Konten dari Pengguna

Keindahan Toleransi di Desa Karangsari, Kabupaten Pekalongan

diky imam

diky imam

Mahasiswa UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari diky imam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kantor Kepala Desa Karangsari. Dokumen: Diky
zoom-in-whitePerbesar
Kantor Kepala Desa Karangsari. Dokumen: Diky

Mengenal desa Karangsari, salah satu desa yang terletak tidak jauh dari alun-alun kajen ini. Yang ternyata menyimpan keindahan rasa toleransi antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kegiatan desa yaitu kegiatan sedekah bumi yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali dibulan legenong (bulan Jawa), yang mana kegiatan tersebut diikuti oleh semua penduduk desa baik yang islam ataupun non-islam.

Di desa Karangsari sendiri terdapat enam dukuh yang mana memiliki beberapa kepercayaan yang dianut oleh masyarakatnya. Adapun enam dukuh tersebut diantaranya dukuh Legok, dukuh Kebonsaari, dukuh Mlaten Satu, dukuh Mlaten Dua, dukuh Mlaten Tiga, dan dukuh Kerajan. Total semua warga desa Karangsari berjumlah 8000 jiwa. Dari total enam dukuh tersebut terdapat masyarakat non-islam yaitu Kristen protestan dan katolik yang berjumlah sekitar 20 orang, terdapat juga yang menganut kejawen yaitu kejawen Pangestu dan Sapto Dharmo.

Makam Keramat Desa Karangsari. Dok: Aufa

Selain itu, pendeta dari Kristen protestan sendiri setiap tahunnya mengadakan kegiatan rutinan yang dilaksanakan setiap tahun baru hijriah (Muharram). Di dalam kegiatan tersebut membahas mengenai filosofi Jawa yang bertujuan untuk mempererat hubungan kekeluargaan antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Dan dari setiap dukuh juga terdapat organisasi kepemudaan yang lebih diminati daripada organisasi karang taruna itu sendiri.

Di era zaman sekarang, moderasi beragama sangat penting dimiliki oleh setiap masyarakat karena merupakan sebuah pondasi yang dapat meningkatkan rasa toleransi antar masyarakat. Dan dari para pemimpin, orang tua, pendidik sangat diperlukan untuk pengembangan moderasi beragama supaya tercipta masyarakat yang harmonis dan mengerti arti kebersamaan.