Kesehatan Mental: Saat Sunyi pun Perlu Didengar

Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Difa Rizky Syawalia Ariyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sepanjang perjalanan hidup kita, pernahkah kita berpikir ada berapa banyak orang yang telah kita temui? Baik itu hanya singgah sebentar, sekedar berkenalan, atau menetap dalam waktu yang lama? Pernahkah terlintas di benak kita, apa saja yang telah mereka, dan kita semua, lalui, sebelum akhirnya tiba di satu titik di mana kita ditakdirkan bertemu? Terutama untuk orang yang telah menetap lama dalam hidup kita, apakah kita pernah terpikir adakah luka di hatinya yang ia bawa sebelum bertemu kita? Kalau memang begitu, di mana peran kita selanjutnya? Menjadi penyembuh, atau justru menjadi penambah luka?
Setiap orang membawa kisahnya masing-masing, ada yang penuh tawa, ada juga yang bersimbah luka. Namun yang dapat kita pastikan adalah, tidak ada yang bisa mengetahui secara detail dan keseluruhan jalan cerita yang pernah dilalui seseorang selain diri orang tersebut.
Berbicara mengenai luka, luka itu sendiri dapat beragam bentuknya, dari yang terlihat dan kasat mata, hingga yang tidak mudah terlihat, tidak mudah diceritakan, dan tidak mudah ditebak hanya dari tampilan luar yang baik-baik saja. Luka yang tak terlihat inilah yang sering kita kaitkan dengan isu kesehatan mental.
Kesehatan mental menurut WHO adalah kondisi kesejahteraan mental, di mana seseorang mampu menyadari potensi dan bakat yang ada di dalam dirinya, mengatasi tekanan hidup yang normal, bekerja secara produktif, dan memberikan kontribusi kepada komunitasnya. Kesehatan mental seringkali bersifat rapuh, bukan hanya karena berbentuk beban pribadi, tetapi juga kurangnya kepedulian oleh lingkungan sekitar.
Banyak yang menganggap kesehatan mental tidak sepenting kesehatan fisik. Masyarakat sekitar cenderung lebih mudah peduli terhadap kesehatan fisik, dengan cepat merekomendasikan dokter, obat, atau jenis perawatan yang sesuai.
Tetapi sedikit sekali yang berani membicarakan kesehatan mental di ruang terbuka, karena hal seperti ini masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Orang dengan sakit fisik akan dianggap wajar, mungkin dia sedang kelelahan habis bekerja, atau faktor keturunan, atau karena faktor usia.
Banyak “pemakluman” untuk orang dengan sakit fisik. Tapi, ketika orang dengan sakit mental muncul ke permukaan, sekitarnya akan dengan mudah memberikan cap orang gila, orang yang kurang beribadah, kurang bersyukur, kurang bersosialisasi dengan sekitar, dan berbagai stigma negatif lainnya.
Hal ini diperparah dengan kondisi sosial di era teknologi yang semakin mengecilkan interaksi antar manusia. Katakanlah satu keluarga terdiri dari 4 orang, tinggal di rumah yang sama, setiap pagi dan malam bertemu di meja makan yang sama, tetapi orang tua sibuk memantau pekerjaan atau bisnis mereka lewat gawai, anak-anak juga sibuk dengan gawai mereka, entah itu berselancar di dunia maya atau sekedar main game.
Tidak ada interaksi yang bermakna, tidak ada pertanyaan, apa kabar, bagaimana di sekolah hari ini, bagaimana di kantor hari ini, adakah teman yang menyebalkan, adakah yang menyakiti hatimu. Bahkan, bisa jadi, kita lebih tahu kondisi orang yang kita kenal di dunia maya dibandingkan dengan orang yang tinggal serumah dengan kita.
Kontras dengan minimnya interaksi di dunia nyata, era teknologi justru menyebabkan makin masifnya interaksi antar manusia di dunia maya, terutama dengan pesatnya penggunaan media sosial. Jejaring yang memungkinkan semua orang, lintas benua, lintas generasi, dari kalangan sosial apapun, bebas berinteraksi satu sama lain tanpa adanya sekat. Membuat dunia yang kita tempati sekarang seperti terbagi menjadi ruang kaca. Bahkan ketika di dalam kamar tidur, misalnya, yang notabene adalah ruang paling pribadi, kita tetap dapat mengakses dan diakses oleh orang lain di dunia maya, seperti ruang kaca yang bebas memberikan akses ke semua orang untuk melihat ruang pribadi kita dari berbagai sudut pandang.
Masifnya interaksi di dunia maya ini juga menimbulkan ribuan bahkan jutaan komentar yang bisa dilihat oleh seseorang melalui akun media sosialnya. Kita juga bebas meninggalkan komentar apapun, entah itu negatif dan positif, di manapun dan kapanpun selama kita masih memiliki akses internet. Hal ini yang membuat manusia di era sekarang cenderung lupa, bahwa sosok yang kita ajak berinteraksi di dunia maya juga adalah seorang manusia. Kita dengan bebas meninggalkan komentar negatif, tanpa sedikitpun menyadari sosok yang menjadi target komentar kita juga adalah manusia, dia anak dari orangtuanya, orang tercinta dari pasangannya, atau saudara terkasih yang dimiliki seseorang lainnya.
