Dari Kerajaan Pajajaran hingga Wisata Modern: Sumur yang Tak Pernah Kering

Mahasiswa Prodi Pariwisata Fakultas Ekonomi dan Bisnis universitas Budi Luhur
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dimas Hamim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Bagian barat pulau jawa, terdapat sebuah kota yang berada pada ketinggian 190 hingga 330 meter diatas permukaan laut. Rintik hujan dan udara sejuk seolah menjadi denyut nadinya, membentuk karakter alama yang khas. Tak heran orang-orang menjulukinya “Kota hujan”, yaitu Kota bogor.
Selain dikenal sebagai Kota Hujan, Bogor juga populer dengan sebutan Kota Taman. Julukan ini bukan kebetulan semata, Tingginya curah hujan menjadikan Bogor memiliki banyak ruang hijau terbuka dan taman kota yang terawat.
Dari banyaknya ruang hijau, kebun raya bogor menjadi salah satu ikon kota ini. Kebun botani yang menyita perhatian wisatawan ini menawarkan berbagai daya tarik mulai dari ragam tanamannya, Bunga bangkai raksasa, pohon tua bersejarah, Istana Bogor, makam bersejarah, dan banyak lagi. Perpaduan keindahan alam dan nilai sejaran menjadikan kebun raya bogor sebagai destinasi wisata yang tidak boleh terlewatkan jika ke kota tersebut.
Di balik keindahan dan keramaian Kebun Raya Bogor, tersimpan sebuah mata air yang sarat dengan cerita sejarah. Mata air tersebut dikenal oleh pengunjung dengan nama Mata Air Cikahuripan. Konon, mata air ini telah ada sejak zaman Kerajaan Pajajaran dan tetap mengalir hingga era modern, menjadikannya simbol keberlangsungan kehidupan lintas zaman.
Kini mata air tersebut ditampung dalam sebuah sumur kecil berpagar besi, terletak tidak jauh dari tugu kelapa sawit, tepat di dekat komplek makam mbah jepra. Meskipun memiliki debit air yang kecil, sumur ini kerap disebut sebagai air kehidupan, atau dalam bahasa Sunda dikenal sebagai cai kahuripan.
Sebutan tersebut muncul dari kepercayaan masyarakat yang meyakini bahwa air dari sumur tersebut masih jernih dan dapat menyegarkan wajah, membuat tampak lebih awet muda, bahkan membawa kesehatan jika dipakai cuci muka. Ada juga yang memberikan sebutan tersebut karena percaya air dari sumur ini sudah ada sejak jaman pajajaran, dan digunakan oleh bangsawan atau tokoh penting untuk bersuci, Keyakinan lain menyebutkan bahwa sumur tersebut diyakini dapat mengabulkan hajat, sehingga hingga kini tidak sedikit orang yang datang untuk berdoa di sekitar area sumur.
Terlepas dari berbagai mitos dan kepercayaan yang berkembang di kalangan masyarakat maupun pengunjung, hal yang lebih penting saat ini adalah upaya menjaga nilai konservasi warisan alam dan sejarah tersebut agar tetap lestari dan terpelihara lintas generasi. Pelestarian ini juga diperlukan agar informasi serta nilai historis yang melekat padanya tidak hilang seiring waktu. Selain itu, diperlukan kesadaran bersama untuk mencegah praktik-praktik yang berpotensi menimbulkan kerusakan, seperti pengambilan air secara berlebihan akibat kepercayaan tertentu. Upaya ini penting guna menghindari berbagai permasalahan, baik yang terlihat maupun yang belum terdeteksi, di masa mendatang.
