Menikmati Kepingan Masa Lalu di Prancis Selatan

Just an ordinary person who loves the sky too much and befriends with the wind.
Tulisan dari Dieny Maya Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Siapa yang tidak mengenal kota Paris? Kota yang terkenal dengan keromantisannya dan menjadi salah satu tujuan wisata utama di dunia. Namun Paris bukanlah satu-satunya kota yang indah di negara penghasil anggur ini. Perancis terkenal dengan peninggalan bersejarah yang tersebar di segala penjuru negeri, tidak terkecuali di bagian selatan. Apabila Anda pecinta sejarah dan memiliki kesempatan ke Paris, lalu memiliki waktu luang setidaknya 5 hari, Anda dapat mencoba perjalanan ke Perancis Selatan dengan Itinerary Paris – Marseille – Les Baux de Provence – Avignon – Nîmes – Aigues-Mortes – Arles – Marseille – Paris untuk sekadar menikmati kepingan masa lalu.
Sebagai awal perjalanan dari Paris ke Marseille dengan menggunakan kereta cepat atau Train à Grande Vitesse (TGV) yang berangkat dari Gare de Lyon, Paris, menuju Gare de St. Charles, Marseille. Harga tiket bervariasi tergantung hari dan waktu keberangkatan, rata-rata berkisar antara 50 € hingga 90 €.
Namun, apabila membeli dari jauh-jauh hari keberangkatan, akan mendapatkan harga promo bisa mencapai hanya 25 €. Tiket sebaiknya tidak dibeli di stasiun, tetapi melalui online yang disediakan oleh berbagai situs perjalanan, seperti https://en.oui.sncf/en/tgv/route/paris/marseille atau www.raileurope-asean.com, biasanya tiket yang dibeli pp akan lebih murah. Perjalanan dari Paris ke Marseille dengan TGV memakan waktu 3 hingga 3,5 jam.
1. Marseille
Keterangan: Kota Marseille (Sumber: koleksi pribadi)
Marseille adalah kota dengan sejarah yang kompleks. Didirikan oleh kaum Phoceans dari kota Yunani “Phocea” pada tahun 600 SM dan merupakan salah satu kota tertua di Eropa. Sebagai kota pelabuhan yang menjadi penghubung antara benua Afrika dan Eropa, Marseille adalah sebuah melting pot dengan penduduk yang memiliki etnis dan budaya yang berbeda-beda. Mulai bangsa Comoro dari Afrika; magribi dari negara-negara magribi, seperti Aljazair, Tunisia, dan Maroko; hingga Italia dan Spanyol yang berimigrasi saat Perang Dunia Kedua.
-Le Vieux Port (Old Harbour)
Anda dapat melihat pasar ikan di pagi hari atau sekedar duduk-duduk di kala senja, terutama saat musim panas adalah pemandangan yang tak terlupakan. Vieux Port adalah titik utama dari obyek wisata di kota Marseille. Dari sini terdapat kereta wisata yang dapat membawa Anda keliling kota Marseille dan juga merupakan tempat untuk naik kapal boat apabila ingin ke Chateau d’If dan Les Friouls.
Keterangan: Le Vieux Port pada malam hari dengan Notre Dame de la Garde di atas bukit (Sumber: koleksi pribadi)
-Le Panier
Area tertua di Marseille terletak tepat di sebelah Vieux Port. Di tengah-tengah area ini terdapat sebuah monumen tua, Vielle Charité. Anda bisa berjalan-jalan menikmati toko-toko yang menjual kerajinan tangan, sabun Marseille yang terkenal, serta bangunan-bangunan tua.
-Notre Dame de la Garde
Sebuah gereja besar yang terletak di atas bukit dan memberikan salah satu pemandangan terindah dari kota Marseille. Untuk mencapainya Anda dapat menggunakan kereta wisata dari Vieux Port dan turun di sana untuk melihat-lihat lalu menggunakan kereta wisata yang berikutnya untuk kembali.
-La Corniche
Perjalanan di sisi pantai yang memperlihatkan keindahan pemandangan laut Mediterania. Anda dapat melihat Chateau d’If dari jauh di sebelah selatan, Les Calanques di sebelah timur. Vallon des Auffes, sebuah pelabuhan kecil di bawah jembatan wajib Anda singgahi untuk berfoto, karena pemandangannya seperti dalam sebuah lukisan.
