Caraku Bangkit Setelah Kehilangan Ayah: Menghadapi Trauma dan Memulai Hidup Baru

Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dimas Chesta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kematian ayahku datang begitu saja. Liburan kelulusan SMA, pascaujian seleksi masuk PTN yang harusnya menjadi masa-masa tenang sebelum memasuki dunia yang baru, secara tiba-tiba hancur. Seakan duniaku saat itu hilang tak terarah, entah mengapa.
Artikel ini adalah kisah nyata tentang bagaimana aku membangun diri kembali setelah kehilangan ayahku, serta langkah-langkah yang kuambil untuk membantu proses tersebut.
Atmosfer di dalam rumah seketika berbeda. Seolah penjaga harmoni yang selama ini diam-diam menjaga semuanya tetap utuh. Tanpa memberikan waktu untuk bagiku untuk mencari pegangan baru.
Ayahku selalu menjadi harmoni dalam keluargaku. Penjaga ritme, keseimbangan, dan suasana. Ketika beliau pergi, aku tidak hanya kehilangan sosok penting, tetapi juga kehilangan arah.
Ibu lebih sunyi.
Aku menjadi lebih waspada.
Dan atmosfer rumah berubah, menjadi ruang yang memerlukan keberanian baru di setiap harinya.
Inilah awal fase ketika aku merasa "dipaksa dewasa lebih cepat."
Trauma di saat kehilangan ayah, tidak datang sekali dan pergi. Trauma itu muncul dalam bentuk gelombang seperti keinginan untuk cepat bangkit, rasa takut untuk gagal, keinginan kabur, dan keinginan untuk melawan zona nyaman.
Aku ingin sembuh dengan cepat, padahal proses itu tidak akan pernah sembuh dengan cepat.
Aku juga sering bermimpi bertemu ayah. Kadang itu menyenangkan, kadang membuat dadaku terasa berat dan sesak saat terbangun dari mimpi itu.
Namun perlahan, aku belajar bahwa...
Trauma bukanlah tanda sebuah kelemahan, melainkan trauma adalah jejak cinta yang sangat mendalam.
Menghadapinya berarti menerima rasa sakit dan perjalanan sembuh bisa berjalan.
Banyak hal yang membuatku berhenti sejenak, seperti:
Lagu-lagu lawas dan dangdut yang dulu sering ayah putar.
Aroma parfumnya yang masih menempel di salah satu jaketnya.
Sandal jepitnya yang dulu sering dipakai.
Ketika aku merokok merek rokoknya.
Dan duduk di kursi favoritnya, "singgasana" yang selalu ayah sebut dengan bangga.
Momen-momen kecil itu menghantam, tapi sekaligus memberikan sedikit rasa hangat.
Di sana, jejak ayah tidak hilang. Hanya berubah bentuk.
Setelah ayah meninggal, tanggung jawab baru dengan beban yang lebih berat datang tanpa mengetuk pintu.
Menjaga ibu disaat sendiri, mengambil keputusan keluarga dengan lebih tepat, memikirkan hal-hal jangka panjang tanpa bisa bertanya pendapat ayah, dan belajar menjadi tulang punggung kecil di rumah.
Awalnya menakutkan.
Tapi kemudian aku sadar,
Tanggung jawab adalah bentuk cinta terakhir yang bisa kuberikan padanya.
Pandanganku terhadap hidup pun berubah drastis.
Aku sekarang sadar bahwa usia muda bukan alasan untuk menunda hal penting.
Hidup terlalu singkat untuk menunda sesuatu yang baru yang harus dilakukan.
Keluarga harus lebih erat, karena kehilangan ayah dulu yang menjaga harmoninya.
Kesadaran ini tidak membuat hidupku lebih ringan, tapi membuat setiap langkahku lebih jujur.
Bangkit setelah kehilangan ayah bukan suatu tujuan, melainkan proses yang panjang, sistematis, dan terkadang berantakan. Namun, setiap langkah kecil yang kuambil adalah bukti bahwa aku memilih untuk tetap hidup meski dunia berubah bentuk.
Ayahku mungkin telah pergi, tetapi setiap keputusan yang baik yang kubuat adalah cara kecil untuk meneruskan jejaknya.
Dan setiap hari, aku masih terus berusaha.
Belajar hari demi hari.
Tidak sempurna, tetapi harus tetap berjalan.
