Konten dari Pengguna

Antara ‘di’ dan ‘ke’ : Kajian Kesalahan Umum Kata Depan dan Kata Sambung

Siti Nur Hodijah

Siti Nur Hodijah

Mahasiswa Strata 1 Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah A. R Fachruddin Tangerang yang berkuliah sambil bekerja.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Nur Hodijah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Proses pembuatan karya ilmiah (Sumber: Siti Nur Hodijah)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Proses pembuatan karya ilmiah (Sumber: Siti Nur Hodijah)

Kata kunci: kata depan, kata sambung, kesalahan berbahasa, bahasa Indonesia

Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan salah satu indikator kemampuan berbahasa seseorang dan dapat memberikan kewibawaan bagi penuturnya, khususnya dalam penulisan karya ilmiah (Shinta, dkk. 2022). Namun dalam praktiknya masih banyak ditemukan kesalahan dan kekeliruan dalam penggunaan kata sambung, serta kata depan terutama kata di dan ke. Artikel ini dibuat dengan tujuan untuk mengkaji bentuk kesalahan umum yang sering terjadi, faktor penyebabnya serta cara memperbaikinya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi daftar Pustaka. Hasil kajian ini menunjukan kesalahan yang sering terjadi umumnya disebabkan kurangnya pemahaman terhadap kaidah ejaan serta peengaruh ragam Bahasa lisan yang tidak memperhatikan ejaan. Oleh karena itu, perlu peningkatan kesadaran berbahasa melalui pembelajaran yang sitematis.

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa resmi memiliki kaidah yang mengatur penggunaan kata, termasuk salah satunya kata depan dan kata sambung. Kata depan seperti di dan ke berfungsi untuk menunjukan tempat atau arah, sedangkan kata sambung digunakan untuk menghubungkan antarunsur dalam kalimat. Dalam penulisan ilmiah, ketepatan penggunaan kedua unsur tersebut menjadi sangat penting karena berpengaruh pada kejelasan makna (BPPB 2016).

Walau demikian, kesalahan dalam penggunaan kata depan dan kata sambung masih sering ditemukan pada tulisan siswa dan mahasiswa. Kesalahan ini sering ditemukan tidak hanya pada tulisan nonformal, tetapi juga dalam karya ilmiah. Hal ini menunjukan bahwa pemahaman terhadap kaidah kebahasaan masih belum sepenuhnya dikuasai (Murtiningsih 2013).

Kata depan di dan ke seharusnya ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya apabila menunjukan suatu tempat atau arah (EYD). Misalnya, di kampus, ke kantor. Sebaliknya, apabila berfungsi sebagai imbuhan, maka penulisannya harus diikuti kata berikutnya, contohnya dikerjakan, dimakan.

Dalam praktiknya, Kesalahan yang sering terjadi adalah penulisan yang tidak sesuai dengan kaidah, seperti di kantor menjadi dikantor dan dimakan yang dipisah menjadi di makan (Dea Suryana, 2017). Beberapa penelitian menunjukan bahwa kesalahan ini cukup dominan dan disebabkan oleh ketidakmampuan membedakan fungsi kata depan dan imbuhan. Selain itu, kurangnya pemahaman terhadap aturan ejaan juga menjadi faktor utama terjadinya kesalahan tersebut.

Kata sambung berfungsi menghubungkan kata, frasa atau klausa dalam kalimat. Namun, penggunaanya sering tidak sesuai, misalnya penggunaan kata sambung di awal kalimat tanpa memperhatikan hubungan logis antarbagian kalimat (Kridalaksana & Harimurti, 2008). Contohnya, penggunaan kata karena tanpa induk kalimat seperti Karena laptop rusak seharusnya Saya tidak bisa mengerjakan tugas karena laptop saya rusak.

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah penggunaan kata yang sebenarnya bukan kata sambung, tetapi digunakan seolah-olah kata penghubung, seperti penggunaan kata di mana dalam kalimat Saya membaca di mana isinya sangat menarik seharusnya Saya membaca buku yang isinya sangat menarik. Hal ini menyebabkan kalimat menjadi tidak efektif, tidak sesuai dengan makna sesungguhnya dan menyimpang dari kaidah ejaan bahasa Indonesia yang benar (Alwi dkk 2010).

Fenomena ini tidak terjadi secara kebetulan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan penggunaan kata depan kata sambung, yaitu kurangnya pemahaman kaidah kebahasaan, banyak penulis yang belum memahami perbedaan fungsi kata depan dan imbuhan secara jelas (Sukmaratri 2025).

Faktor lain yang mempengaruhi adalah kuatnya penggunaan bahasa lisan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam komunikasi informal, ketepatan kaidah Bahasa sering kali diabaikan karena yang diutamakan adalah kelancaran dalam penyampaian pesan. Kebiasaan ini kemudian terbawa ke dalam bahasa tulis, sehingga penulis cenderung menggunakan bentuk kata yang tidak sesuai dengan aturan bahasa baku.