Keterangan: Vallon des Auffes (Sumber: koleksi pribadi)
-Stade Velodrome
Rumah dari tim sepak bola Olympique de Marseille (OM) yang merupakan kebanggaan penduduk Marseille. Kecintaan warga Marseille terhadap sepak bola tidak kalah dengan orang-orang Italia atau Inggris. Euforia pertandingan sepak bola tidak hanya dirasakan dalam stadion, tetapi juga di kafe-kafe seluruh kota Marseille.
Keterangan: Stade Velodrome (Sumber: OM.net)
-Château di’If
Terletak di pulau kecil dan dahulunya digunakan sebagai penjara. Château di’If merupakan setting latar dari novel Alexandre Dumas yang terkenal, The Comte de Monte-Cristo. Untuk tiba di pulau itu hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan menggunakan boat dari Vieux Port. Hanya saja antriannya sangat panjang. Disarankan Anda membeli tiket beberapa jam sebelumnya untuk waktu yang Anda inginkan, lalu sambil menunggu Anda dapat berjalan-jalan atau keliling dengan kereta wisata.
Keterangan: Château di’If (Sumber: Wikipedia.org)
Makanan terkenal khas Marseille adalah la bouillabaisse atau sop ikan. Bouillabaisse yang sesungguhnya pasti berharga mahal. Restoran-restoran yang menyediakan bouillabaisse dengan harga murah tidak lah sama rasanya. Menu lain yang khas Marseille adalah aïoli, yaitu saus bawang putih dan minyak zaitun disediakan bersama sayuran kukus (biasanya wortel, kentang, artichoke dan kacang polong) dan ikan cod.
Transportasi di kota Marseille sangat mudah dengan menggunakan métro (subway) atau bus. Tiket yang dibeli dapat satu kali jalan atau multi-journey tickets dengan 10 kali jalan atau daily ticket (carte journée). Informasi mengenai jadwal dan tiket mudah didapat di stasiun métro atau tourism office. Satu hal yang pasti, hindari penggunaan mobil di dalam kota karena jalan-jalan yang sempit dan sulit mencari parkir.
Untuk perjalanan ke kota-kota berikutnya disarankan dengan menggunakan mobil sewaan agar tidak terlalu banyak membuang waktu. Tidak sulit untuk menemukan tempat penyewaan mobil di kota Marseille dan harganya pun kompetitif.
2. Les Baux de Provence
Perjalanan Marseille – Les Baux-de-Provence memakan waktu berkisar 1 jam dengan mengendarai mobil. Les Baux-de-Provence adalah salah satu desa tercantik Prancis dengan objek wisata sejarah yang menakjubkan. Terletak di bebukitan, diperkirakan tempat ini sudah didiami oleh bangsa Celt sejak 6000 SM.
Sejarah yang paling menarik adalah selama abad pertengahan, Baux-de-Provence merupakan tempat bagi para Lords of Baux dan memerintah secara feodal atas 76 kota dan benteng di Provence, Dauphiné dan Italia. Wilayah kekuasaan tersebut dikenal sebagai “Terres Baussenques” atau Baux lands.
Dengan mengklaim diri sebagai keturunan Magus King Balthazar, dinasti Baux yang ambisius itu menjadikan Star of Bethlehem sebagai lambang kekuatan dan menyebarkan otoritasnya di wilayah Provence. Dinasti kekuasaan lords of Baux berakhir pada tahun 1426 dengan kematian Alix, putri terakhir dinasti Les Baux.
Keterangan: Les Baux-de-Provence (Sumber: ca.france.fr)
Mengunjungi desa Les Baux hanya dapat dengan berjalan kaki, agar dapat menikmati arsitektur sisa-sisa monumen sejarah desa tersebut. Sisa reruntuhan kastil “Citadelle des Baux” berada di atas bukit desa. Untuk menjelajahi reruntuhan tersebut dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Di pintu masuk disediakan juga audio guide dalam bahasa Inggris yang menceritakan sejarah dari kastil tersebut.
