kain, sehingga tidak akan tertular dan menularkan. Pemakaian masker kain akan sangat efektif dalam mencegah penularan di masyarakat, selain tentunya pencegahan lainnya, seperti kebiasaan cuci tangan, jaga jarak fisik 2 meter, hindari kerumunan atau keramaian, memakai masker kain dan lebih banyak kegiatan di rumah.
Pada tingkat global, organisasi kesehatan dunia (WHO) telah meminta para ahli Pandemi atau Global Health Security untuk menyusun strategi pencegahan dan penanganan pandemi.
Strategi utama pandemi COVID-19 saat ini adalah Test Trace Treat & Isolate, plus Prevention personal hygiene and social or physical distancing-- tidak ketinggalan strategi Risk Communication. Adalah sangat riskan dan berbahaya ketika strategi yang disusun untuk merespon pandemi COVID-19 dengan mengandalkan pada asumsi semata dan tidak didukung riset ilmiah yang valid serta menyebabkan masyarakat lalai terhadap upaya pencegahan.
Pemilihan strategi pandemi seperti itu harus dihindari untuk mencegah banyaknya korban kesakitan dan kematian yang mungkin timbul. Yang harus dilakukan pemerintah dan masyarakat adalah strategi yang sudah terbukti efektif baik secara teori penanganan pandemi maupun fakta di negara lain yang berhasil menekan kurva epideminya. Idealnya, setiap negara memiliki ahli pandemi yang akan menyusun strategi yang efektif sesuai perkembangan pandemi itu sendiri. Rekomendasi ahli virus, epidemiolog dan klinisi akan menjadi dasar dalam seorang ahli pandemi menyusun strategi. Pada situasi aman, tidak ada pandemi, seorang ahli pandemi atau global health security akan membantu negara menyusun preparedness plan yang seusai dengan kondisi dan sumber daya negara dan terus secara aktif monitoring potensi ancaman kesehatan baik nasional maupun global.
Adapun jika masyarakat memiliki kebiasaan berjemur, makan makanan sehat bergizi yang dipercaya meningkatkan daya tahan tubuh dipersilahkan untuk dilakukan, yang terpenting disadari bahwa ini bersifat pelengkap dan harus disertai pencegahan yang lebih utama.
Faktor Penghambat
Faktor yang dapat menghambat keberhasilan pengendalian COVID-19 adalah sikap penyangkalan dan meremehkan, baik dari tokoh maupun masyarakatnya.
Karena dua hal ini akan membuat suatu negara kehilangan waktu berharga untuk bersiap menghadapi puncak kasus. Dan satu hal yang harus diingat dalam menghadapi pandemi eksponensial seperti COVID-19 adalah faktor waktu.
Fakta membuktikan, bagaimana faktor waktu dalam merespon pandemi COVID-19 sangat vital. Amerika Serikat dan Korea Selatan telah melaporkan kasus pertama mereka dalam waktu bersamaan (19 januari 2020).
Respons Korea begitu cepat melakukan tes masif, tracing kasus dan isolasi serta beragam intervensi lain, termasuk membiasakan masyarakat memakai masker.
Bagaimana respons pemerintah Amerika di awal pandemi? Penyangkalan dan menganggap remeh adalah respons pertama dan berlangsung lebih dari 2 bulan.
Selain itu, sejak sekitar empat tahun lalu, kehadiran para ahli pandemi atau global health Security dalam memberikan rekomendasi terkait kemanan kesehatan global dan nasional sudah dihilangkan.
Akibatnya? Amerika yang menduduki rangking teratas dalam Global Health Security index yang bisa diartikan sebagai negara paling siap terhadap pandemi, kenyataannya saat ini menjadi negara terdampak paling parah oleh Covid-19, dengan kasus konfirmasi COVID-19 terbanyak, yaitu lebih dari 330.000 kasus dan 9.516 kematian.
Padahal sebelumnya, pemimpin AS telah mengklaim bahwa pandemi COVID-19 akan berlalu seiring suhu yang makin menghangat (panas). Namun, sebagaimana telah juga diperingatkan oleh para ahli pandemi, ramalan ini tidak terbukti.
Belajar dari perjalan tiga bulan lebih pandemi COVID-19, kita melihat pentingnya respons aktif dan cepat serta belajar pengalaman keberhasilan pengelolaan pandemi COVID-19 di berbagai negara.
Selain itu, kita juga melihat bahwa keberhasilan penanganan pandemi COVID-19, tidak dipengaruhi oleh kemajuan suatu negara, namun terutama ditentukan oleh kepatuhan terhadap strategi test, trace, treat isolate plus upaya preventif yang dilakukan dengan kolaborasi dan sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat.