Sebuah komentar kecil, baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya, bisa menjadi jarum yang menambah perih luka yang telah dimiliki seseorang. Kita tidak pernah tahu dampaknya seperti apa, selama ego pribadi kita telah terpuaskan dengan memberikan komentar apapun, kita tidak pernah peduli, dampak yang ditimbulkan orang seperti apa. Kita menjadi makhluk yang acuh tak acuh, makhluk individualistik yang mementingkan ego sendiri.
Seperti yang telah dipelajari umat manusia, segala sesuatu, terutama yang bersifat negatif, yang terjadi di dunia ini pasti ada counter-nya, pasti memiliki alat atau tindakan lain yang dapat menangkal atau menetralisir pengaruh yang ditimbulkan, termasuk bertambah parahnya kondisi mental di era media sosial akibat arus komentar yang tak terbendung. Hal itu dapat kita mulai dengan hal yang paling sederhana. Sebagai contoh, memulai interaksi dengan sapaan sederhana seperti apa kabar.
Memulai interaksi dengan hal-hal sederhana seringkali dianggap remeh, padahal dampaknya bisa jadi sangat besar. Sapaan tulus seperti apa kabar, atau bagaimana kabarmu hari ini, adakah yang ingin kau ceritakan, atau pernyataan sederhana seperti kalau ada apa-apa, cerita aja ya, bisa memberi ruang bagi seseorang untuk merasa diakui keberadaannya. Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut bisa menjadi pintu kecil yang membuat seseorang merasa tidak sendirian dan dihargai keberadannya.
Interaksi sederhana juga bukan hanya soal bertanya, tetapi juga soal bagaimana kita mendengarkan secara aktif apa yang ingin disampaikan seseorang. Dalam bukunya yang berjudul You’re Not Listening: What You’re Missing and Why It Matters, Kate Murphy mengungkapkan bahwa memiliki keterampilan untuk mendengarkan secara aktif penting untuk dimiliki, karena dapat meningkatkan pemahaman, koneksi antarmanusia, dan kebahagiaan baik bagi yang didengarkan maupun yang mendengarkan.
Kate Murphy juga menyoroti bagaimana teknologi dan dunia virtual memperburuk masalah mendengarkan, membuat kita merasa lebih kesepian di tengah dunia yang begitu ramai. Kurangnya kemampuan mendengarkan secara tulus juga dapat menyebabkan kesalahpahaman, isolasi, dan penurunan toleransi antarmanusia.
Mendengarkan secara aktif adalah bagian dari seni mendengarkan itu sendiri. Banyak orang bisa bertanya, tetapi sedikit di antaranya yang benar-benar mau mendengarkan. Padahal, seringkali seseorang yang bercerita tidak ingin mencari solusi atau jawaban instan, ia terkadang hanya ingin didengarkan, ia hanya perlu untuk merasa didengar tanpa dihakimi, tanpa dibanding-bandingkan, tanpa membuat dia merasa bersalah telah berbagi bebannya dengan orang lain.
Mendengarkan secara aktif berarti mendengarkan dengan penuh perhatian, berarti mendengarkan dan memberikan ruang bagi orang lain untuk bercerita tanpa harus kita potong, tanpa buru-buru menilai, dan tanpa langsung menimpali dengan nasihat. Kehadiran yang tulus, disertai telinga yang siap menampung keluh kesah, bisa jauh lebih menyembuhkan daripada ribuan kata motivasi.
Seni mendengarkan juga berarti berempati, mencoba menempatkan diri di posisi orang yang sedang bercerita. Mencoba memahami apa-apa yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata, mencoba mendengarkan apa yang tidak terutarakan oleh lisan. Hal ini tidak bisa terwujud apabila si pendengar melakukannya setengah hati, sambil mendengarkan sambil membuka gawai, atau sambil mendengarkan sambil membanding-bandingkan dengan ceritanya sendiri.
Mendengarkan dengan aktif berarti menjadikan si pencerita sebagai pusat perhatian, dan sekaligus memberikan ruang aman baginya untuk bercerita dan berbagi beban. Dengan begitu, orang yang sedang berjuang merasa dihargai, bukan sekadar diberi label.
Maka, selain rajin menyapa dan menyakan kabar, mari kita sama-sama belajar untuk benar-benar hadir ketika orang lain berbicara atau berbagi keluh kesah. Karena komunikasi bukan hanya perkara apa yang kita ucapkan kepada orang lain, tapi juga mengenai bagaimana kita mampu mendengarkan secara aktif.
Pada akhirnya, kita mungkin tidak benar-benar bisa menyembuhkan luka yang dibawa orang lain. Tetapi dengan menyapa, menanyakan kabar, dan mendengarkan dengan tulus, kita bisa membantu orang tersebut meringankan luka yang dibawanya, kita bisa membantunya menyembuhkan diri sendiri, merawat luka, dan menyadari bahwa dirinya layak untuk dihargai dan dicintai. Dan untuk siapa pun yang sedang berjuang, ingatlah bahwa kamu tidak pernah sepenuhnya sendiri. Kamu selalu punya dirimu sendiri yang pantas dicintai, dihargai, dan dirawat dengan penuh belas kasih.