3. Avignon
Melanjutkan perjalanan dari Les Baux-de-Provence menuju Avignon memakan waktu sekitar 45 menit. Avignon merupakan kota penuh sejarah abad pertengahan. Pusat kota bersejarahnya, Pope’s Palace, seluruh bangunan episcopal dan jembatan Saint Bénézet berada dalam daftar World Heritage UNESCO.
Keterangan: Palais des Popes (Sumber: en.wikipedia.org)
Avignon terkenal karena merupakan kota tempat para Paus melarikan diri dari Roma yang penuh korupsi pada abad ke-14. Di sinilah dibangun Palais des Popes, yang merupakan bangunan Gothic terbesar di dunia. Kota ini "dihiasi" dengan bangunan dan monumen dari zaman sangat dahulu, kemudian zaman dahulu, hingga zaman sekarang, sehingga menjadikannya seakan kota yang ageless.
Office de tourisme yang terletak di jalan utama menyediakan peta kota, daftar hotel dengan berbagai harga, restoran dan tempat-tempat wisatanya. Kota tersebut berukuran kecil dan sangat mudah untuk berjalan kaki. Perjalanan dengan boat dapat dilakukan di sungai Rhone.
Hal yang harus diperhatikan adalah apabila ada orang atau sekelompok orang yang meminta tanda tangan petisi. Mereka akan mengaku bekerja untuk Palais des Popes atau pemerintah kota Avignon, yang tentu saja tidak benar. Apabila Anda berhenti dan menandatangani petisi, maka mereka akan meminta Anda memberikan uang donasi. Jadi sebaiknya Anda tidak perlu memedulikan mereka dan tetap berjalan saja.
Setengah hari ketiga dapat Anda habiskan di kota Avignon. Dalam perjalanan ke Nîmes, Anda dapat singgah terlebih dahulu di Pont du Gard yang hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja. Pont du Gard adalah sebuah aquaduk kuno Romawi yang dibangun abad ke-1 dan melintasi sungai Gardon, serta terdaftar dalam World Heritage UNESCO.
Keterangan: Pont du Gard (Sumber: france-bubbles-tours.com)
4. Nîmes
Waktu yang dibutuhkan dari Pont du Gard ke Nîmes sekitar 30 menit. Di kota ini Anda dapat mengunjungi Roman Coliseum yang hampir mirip dengan yang di Roma, serta relik-relik peninggalan bangsa Romawi.
Les Arene atau Roman Amphitheatre yang dibangun pada tahun 100 Masehi. Dapat dikunjungi hari-hari biasa, namun di bulan September menjadi tempat diselenggarakannya festival adu banteng oleh matador.
Keterangan: Roman Amphitheatre (Sumber: koleksi pribadi)
Keterangan: Maison Carré, yaitu kuil romawi yang dibangun pada abad pertama (Sumber: youtube.com)
Keterangan: Kuil Diana (Diana's Temple), dewi pemburu bangsa romawi (Sumber: en.wikipedia.com)
Menu khas kota ini disebut “brandade”, yaitu ikan cod yang dipotong-potong dan dicampur dengan mashed potatoes, susu, bawang putih, dan minyak zaitun. Selain itu dapat juga mencoba “Gardiane de taureau”, yaitu semacam risoles dengan daging banteng dan sayuran.
Jika ingin menghemat, Anda dapat mencoba “La Truyes qui Filhe”, yaitu restoran dengan self-services dan menyediakan makanan sederhana. Restorannya sendiri berbentuk tavern antik yang dibangun abad ke-14 dan hanya buka saat makan siang.
5. Aigues-Mortes
Dari Nîmes ke Aigues-Mortes dibutuhkan waktu 45 menit perjalanan dengan mobil. Menurut sejarah, kota ini didirikan oleh Marius Caius pada tahun 102 SM. Raja Louis IX atau Saint Louis membangun kota ini sebagai pelabuhan tempat pemberangkatan tentara perang salib ke-7 pada tahun 1248 dan ke-8 pada tahun 1270.
Saint Louis kemudian membangun banteng di Aigues-Mortes, selain untuk tentaranya juga untuk menguasai produksi garam di daerah tersebut. Antara tahun 1575 hingga 1622, Aigues-Mortes merupakan salah satu tempat pelarian bagi kaum Protestan yang mengakibatkan "Camisard War" di awal abad ke-18 antara kaum Languedoc dan Cévennes.
