Konten dari Pengguna

Sepotong Donat di Selasar Bank

Dimas Aditya

Dimas Aditya

Freelance Writer

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Aditya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Foto Ilustrasi AI

Pemandangan Senin pagi di jalan penuh orang-orang yang berlomba dengan waktu agar sampai kantor tepat waktu. Tak terkecuali aku, yang juga turut serta dalam perlombaan itu. Sebelum menuju tempat kerja, aku mampir ke salah satu bank untuk mengurus kartu atm yang hilang kemarin. Saat ingin memasuki bank, mataku tertegun dengan seorang anak yang membawa box kontainer plastik berisikan donat duduk di selasar. Usianya masih terbilang dini jika dilihat dari perawakannya. Aku menduga, mungkin baru 11 atau 12 tahun.

Saat anak seusianya asik belajar dan bermain di sekolah, Andi harus menelan pil pahit kehidupan dengan berjualan donat. Selepas mengurus keperluan di bank, aku menghampiri anak tadi. Kami berbincang sekitar 15 menit di selasar bank itu. Namanya Andi dan usianya baru 12 tahun. Ia putus sekolah karena ekonomi, dan memilih berjualan donat sejak setahun lalu. Aktivitas itu ia lakukan guna membantu orangtuanya memenuhi kebutuhan kedua adiknya yang masih berusia batita.

Hampir setiap hari Andi berjualan di selasar bank. Biasanya ia membawa 25 donat yang dijual dengan harga 3 ribu rupiah sepotongnya. Andi bercerita kalau donatnya kadang tidak habis, bahkan pernah saat hujan deras seharian donatnya tak laku sama sekali. Saat ku tanya apakah ia tidak ingin sekolah kembali, jawabanya penuh arti untuk anak seusianya. "Kalau sekolah sih pengen, tapi aku mau bantu mama beli susu adik. Terus nabung biar adik aku nantinya bisa sekolah". Aku diam beberapa detik karena jawabannya. Saat anak seusianya memiliki mimpi yang merupa angkasa; ingin menjadi pilot, dokter, arsitek, Andi kecil tidak muluk-muluk namun mulia.

Dulu saat usiaku masih seperti Andi, itu adalah masa-masa yang menggembirakan. Menjelang masuk tahun ajaran baru sekolah, mama selalu mengajakku membeli sepatu, seragam, bahkan tas baru. Selapas itu, biasanya kami makan bakso atau mie ayam langganan kami. Namun bagi Andi, ia hanya ingin satu hal; donatnya habis dan ia bisa pulang membawa uang. Sebelum beranjak dari selasar dan pergi, aku membeli beberapa donatnya. Ia tersenyum dan berterima kasih, sebab katanya aku adalah pembeli pertamanya di hari ini.

Andi adalah contoh nyata jika pendidikan masih menjadi barang mewah, bahkan di kota sebesar Jakarta. Sekolah yang bisa diakses gratis, namun tidak dengan seragam, buku, dan lainnya. Padahal, pendidikan adalah tiket dasar untuk bisa merubah nasib. Namun tiketnya tidak gratis, dan bagi yang tidak memiliki tiket hanya bisa memandangi dari luar arena.

Saat di motor, aku sempat berpikir berapa banyak Andi lain diluar sana yang mengalami nasib serupa atau bahkan lebih parah. Bagiku donat-donat Andi bukan hanya sekedar makanan, namun simbol perjuangan rakyat miskin untuk bertahan hidup. Saat orang-orang keluar masuk bank setiap hari untuk menyetorkan atau mengambil puluhan bahkan ratusan lembar rupiah, di selasar bank ada Andi yang menunggu dengan penuh harap demi beberapa lembar rupiah.