Antara Rating dan Etika Penyiaran: Kasus Ipar Adalah Maut The Series

mahasiswa UNPAM - ilmu komunikasi
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Diki Andrian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta. Industri televisi Indonesia terus mencari cara untuk menarik perhatian penonton di tengah persaingan dengan berbagai platform digital. Salah satu cara yang dilakukan adalah mengembangkan cerita yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat menjadi serial televisi. Strategi tersebut juga dilakukan oleh MDTV melalui Ipar Adalah Maut The Series, serial yang diadaptasi dari film dengan judul yang sama dan mulai tayang pada 3 November 2025. Serial ini memiliki 45 episode dan ditayangkan setiap hari pukul 19.30 WIB di MDTV, sekaligus tersedia melalui Netflix.
Serial tersebut mengangkat cerita tentang kehidupan rumah tangga Nisa dan Aris yang menghadapi konflik setelah Rani, adik Nisa, tinggal bersama mereka. Cerita kemudian berkembang menjadi konflik keluarga yang melibatkan hubungan, kepercayaan, kebohongan, dan perselingkuhan. Tema seperti ini memang mempunyai daya tarik tersendiri karena dekat dengan persoalan kehidupan rumah tangga yang dapat membuat penonton penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
Namun, popularitas dan daya tarik sebuah cerita tidak membuat sebuah program televisi terlepas dari aturan penyiaran. Pada 20 November 2025, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memberikan teguran tertulis kepada MDTV terkait Ipar Adalah Maut The Series. Teguran tersebut berkaitan dengan tayangan pada 3, 4, dan 6 November 2025 pukul 19.30 WIB yang menggunakan klasifikasi R13+ dan dinilai menampilkan muatan yang mengesankan penggambaran seksualitas.
Menurut KPI, persoalannya bukan hanya mengenai isi cerita, tetapi juga kesesuaiannya dengan klasifikasi usia. Dalam aturan penyiaran, program dengan klasifikasi R ditujukan untuk remaja sehingga isi program harus mempertimbangkan perlindungan anak dan remaja. KPI juga menilai bahwa lembaga penyiaran harus memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan serta tidak menampilkan muatan yang dapat mendorong remaja mempelajari atau menganggap perilaku yang tidak pantas sebagai sesuatu yang biasa.
Persoalan tersebut menunjukkan adanya tantangan bagi industri televisi ketika mengangkat cerita yang memiliki tema dewasa ke dalam program yang ditayangkan secara terbuka. Konflik perselingkuhan dan masalah rumah tangga sebenarnya masih dapat digunakan sebagai bagian dari cerita. Akan tetapi, cara menggambarkan konflik tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik media televisi dan klasifikasi penontonnya.
Hal ini menjadi semakin penting karena tayangan televisi memiliki karakter yang berbeda dengan layanan streaming. Ketika seseorang menonton melalui platform streaming, biasanya mereka memilih sendiri program yang ingin ditonton dan dapat melihat informasi mengenai klasifikasi usia. Sementara itu, siaran televisi dapat ditonton secara lebih luas oleh anggota keluarga dengan usia yang berbeda. Karena itu, stasiun televisi memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa tayangan yang masuk ke ruang keluarga tetap sesuai dengan aturan dan klasifikasi yang diberikan.
Kasus Ipar Adalah Maut The Series juga memperlihatkan pentingnya proses quality control dalam produksi televisi. Setiap episode seharusnya tidak hanya diperiksa dari sisi teknis seperti gambar, suara, dan alur cerita, tetapi juga dari sisi aturan penyiaran. Pemeriksaan tersebut sebaiknya dilakukan sejak tahap penulisan naskah sampai proses editing sebelum program diserahkan kepada stasiun televisi untuk ditayangkan.
Masalah quality control ini semakin relevan karena dalam evaluasi tahun 2025, KPI mencatat MDTV menerima empat teguran tertulis, termasuk untuk Ipar Adalah Maut The Series. Dalam evaluasi berikutnya, KPI meminta MDTV terus meningkatkan kualitas program di tengah perkembangan digitalisasi dan munculnya berbagai media baru.
Di sisi lain, persoalan tersebut tidak berarti bahwa program drama harus menghilangkan konflik atau hanya menampilkan cerita yang sederhana. Konflik merupakan bagian penting dalam sebuah drama karena dapat membuat cerita menjadi menarik. Yang perlu diperbaiki adalah cara konflik tersebut disampaikan kepada penonton. Misalnya, ketegangan dalam cerita dapat dibangun melalui dialog, ekspresi karakter, konsekuensi dari keputusan tokoh, dan perkembangan konflik tanpa harus menampilkan adegan yang melewati batas klasifikasi usia.
MDTV juga dapat memperkuat kerja sama antara tim kreatif, produser, editor, dan bagian pengawasan isi siaran. Setiap pihak harus memahami batasan yang berlaku sehingga masalah tidak baru diketahui setelah program mendapatkan teguran. Pelatihan mengenai Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) juga dapat dilakukan secara rutin agar tim produksi lebih memahami bagaimana membuat cerita yang menarik sekaligus sesuai dengan aturan.
Selain itu, klasifikasi usia seharusnya tidak hanya menjadi tanda yang muncul di awal program. Klasifikasi tersebut harus menjadi dasar dalam menentukan bagaimana cerita ditulis, bagaimana adegan diperankan, bagaimana materi promosi dibuat, dan bagaimana program ditempatkan dalam jadwal siaran. Dengan begitu, klasifikasi R13+ benar-benar mempunyai fungsi sebagai perlindungan bagi penonton remaja.
Kasus ini pada akhirnya menunjukkan bahwa perkembangan industri televisi tidak hanya soal siapa yang mampu mendapatkan penonton paling banyak. Stasiun televisi juga harus mampu menghasilkan tayangan yang menarik tanpa mengabaikan tanggung jawab kepada masyarakat. Ipar Adalah Maut The Series memiliki potensi sebagai drama yang kuat karena mempunyai konflik dan cerita yang sudah dikenal penonton, tetapi penyajiannya tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik televisi sebagai media yang dikonsumsi oleh berbagai kelompok usia.
Solusi terhadap masalah tersebut bukan berarti menghentikan cerita yang memiliki konflik keluarga, melainkan memperbaiki cara konflik tersebut dikemas. Dengan quality control yang lebih ketat, pemahaman terhadap klasifikasi usia, pelatihan bagi tim produksi, serta kreativitas dalam membangun konflik tanpa melewati batas penyiaran, program drama tetap dapat menghibur sekaligus bertanggung jawab.
Pada akhirnya, kasus Ipar Adalah Maut The Series menjadi gambaran bahwa televisi harus mampu menemukan keseimbangan antara kepentingan hiburan, kreativitas cerita, kebutuhan penonton, dan tanggung jawab penyiaran. Ketika keseimbangan tersebut dapat dijaga, program televisi bukan hanya menarik untuk ditonton, tetapi juga lebih aman dan sesuai bagi masyarakat yang menjadi audiensnya.
