Konten dari Pengguna

Anak Muda di Era AI: Jadi Pengguna atau Pencipta?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Diki Wahyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat menggunakan bantuan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat menggunakan bantuan AI

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagi anak muda, AI bukan lagi sekedar teknologi yang terdengar sangat modern, melainkan sudah menjadi bagian dari aktivitas belajar, bekerja, membuat konten, mencari informasi, hingga mengembangkan berbagai ide kreatif. Berbagai aplikasi berbasis AI dapat membantu membuat tulisan, menghasilkan gambar, mengolah data, menerjemahkan bahasa, bahkan membantu seseorang menemukan ide dalam waktu yang relatif singkat.

Kehadiran AI tentu memberikan banyak peluang bagi generasi muda. Dengan kemampuan yang tepat, teknologi ini dapat menjadi alat untuk meningkatkan kreativitas, produktivitas, dan keterampilan. Namun, di sisi lain, kemudahan yang ditawarkan AI juga dapat membuat seseorang terlalu bergantung pada teknologi dan hanya menjadi pengguna tanpa memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja atau bagaimana menciptakan sesuatu dengannya.

KONDISI ANAK MUDA DAN AI SAAT INI BERDASARKAN DATA YANG ADA

Ilustrasi dibuat menggunakan bantuan AI

1. AI generatif sudah banyak digunakan dalam pendidikan

Survei terhadap 395 pelajar berusia 13–25 tahun di Prancis dan Italia menemukan bahwa penggunaan large language model seperti ChatGPT sudah tersebar di berbagai kelompok usia dan bidang studi. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa sebagian pelajar belum selalu melakukan pengecekan dan evaluasi kritis terhadap jawaban AI.

2. AI bukan hanya untuk mencari jawaban

AI generatif dapat menghasilkan berbagai jenis konten, termasuk teks, gambar, audio, video, kode, dan simulasi. Artinya, anak muda dapat menggunakan AI bukan sekadar sebagai mesin pencari informasi, tetapi juga sebagai alat bantu berkarya.

3. Ada peluang sekaligus risiko dalam penggunaan AI oleh pelajar

Penelitian terhadap 399 mahasiswa sarjana dan pascasarjana di Hong Kong menemukan bahwa mahasiswa melihat manfaat GenAI untuk pembelajaran yang lebih personal, brainstorming, menulis, riset, dan analisis. Namun, mereka juga mengkhawatirkan akurasi informasi, privasi, etika, serta dampaknya terhadap perkembangan diri dan masa depan karier.

4. Kemampuan AI akan semakin penting di dunia kerja

World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menempatkan AI dan big data di antara kelompok keterampilan yang pertumbuhannya paling cepat dibutuhkan hingga 2030. Keterampilan manusia seperti analytical thinking dan creative thinking juga tetap penting.

5. Perubahan pekerjaan tidak sesederhana “AI menggantikan manusia”

Laporan WEF yang dikutip berbagai sumber memperkirakan hingga 2030 akan ada pekerjaan yang hilang karena perubahan teknologi, tetapi juga pekerjaan baru yang tercipta. Salah satu angka yang sering dikutip dari Future of Jobs Report 2025 adalah sekitar 170 juta pekerjaan tercipta dan 92 juta terdampak/tergeser, sehingga perubahan bersihnya diperkirakan positif. Angka ini adalah proyeksi, bukan jumlah pekerjaan yang sudah terjadi.

Tantangan AI bagi Anak Muda

Ilustrasi dibuat mengunakan bantuan AI

Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan kecerdasan buatan, terdapat sejumlah tantangan yang perlu dihadapi oleh anak muda. Salah satunya adalah risiko ketergantungan terhadap AI. Kemudahan mendapatkan jawaban, membuat tulisan, atau menghasilkan berbagai karya dalam waktu singkat dapat membuat seseorang menjadi kurang terbiasa berpikir secara mandiri dan kritis.

Selain itu, perkembangan AI yang begitu cepat menuntut anak muda untuk terus belajar dan beradaptasi. Kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup. Anak muda juga perlu memahami cara memanfaatkan AI secara bijak, memeriksa kebenaran informasi yang dihasilkan, serta tetap menggunakan kreativitas dan kemampuan berpikirnya sendiri.

Tantangan lainnya adalah persaingan di dunia pendidikan dan pekerjaan yang semakin berubah. Beberapa tugas yang sebelumnya dilakukan manusia kini dapat dibantu atau bahkan diotomatisasi oleh AI. Kondisi ini membuat keterampilan seperti kreativitas, komunikasi, pemecahan masalah, dan kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting.

Saran bagi Anak Muda dalam Menyikapi AI

Dalam menghadapi perkembangan AI, anak muda perlu memiliki pola penggunaan yang seimbang. Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah prinsip 40–30–20–10.

40% untuk belajar dan mengembangkan keterampilan. Gunakan AI sebagai alat bantu untuk memahami materi, mencari referensi awal, belajar bahasa, coding, desain, atau keterampilan lainnya. Namun, pastikan hasil dari AI tetap dipahami dan diperiksa kembali.

30% untuk berkarya dan bereksperimen. Jangan hanya meminta AI menghasilkan sesuatu. Gunakan AI untuk membantu membuat tulisan, desain, video, aplikasi, atau proyek kreatif yang berasal dari ide sendiri. Target sederhananya adalah menghasilkan minimal 1 karya atau proyek baru setiap bulan.

20% untuk berpikir secara mandiri. Sebelum menggunakan AI, biasakan mencoba menyelesaikan masalah dengan kemampuan sendiri. Luangkan waktu untuk membaca, menganalisis informasi, dan menyusun ide tanpa langsung bergantung pada AI.

10% untuk mengevaluasi penggunaan AI. Setiap minggu, lakukan evaluasi sederhana: apakah AI benar-benar membantu, apakah informasi yang diberikan sudah benar, dan apakah penggunaannya membuat kemampuan kita berkembang atau justru semakin bergantung?

Dengan pola tersebut, AI tidak hanya menjadi alat untuk mendapatkan jawaban secara cepat, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan. Anak muda dapat menetapkan 1 target keterampilan baru setiap 3 bulan, 1 proyek setiap bulan, dan evaluasi penggunaan AI setiap minggu.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan seberapa sering seseorang menggunakan AI, melainkan seberapa banyak kemampuan dan karya yang mampu diciptakan dengan bantuan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir secara mandiri.

Penulis : Diki Wahyudi