Remaja Putri Sering Lemas dan Pusing? Kenali Tanda dan Risiko Anemia

Mahasiswa Kebidanan Poltekkes Kemenkes Jakarta III. Menulis catatan kecil seputar dunia kampus dan kesehatan.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Difa ayu Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anemia pada remaja putri merupakan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama ketika tubuh sering terasa lemas, kepala pusing, atau sulit berkonsentrasi. Keluhan tersebut dapat menjadi tanda anemia, meskipun tidak selalu disebabkan oleh kondisi tersebut. Karena itu, penting untuk mengenali faktor risiko, memahami gejalanya, dan mengetahui cara mencegah anemia sejak dini.
Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal. Hemoglobin berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh agar organ dan jaringan dapat bekerja dengan baik. Ketika kadar hemoglobin terlalu rendah, seseorang dapat mengalami berbagai keluhan, mulai dari mudah lelah hingga sulit berkonsentrasi.
Masalah ini penting untuk diperhatikan, terutama pada remaja putri. Masa remaja merupakan periode pertumbuhan yang membutuhkan asupan zat gizi yang cukup. Selain itu, menstruasi setiap bulan dapat meningkatkan risiko kekurangan zat besi, salah satu penyebab anemia.
Sayangnya, keluhan anemia terkadang dianggap sebagai hal biasa. Padahal, mengenali faktor risiko dan melakukan pencegahan sejak dini merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan remaja.
Mengapa Remaja Putri Rentan Mengalami Anemia?
Remaja putri memiliki beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko anemia. Salah satunya adalah menstruasi, terutama apabila perdarahan yang terjadi cukup banyak. Darah yang keluar selama menstruasi menyebabkan tubuh kehilangan zat besi, yang dibutuhkan untuk membentuk hemoglobin.
Selain menstruasi, pola makan juga berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan zat besi. Kebiasaan melewatkan waktu makan, menjalani diet ketat tanpa memperhatikan kebutuhan gizi, atau kurang mengonsumsi makanan bergizi seimbang dapat meningkatkan risiko kekurangan zat gizi.
Pada masa pertumbuhan, kebutuhan zat gizi juga perlu diperhatikan agar tubuh dapat berkembang dengan baik. Oleh karena itu, remaja putri perlu membiasakan pola makan yang seimbang dan tidak hanya berfokus pada jumlah makanan yang dikonsumsi.
Meskipun kekurangan zat besi merupakan salah satu penyebab utama anemia, kondisi ini tidak selalu disebabkan oleh kekurangan zat besi saja. Anemia juga dapat berkaitan dengan kekurangan zat gizi lain, penyakit tertentu, infeksi, maupun faktor keturunan. Karena itu, penyebab anemia perlu dinilai berdasarkan kondisi masing-masing individu.
Kenali Gejala Anemia yang Perlu Diperhatikan
Anemia tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal. Namun, ada beberapa keluhan yang perlu diperhatikan, di antaranya:
Tubuh terasa lemas dan mudah lelah.
Kepala terasa pusing.
Kulit tampak lebih pucat.
Sulit berkonsentrasi saat belajar atau beraktivitas.
Jantung terasa berdebar lebih cepat dari biasanya.
Napas terasa pendek, terutama jika anemia cukup berat.
Gejala tersebut tidak selalu menandakan anemia karena bisa disebabkan oleh kondisi kesehatan lainnya. Oleh sebab itu, seseorang tidak dapat memastikan dirinya mengalami anemia hanya berdasarkan keluhan yang dirasakan.
Jika keluhan sering muncul, berlangsung terus-menerus, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Pemeriksaan kadar hemoglobin dapat membantu tenaga kesehatan menilai apakah seseorang mengalami anemia.
Apabila muncul sesak napas berat, nyeri dada, atau pingsan, segera cari pertolongan medis.
Bagaimana Cara Mencegah Anemia pada Remaja Putri?
