Konten dari Pengguna

Dagang Boleh Cari Cuan, Tapi Jangan Tinggalkan Etika

Suasana transaksi di warung kopi pinggir jalan Margonda yang tetap menjaga etika bisnis. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Suasana transaksi di warung kopi pinggir jalan Margonda yang tetap menjaga etika bisnis. Foto: Dok. Pribadi

Pernah nggak sih kamu beli kopi di warung pinggir jalan Margonda pas pulang kuliah malam-malam?

Aku sering.

Minggu lalu aku mampir ke warung langganan. Lampunya terang, kopinya enak, tapi dia cerita kalau listriknya nyolong dari tiang. Katanya biar hemat.

Jujur, aku jadi nggak enak minum kopinya.

Sejak saat itu aku jadi mikir. Kok banyak orang pinter bisnis tapi lupa sama etika?

Padahal di kelas Manajemen Risiko, Bu Cornelia selalu bilang, hukum dan etika itu bukan hiasan. Itu fondasi.

Bisnis itu memang cari untung. Tapi kalau caranya ngawur, untungnya nggak akan lama.

Aku lihat sendiri di Depok ada tiga kebiasaan buruk yang sering dianggap biasa.

Pertama, mental "Mumpung Nggak Ada yang Liat".

Contohnya ya warung tadi. Atau penjual online yang jual kosmetik tanpa izin BPOM.

Pikirannya simpel, yang penting laku dulu. Padahal itu sudah melanggar hukum.

Sekali ketahuan, bukan cuma warungnya yang sepi. Nama baiknya juga hilang. Di Depok, berita nyebar lebih cepat dari ojek online.

Kedua, janji manis doang.

Kamu pernah beli baju di online shop? Di foto warnanya cerah, pas datang warnanya pudar dan bahannya tipis.

Itu contoh etika bisnis yang dilanggar. Penjualnya memang dapat uang sekali. Tapi pembelinya kapok dan nggak akan balik lagi.

Beda sama teman saya yang jualan thrift di Depok. Kalau ada noda sedikit, dia foto dan bilang jujur. Malah pembelinya makin percaya dan jadi langganan.

Ketiga, anggapan hukum cuma buat yang kecil.

Kita sering lihat perusahaan besar buang limbah sembarangan atau telat bayar gaji karyawan tapi tetap aman.

Rasanya nggak adil. Tapi justru di situ celah buat kita yang baru mulai usaha.

Kenapa? Karena pembeli zaman sekarang lebih pintar. Mereka lebih milih beli dari penjual yang jujur, yang ramah sama karyawan, dan yang nggak merusak lingkungan.

Jadi, gimana caranya biar bisnis kita tetap cuan tapi tetap beretika?

Kalau menurutku, anggap hukum itu seperti pagar rumah.

Pagar memang bikin kita nggak bisa seenaknya. Tapi pagar juga yang melindungi kita biar nggak jatuh ke jurang.

Kalau mau buka usaha, urus izinnya. Memang agak ribet. Kalau jual makanan, tulis bahan-bahannya dengan jujur. Kalau punya karyawan, hargai hak mereka.

Awalnya untungnya mungkin kecil. Tapi tidurnya nyenyak. Nggak perlu takut kalau ada razia atau komplain pelanggan tengah malam.

Karena bisnis yang awet itu bukan yang paling viral.Tapi yang paling dipercaya.

Setuju nggak?

Penulis: Dimas Maulana - Mahasiswa Manajemen UNPAM