Keterangan: Pintu Gerbang Kota Aigues-Mortes (Sumber: koleksi pribadi)
6. Arles
Dari Agues-Mortes menuju Arles hanya membutuhkan waktu 45 menit. Di kota ini lah pelukis Belanda terkenal, Vincent Van Gogh, banyak memproduksi karya. Karena letak geografisnya yang strategis, kota ini sudah diduduki oleh bangsa Ligurians pada 800 SM, yang kemudian diikuti oleh bangsa Gaia, Phoenician, dan lalu bangsa Romawi pada tahun 123 SM. Pusat kotanya merupakan World Heritage Site UNESCO dengan bangunan-bangunan peninggalan Romawi menjadi pusat objek wisata.
Keterangan: Roman Amphitheatre yang masih digunakan untuk balapan kuda dan banteng pada musim panas serta pertunjukan banteng pada saat festival ferias. (Sumber: Pinterest)
Keterangan: Roman Theatre yang biasa digunakan untuk pertunjukan musik dan komedi saat musim panas. (Sumber: triphistoric.com)
Keterangan: Baths of Constantine, yaitu tempat pemandian yang didirikan oleh Kaisar Constantine pada awal abad ke-4 (Sumber: triphistoric.com)
Keterangan: Cryptoportiques, sebuah porticos atau lorong kuno di bawah town hall tempat orang-orang Romawi dahulu melakukan bisnis. (Sumber: SpottingHistory.com).
Keterangan: Les Alyscamps, tempat dikuburnya Saint-Genest (Saint Genesius) yang tewas sebagai martir pada tahun 303 Masehi dan Saint-Trophime (Saint Trophimus) bishop pertama di Arles. Tempat ini dilukis oleh Van Gogh pada tahun 1888. (Sumber: travelguide.michelin.com)
Tourist Office kota tersebut juga menawarkan Van Gogh Walking Tour yang memperlihatkan tempat-tempat objek lukisan Van Gogh. Hal lain yang menarik adalah tradisi bullfighting atau adu banteng yang dibawa dari Spanyol pada abad ke-19 masih dilakukan. Tradisi yang disebut corrida ini dilakukan pada dua festival ferias, yaitu saat Paskah dan di bulan September yang disebut Feria du Riz. Sedangkan variasi lain dari adu banteng disebut course camarguaise diadakan sekitar akhir musim semi dan awal musim gugur, Untuk variasi ini, matador tidak membunuh banteng, namun hanya menyematkan bunga mawar di antara dua tanduknya.
Menu khas lokal diantaranya broufade, yaitu beef stew tradisional yang dimakan oleh para pelaut di atas kapal mereka. Selain itu menu daging banteng atau taureau de Camargue banyak disediakan di restoran-restoran kota itu.
7. Aix-en-Provence
Dalam perjalanan pulang menuju Marseille, tidak ada salahnya untuk mampir ke Aix-en-Provence yang menempuh waktu sekitar 1 jam dari Arles. Kota yang didirikan tahun 123 SM oleh Konsul Romawi Sextius Calvinus saat ini merupakan rumah dari tiga universitas, yaitu Université de Provence Aix-Marseille I, Université de la Méditerranée Aix-Marseille II dan Université Paul Cézanne Aix-Marseille III. Aix juga memiliki beberapa sekolah-sekolah kursus untuk bidang seni dan desain serta program studi internasional.
Seperti layaknya kota pelajar, kota ini juga memiliki tempat-tempat makan dan kafe-kafe. Salah satunya brasserie yang terkenal di Cours Mirabeau bernama “Deux Garçons” yang didirikan pada tahun 1792 dan menjadi tempat nongkrong Paul Cézanne, Emile Zola dan Ernest Hemingway.
Keterangan: Cours Mirabeau (Sumber: tripadvisor.com)
Jarak waktu dari Aix-en-Provence ke Marseille adalah 30 menit dengan mobil. Anda bisa beristirahat di Marseille dan mengembalikan mobil sewaan Anda sebelum akhirnya kembali ke Paris dengan menggunakan TGV lagi.
Selamat menikmati kepingan masa lampau!
(Sumber data: dari berbagai sumber)
