Konten dari Pengguna

Cerita Fiksi: Jendela Menuju Dunia Imajinasi dan Empati

Difa Rizky Syawalia Ariyani
Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN
27 September 2025 14:26 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cerita Fiksi: Jendela Menuju Dunia Imajinasi dan Empati
Membaca buku fiksi bukan sekadar hiburan. Ia melatih empati, mengasah imajinasi, serta memperkaya bahasa dan refleksi diri.
Difa Rizky Syawalia Ariyani
Tulisan dari Difa Rizky Syawalia Ariyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik.com
ADVERTISEMENT
Di tengah kesibukan kita yang serba praktis, kapan terakhir kali kita membaca sebuah buku fiksi dan larut dalam ceritanya? Kapan terakhir kali kita ikut merasakan naik turunnya konflik yang dialami para karakter dalam sebuah novel? Kapan terakhir kali kita menemukan buku fiksi yang membuat kita ingin masuk ke dalam dunia imajinernya? Mungkin ada yang menjawab sudah lama, lupa kapan persisnya, atau mungkin ada yang bisa menjawab dengan percaya diri bahwa dia sering membaca buku fiksi, dan baru akhir-akhir ini dia selesai berpetualang di dalam sebuah dunia khayal.
ADVERTISEMENT
Salah satu stigma yang sering muncul di kalangan masyarakat, bahkan sering menjadi perdebatan di kalangan sesama pecinta buku adalah, membaca buku fiksi lebih minim manfaat dibandingkan membaca buku nonfiksi, membaca buku fiksi hanyalah kegiatan untuk membuang waktu dan sekedar kegiatan sampingan. Opini tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Sejatinya, justru di balik halaman-halaman cerita rekaan tersebut, terdapat kekuatan besar yang dapat membentuk cara berimajinasi, berpikir, merasakan, dan memahami dunia.
Banyak sekali manfaat yang dapat kita temukan ketika membaca buku fiksi. Salah satunya adalah melatih empati. Saat membaca buku fiksi, katakanlah novel, tanpa kita sadari kita akan menempatkan posisi sebagai tokoh dalam novel tersebut. Kita akan terlibat dalam konfilk yang dialaminya, bagaimana interaksinya dengan tokoh lain, apa saja yang mempengaruhi kebiasaaan atau karakternya, dan sebagainya. Sehingga tanpa kita sadari, kita membayangkan seperti apa rasanya menjadi tokoh tersebut, membandingkan reaksi yang mereka tampilkan dengan respon kita terhadap kejadian serupa yang pernah kita alami, atau membayangkan apa yang mungkin akan kita lakukan kalau seandainya kita dihadapkan dengan situasi yang sama. Praktik membayangkan diri di posisi orang lain inilah yang menjadi bagian dari melatih empati itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Penelitian yang dilakukan oleh Zahra dan Savitri di tahun 2023 yang bertajuk "Bagaimana Hobi Membaca Fiksi Berperan Terhadap Empati di Kehidupan Nyata?" menunjukkan bahwa keterpaparan terhadap cerita fiksi dan narrative empathy secara simultan berpengaruh terhadap empati yang dimiliki pembaca fiksi sebesar 26,1%. Sedangkan secara parsial, hanya narrative empathy yang memiliki pengaruh terhadap rasa empati. Narrative empathy sendiri merujuk kepada respon kognitif dan emosional individu terhadap karakter atau tokoh. Dengan kata lain, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa bukan jumlah atau seberapa banyak cerita fiksi yang dibaca, melainkan rasa keterlibatan terhadap karakter dan ceritanyalah yang dapat mempengaruhi empati.
Membaca cerita-cerita fiksi juga dapat melatih otak kita dalam berimajinasi dan menjadi stimulus kreativitas. Dunia rekaan yang tercipta di dalam cerita-cerita fiksi membuka kemungkinan untuk membayangkan hal-hal baru, hal-hal yang sebelumnya mungkin belum pernah kita temui di dunia nyata. Melalui cerita fiksi, imajinasi kita menjadi tak terbatas oleh hal-hal yang sifatnya mutlak dan lahiriah saja. Kita dapat menjelajahi dunia baru dan menjajaki kehidupan yang mungkin tidak pernah terbayangkan dalam pikiran kita sebelumnya. Seperti kutipan terkenal dari George R. R. Martin, “A reader lives a thousand lives before he dies . . . The man who never reads lives only one.” Seorang pembaca buku dapat menjelajahi ribuan kehidupan sebelum dia mati, tetapi bagi orang yang tidak pernah membaca, hanya ada satu kehidupan untuknya.