Pencegahan anemia dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Tidak perlu menunggu tubuh terasa lemas untuk mulai memperhatikan kebutuhan gizi.
1. Mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi
Zat besi dibutuhkan tubuh untuk membentuk hemoglobin. Beberapa sumber zat besi antara lain daging, ikan, ayam, dan kacang-kacangan. Sayuran hijau juga dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Selain zat besi, tubuh membutuhkan zat gizi lain, seperti protein, folat, dan vitamin B12, untuk mendukung pembentukan sel darah merah.
2. Mengonsumsi buah yang membantu penyerapan zat besi
Vitamin C membantu penyerapan zat besi, terutama yang berasal dari makanan nabati. Buah seperti jeruk, jambu biji, dan pepaya dapat menjadi pilihan untuk melengkapi makanan sehari-hari.
Mengombinasikan sumber zat besi dengan makanan yang mengandung vitamin C merupakan salah satu cara sederhana untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi.
3. Tidak melewatkan waktu makan
Sarapan dan makan secara teratur dapat membantu memenuhi kebutuhan energi serta zat gizi. Remaja juga sebaiknya menghindari diet ketat yang tidak memperhatikan kecukupan nutrisi.
Pola makan yang beragam dan seimbang lebih dianjurkan daripada hanya mengandalkan satu jenis makanan.
4. Mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran
Tablet tambah darah (TTD) merupakan salah satu upaya pencegahan anemia pada remaja putri. Program Kementerian Kesehatan RI menganjurkan konsumsi satu tablet setiap minggu bagi remaja putri sebagai bagian dari pencegahan anemia.
Pelaksanaannya perlu mengikuti program kesehatan yang berlaku dan petunjuk tenaga kesehatan. Jika mengalami keluhan setelah mengonsumsi tablet tambah darah, konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan saran yang tepat.
Penting dipahami bahwa tablet tambah darah merupakan langkah pencegahan, bukan pengganti pemeriksaan dan penanganan apabila seseorang sudah mengalami anemia.
Mengapa Pencegahan Anemia Perlu Dimulai Sejak Remaja?
Anemia dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari. Ketika tubuh mudah lelah dan sulit berkonsentrasi, kegiatan belajar maupun aktivitas lainnya bisa terasa lebih berat.
Pencegahan anemia sejak remaja juga penting karena kesehatan pada masa ini berkaitan dengan kesehatan pada tahap kehidupan berikutnya, termasuk ketika memasuki masa kehamilan.
Dalam publikasi Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI pada 16 Maret 2026, hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan bahwa 54,8 persen remaja putri belum pernah mendapatkan tablet tambah darah. Publikasi tersebut juga menyoroti kurangnya pengetahuan mengenai manfaat tablet tambah darah sebagai salah satu tantangan dalam pencegahan anemia.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pencegahan anemia tidak cukup hanya dengan menyediakan tablet tambah darah. Edukasi mengenai manfaatnya, pemenuhan gizi, dan kebiasaan menjaga kesehatan juga perlu dilakukan agar remaja memahami pentingnya pencegahan sejak dini.
Menjaga Kesehatan Dimulai dari Kebiasaan Sederhana
Anemia pada remaja putri merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Namun, risikonya dapat dikurangi melalui langkah pencegahan yang tepat.
Membiasakan pola makan bergizi seimbang, memenuhi kebutuhan zat besi, mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran, dan melakukan pemeriksaan ketika mengalami keluhan merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Remaja juga perlu memahami bahwa tubuh yang mudah lelah atau sering pusing tidak selalu disebabkan oleh aktivitas yang padat. Jika keluhan terjadi berulang kali, jangan ragu untuk mencari bantuan tenaga kesehatan.
Menjaga kesehatan sejak remaja bukan hanya tentang mengatasi keluhan yang muncul, melainkan juga membangun kebiasaan baik untuk masa depan. Dengan informasi yang benar dan kesadaran untuk melakukan pencegahan, remaja putri dapat mengambil langkah yang lebih baik dalam menjaga kesehatannya.
