Konten dari Pengguna

Membingkai Rasa dalam Sepiring Sate Ayam Ponorogo

Dikky Yudi Pradana

Dikky Yudi Pradana

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dikky Yudi Pradana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sate Ayam Kuliner khas Ponorogo

Menikmati suasana malam hari di sekitaran Stasiun Balapan Solo dengan menyantap salah satu hidangan khas dari Kota Reog yakni sate ayam Ponorogo. Seporsi sate ayam Ponorogo biasanya dihidangkan dengan bumbu kacang, sambel, irisan bawang, dan seporsi lontong yang sudah dipotongi sebelumnya.

Potret sepiring sate ayam Ponorogo yang menggugah selera lengkap dengan saus kacang, sambal dan irisan bawang, Sabtu (11/11/2023). Foto oleh Dikky Yudi Pradana

Sate Ayam Ponorogo, siapa sih yang tidak mengenal kuliner ini? Salah satu kuliner khas dari daerah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur ini memang menjadi salah satu kuliner primadona masyarakat Indonesia umumnya. Sate ayam Ponorogo juga menjadi pilihan orang-orang rantauan dari Kabupaten Ponorogo untuk mengobati rasa kangen menikmati makanan yang berasal dari daerah tempat tinggalnya.

Terlihat gerobak sate serta meja dan kursi makan ketika hendak memasuki warung sate ayam khas Ponorogo Mas Nardi, Sabtu (11/11/2023). Foto oleh Dikky Yudi Pradana

Awal Berjualan Sate Ayam Ponorogo

Di Kota Solo, saya menemukan salah satu warung sate khas Ponorogo, satu dari sekian banyak warung sate di daerah Stasiun Balapan, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Meskipun begitu tidak banyak warung sate yang buka di malam hari dan sate ayam khas Ponorogo Mas Nardi adalah salah satunya. Warung sate ayam Ponorogo Mas Nardi terlihat sederhana. Pasalnya, warung ini berada di tepi jalan dan tidak memiliki bangunan atau ruangan seperti restoran, yang ada warung ini hanya beratapkan terpal yang dibentuk seperti tenda dan beralaskan paving. Sebelum Sunardi membuka warung sate ayam Ponorogo sendiri, ia bekerja di Kota Sragen ditempat saudaranya asal Ponorogo pada tahun 1993.

“Awale ikut saudara (bekerja di tempat saudara) di Sragen, kebetulan dia asli Ponorogo. Pas kerja disana liat caranya ooh.. begini toh caranya bikin sate, kerja disana nggak lama terus buka sendiri. Mulai kerja itu sekitar tahun 93 Mas.” Ujar Sunardi (48).

Sembari bekerja ia juga mengamati apa saja bahan yang digunakan, cara pembuatan dan lainnya. Setelah tiga tahun ia bekerja ia pun memutuskan untuk mendirikan warung sate sendiri yang dinamai Sate Ayam khas Ponorogo Mas Nardi. Pak Sunardi sudah berjualan sate selama 27 tahun dan warungnya sudah berdiri sejak 1996.

“Saya membuka warung sate ini sudah dari 96 (tahun 1996) Mas, sudah berapa itu… 27 tahun ya.” Ujar Sunardi.

“Dari awal buka, saya sudah disini, gapernah pindah pindah,” imbuh Sunardi saat ditemui di warungnya pada Sabtu (11/11/2023).

Potret sate ayam yang telah dilumuri bumbu yang melalui proses pemanggangan di atas arang, Sabtu (11/11/2023). Foto oleh Dikky Yudi Pradana

Keunikan Sate Ayam Ponorogo

Pak Sunardi mulai membuka warung satenya dari pukul 5 sore. Ia berjualan sate ayam bersama istrinya, Sumiyati (43). Pak Sunardi dan Bu Sumiyati melakukan dari proses awal hingga berjualan secara bersama-sama dan hal ini mereka lakukan setiap hari. Pak Sunardi biasanya menutup warung satenya pada pukul 10 malam. Meskipun terbilang tidak terlalu lama ia berjualan yakni dengan 5 jam saja, namun Pak Sunardi dapat menjual kurang lebih 500 tusuk sate per harinya.