ADVERTISEMENT
Imajinasi yang terlatih seiring membaca cerita fiksi juga dapat memicu kreativitas di dunia nyata. Ketika membaca cerita fiksi, pembaca seringkali secara sadar atau tidak sadar menggunakan imajinasinya untuk memvisualisasikan segala hal yang digambarkan penulis, seperti tokoh, latar, maupun peristiwa. Proses visualisasi mentah ini melatih kemampuan otak untuk berpikir di luar kebiasaan (out of the box), menghasilkan ide-ide baru, dan menemukan solusi inovatif untuk masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, memperbanyak membaca cerita fiksi juga dapat mengasah kemampuan berbahasa dan berpikir secara kritis. Membaca fiksi dapat memperkaya kosakata, gaya bahasa, dan cara bercerita. Melalui cerita fiksi, otak akan terpapar pada beragam kosakata, frasa, dan gaya bahasa yang sehari-hari mungkin jarang digunakan. Aktivitas otak yang terjadi pada saat kita membaca fiksi, seperti memahami alur cerita dan memprediksi apa yang akan terjadi, serupa dengan cara otak dalam menyelesaikan masalah di kehidupan nyata, sehingga aktivitas membaca fiksi itu sendiri diyakini dapat meningkatkan kemampuan otak dalam berpikir kritis dan mencari solusi untuk permasalahan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Cerita fiksi juga sekaligus dapat memberi kita ruang refleksi dan dapat menjadi pelarian sehat dari rutinitas kehidupan sehari-hari. Membaca cerita fiksi dapat menjadi tempat beristirahat dari rutinitas yang melelahkan, memberikan jeda sejenak dari kehidupan di dunia nyata yang penuh dengan tekanan, memberikan kesempatan untuk beristirahat, dan membantu melepaskan ketegangan dari rutinitas. Membaca cerita fiksi juga sekaligus dapat menjadi cermin refleksi yang membantu untuk memahami diri sendiri melalui cerita berbagai tokoh yang terlibat di dalamnya.
Banyak orang beranggapan bahwa membaca buku fiksi hanya sekadar hiburan, berbeda dengan nonfiksi yang dianggap lebih “serius” karena menyajikan fakta dan informasi. Pandangan ini sejatinya perlu diluruskan. Fiksi justru menghadirkan manfaat yang sering kali luput dari perhatian: melatih empati, mengasah imajinasi, serta memperkaya bahasa. Di satu sisi, nonfiksi memang menyajikan pengetahuan yang penting untuk manusia, tetapi fiksi menawarkan pengalaman emosional dan sosial yang tidak kalah penting. Dalam dunia yang semakin kompleks, kemampuan untuk membayangkan sudut pandang orang lain dan berpikir kreatif sama berharganya dengan kemampuan dalam menguasai informasi dan pengetahuan.
ADVERTISEMENT
Pada akhirnya, membaca buku fiksi dapat dikatakan seperti menanam investasi pada diri sendiri. Dari cerita fiksi, kita belajar memahami orang lain, melatih imajinasi, dan menemukan cermin untuk merefleksikan hidup. Dalam rutinitas yang seringkali terasa kaku dan melelahkan, cerita fiksi dapat memberi ruang untuk beristirahat sekaligus memperkaya pengetahuan batiniah. Karena itu, meluangkan waktu untuk membaca beberapa halaman cerita fiksi setiap hari sewajarnya diperlakukan seperti sebuah kebutuhan. Lewat buku fiksi, kita disadarkan bahwa menjadi manusia berarti juga berani berimajinasi dan berempati. Lewat buku fiksi pula, kita belajar untuk melakukan penjelajahan dalam memahami orang lain dan menemukan diri kita sendiri.