Selain itu, kurangnya ketelitian dalam proses pembuatan karya ilmiah juga menjadi penyebab yang tidak kalah penting. Banyak penulis yang tidak melakukan pemeriksaan ulang terhadapa tulisannya sebelum mempublikasikannya ke publik (Chairani, dkk 2024). Akibatnya, Kesalahan sederhana yang dapat diperbaiki justru terlihat dalam tulisan. Minimnya Latihan menulis dengan menggunakan Bahasa baku juga turut memperparah kondisi ini. Tanpa Latihan yang cukup, kemampuan menulis yang baik dan benar sulit untuk berkembang.

Kesalahan penggunaan kata depan dan kata sambung dapat menyebabkan terjadinya ambiguitas atau ketidakjelasan makna. Penggunaan kata depan ke dan di yang tidak sesuai, dapat mengaburkan makna kalimat. Demikian pula, penggunaan kata sambung yang tidak tepat dapat menyebabkan hubungan antarbagian kalimat menjadi tidak logis. Akibatnya pembaca harus menafsirkan maksud penulisa yang berujung kesalahpahaman.

Kesalahan berbahasa juga dapat menurunkan kualitas tulisan. Dalam karya ilmiah, ketepatan Bahasa merupakan salah satu indikator utama yang menentukan mutu tulisan. Tulisan yang mengandung banyak kesalahan akan terlihat kurang rapi, tidak sistematis dan kurang meyakinkan. Hal ini dapat mengurangi nilai akademik serta kredibilitas penulis dimata pembaca (Setyowati, dkk 2022).

Ilustrasi: Proses pembuatan karya ilmiah (Sumber: Siti Nur Hodijah)

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi kesalahan penggunaan kata depan dan kata sambung. Perbaikannya tidak hanya pada tulisan, tetapi juga pada cara belajar dan kebiasaan berbahasa yang dilakukan secara menyeluruh agar kualitas berbahasa, khususnya dalam penulisan ilmiah dapat meningkat.

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah meningkatkan pemahaman terhadap kaidah bahasa Indonesia. Penilis ataupun mahasiswa perlu mempelajari Kembali aturan ejaan dan tata bahasa. Pemahaman yang baik akan membantu dalam membedakan kata depan dan imbuhan, serta kata sambung yang sesuai dengan hubungan logis dalam suatu kalimat.

Perubahan kebiasaan berbahasa dalah kehidupan sehari-hari, Dengan membiasakan diri menggunakan Bahasa baku terutama dalam situasi formal. Kesadaran untuk membedakan antara ragam bahasa lisan dan tulis akan membantu mengurangi kesalahan yang sering terjadi.

Perbaikan dapat dilakukan melalui peningkatan ketelitian dalam menulis. Lakukan pembacaan dan penyuntingan dalam tulisan sebelum dipublikasikan. Proses ini penting untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan yang mungkin terlewat, baik dalam penggunaan kata depan ataupun kata sambung.

Latihan menulis secara rutin agara penulis terbiasa menyusun kalimat efektif dan menggunakan kaidah bahasa yang tepat. Terakhir adalah dengan menggunakan sumber referensi yang tepat dan merujuk pada pedoman resmi bahasa Indonesia serta membaca karya ilmiah yang telah memenuhi standar kebahasaan (Alwi, dkk 2010).

Kesalahan kata depan di dan ke serta kata sambung masih sering terjadi dalam penulisan bahasa Indonesia. Kesalahan tersebut umumnya disebabkan kurangnya pemahaman terhadap kaidah ejaan dan pengaruh bahasa lisan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembelajaran yang lebih intensif serta pembiasaan penggunaan Bahasa baku dalam penulisan ilmiah.

Penulis disarankan unruk lebih memperhatikan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku serta melakukan proses penyuntingan sebelum mempublikasikan tulisan. Selain itu, pendidik juga perlu memberikan penekanan khusus pada materi ejaan dan tata Bahasa.

Sumber referensi

Alwi, Hasan, dkk., Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2010.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, Jakarta: Kemdikbud.

Chairani, N. A., dkk. (2024). Analisis Kesalahan Penulisan Kata Depan Di dan Ke pada Skripsi Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Tambusai.

Kemdikdasmen. (2022) Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD) Edisi V. kemdikdasmen.go.id. (diakses 23 April 2026),

Kholidah Umi, dkk. (2021). Pemakaian Kata Penghubung dan Kata Depan yang Tidak Tepat dalam Bahasa Indonesiadi SMA Muhammadiyah Pringsewu. Jurnal Pengabdian Masyarakat.

Kridalaksana, Harimurti, Kamus Linguistik, Jakarta: Gramedia, 2008.

Murtiningsih. (2013). Kesalahan Berbahasa Indonesia Mahasiswa S-1 PGSD. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan.

Setyowati, S. A., dkk. (2022). Analisis Penggunaan Kata Depan dalam Cerpen. Jurnal Majemuk.

Shinta, dkk. (2022). Analisi Penggunaan Kata Depan “di”, “pada”, “ke”, dan “kepada” pada Cerpen Berjudul “Anak Kebanggaan” Karya A. A. Navis. Jurnal Majemuk.

Sukmaratri, W. (2025). Kesalahan Penggunaan Awalan di- dan ke- dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jurnal Pendas.

Suryana, D. (2017). Analisis Kesalahan Penggunaan Kata Depan di dan ke. Jurnal Online Mahasiswa.

Penulis: Siti Nur Hodijah, Mahasiswa Strata 1 Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah A.R Fachruddin Tangerang.