“Wah kalo sehari (jualan) berapa tusuk sih gak ngitung mas, kira-kira sekitar 500-an (tusuk) lah per harinya” ujar Sumiyati ketika diwawancarai.

Sate ayam Ponorogo memang memiliki keunikan sendiri baik dari segi bentuk potongan dagingnya, cara pengolahannya, serta dari saus kacang yang dipakai. Berbeda dengan Sate Madura yang dipotong bentuk kotak-kotak, Sate Ponorogo dipotong dengan bentuk pipih dan memanjang yang disela-sela tusukan daging terdapat jeroan dan juga kulit. Setelah selesai ditusuk, daging sate yang Masih mentah ini direndam selama berjam-jam dengan bumbu yang terdiri dari aneka rempah seperti ketumbar, merica, laos, jintan, kunyit, jahe, kemiri, dan gula jawa. Hal itu dilakukan dengan maksud bumbu dapat menyerap sampai kedalam potongan daging sate. Saat sate dipanggang di atas arang, bau harum sate mulai tercium, hal itu karena proses perendaman daging sate dengan bumbu rempah sebelumnya, meskipun begitu Sate Ponorogo tetap dilumuri dengan campuran bumbu kacang, sambal, dan kecap pada saat proses pemanggangannya.

Seporsi sate ayam berisikan sepuluh tusuk yang ditemani oleh sepiring lontong nasi dan segelas es teh yang menyegarkan, Sabtu (11/11/2023). Foto oleh Dikky Yudi Pradana

Sate Ayam Ponorogo sebagai Kuliner Makan Malam

Memesan seporsi sate ayam Ponorogo untuk menemani makan malam adalah sebuah pilihan yang cukup tepat. Bagaimana tidak? Satu porsi yang kita pesan sudah berisikan sepuluh tusuk sate ayam Ponorogo lengkap dengan siraman saus kacang di atasnya. Saus kacang yang dibuat dari kacang tanah goreng, bawang putih, garam, gula, cabe besar dan daun jeruk yang ditumbuk halus lalu dicampur dengan air. Tak lupa terdapat sambal dan irisan bawang merah di samping sate ayam Ponorogo ini. Menyantap sate ayam Ponorogo tak afdol jika tidak dengan irisan lontong nasi, karena selain mengenyangkan namun juga memang lontong adalah kombinasi yang tepat kala kita memakan sate ayam Ponorogo. Tak lupa esteh sebagai teman minum untuk menikmati sate ayam ini. Ditambah dengan suasana malam Kota Solo ditemani kendaraan berlalu lalang di jalanan depan warung. Harga seporsi sate ayam Ponorogo ditambah lontong dan esteh dibanderol dengan harga Rp 23.000-, harga yang umum untuk sebuah hidangan sate. Seperti yang dikatakan Abdul (19) salah satu pengunjung di warung sate ayam Ponorogo Mas Nardi.

“Rasanya cukup enak, untuk saya mungkin lebih enak kalau ada irisan tomatnya karena beberapa kali makan sate Ponorogo di tempat lain ada irisan tomatnya, kalau dari harganya sendiri sih standart ya” ujar Abdul ketika ditanyai seusai menyantap sate ayam.

Selama 27 tahun berjualan, Sunardi menemui berbagai tipe pengunjung yang datang. Terkadang pengunjung melontarkan pertanyaan-pertanyaan lucu kepadanya. Salah satu pertanyaan lucu yang ia masih ingat sampai sekarang adalah tentang penunggu pohon beringin yang berada disamping warung sate miliknya.

“Ini kan saya jualan dibawah pohon beringin, itu kan pohon beringin ya mas (sambil menunjuk pohon beringin). Terus pernah ada yang tanya gini, pak ini ada penunggunya ngga ya. Terus saya jawab aja ya ada, penunggunya ya saya lha wong tiap malem saya disini ahaha. pertanyaan begitu-begitu beberapa kali ada Mas.” Ungkap Sunardi sambil tertawa tipis.

Makanan nusantara tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia. Cita rasa yang kaya akan rempah dan bumbu khasnya tak bisa tergantikan oleh masakan dari negara lain. Makanan Nusantara tetap eksis diera gempuran banyak masuknya restoran Jepang, restoran Korea, restoran cepat saji dan masih banyak lagi.