Konten dari Pengguna

Mahasiswa KKN IPB Ciptakan Inovasi Incinerator: Solusi Praktis Atasi Sampah

DIMAS JULIANSYAH

DIMAS JULIANSYAH

Mahasiswa aktif yang bersemangat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman melalui studi, organisasi, serta berbagai kegiatan positif di kampus.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari DIMAS JULIANSYAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa KKN IPB Ciptakan Inovasi Incinerator: Solusi Praktis Atasi Sampah
zoom-in-whitePerbesar

Sampah merupakan salah satu masalah utama di banyak desa di Indonesia. Kurangnya fasilitas pengolahan dan kurangnya kesadaran masyarakat sering kali menyebabkan tumpukan sampah yang makin banyak dan pencemaran lingkungan akibat membuang sampah sembarangan. Sedangkan, tempat Pembuangan Sementara (TPS) seringkali melakukan pembakaran secara terbuka yang berdampak terhadap pencemaran udara. Membiarkan sampah menumpuk sudah pasti menyebabkan masalah baru, mengingat sampah yang menumpuk setiap harinya yang akan semakin memburuk untuk lingkungan.

Menjawab semua permasalahan tersebut, mahasiswa KKNT IPB setelah berdiskusi dengan perangkat desa dan kelompok yang terlibat maka para mahasiswa sepakat untuk membangun incinerator di TPS sebagai solusi paling efisien untuk permasalaham ini. Hal ini bukan tanpa alasan, membangun insunerator menjadi pertimbangan terbaik dari hasil diskusi setelah menilai kondisi lingkungan di desa. Berbeda dengan pembakaran terbuka yang menyebabkan polusi yang tidak terkontrol, incinerator menghasilkan emisi gas dalam jumlah yang lebih terkontrol sehingga dapat mengurangi dampak ke lingkungan sekitarnya. Hal ini dikarenakan proses pembakaran pada incinerator mengubah sampah menjadi abu yang mengandung polutan berbahaya bagi lingkungan dan Incinerator juga dapat mengurangi volume sampah secara signifikan dan meleburkan sampah secara lebih optimal karena suhu api pada incinerator dapat sangat tinggi.

Pada minggu ke-4 mahasiswa KKN-T IPB University melaksanakan program kerja yaitu membangun incinerator di TPS Desa Sumbersari, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pembangunan incinerator ini dibantu oleh Bapak Asep selaku pengelola sampah di TPS tersebut dan Bapak Dudung selaku salah satu Ketua RT di desa tersebut. Pembangunam incinerator diawali dengan survei lokasi yang kemudian mendesain incinerator yang akan dibangun, desain dibuat seoptimal mungkin menyesuaikan 3 hal yaitu keefektifan incinerator, lokasi, dan budget atau dana. Terbentuklah hasil desain incinerator dengan ukuran panjang dan lebar 1,2 x 1,2 meter serta tinggi total 2 meter.

Proses pembangunan dilanjutkan dengan menyiapkan bahan-bahan seperti bata hebel ukuran 60x20x10cm, besi beton ukuran 12mm, seng, pasir, semen, dan perekat bata. Tempat yang disepakati untuk dibangun incinerator dibersihkan dari tumpukan sampah dan diukur sedemikian rupa untuk dibangun pondasinya. Bagian pondasi berukuran 1,2 x 1,2 meter dengan tinggi 10cm. Bagian ini menjadi tempat penampungan abu sekaligus masuknya angin, sehingga pada bagiam perlu dibuat lubang masuk angin sepanjang 40cm dengan tinggi 10cm, lubang ini juga memudahkan pengambilan abu sisa pembakaran. Setelah pondasi selesai, proses selanjutnya ruang pembakaran. Ruang pembakaran dibuat dengan mengelas besi beton ukuran 12mm seperti pola jaring yang akan ditempakan di bagian bawah. Besi ini berfungsi menahan sampah agar tidak menutupi ruang pembakaran. Ruang pembakaran incinerator ini berukuran 1,2 x 1,2 meter mengikuti pondasi dengan tinggi 60cm. Setelahnya dilanjutkan 40cm keatas untuk membuat ruang input sampah, ruang ini sengaja diberi lubang dengan ukuran 40cm x 40cm untuk mempermudah masuknya sampah. Setelah itu, bagian atas incinerator diperkecil vdan dibuat mengerucut untuk mempercepat aliran asap. Bagian ini juga yang menjadi cerobong tempat keluarnya asap hasil pembakaran.

Setelah incinerator berdiri kokoh, barulah tahap finishing dilakukan dengan pengacian semen atau pelapisan dengan semen. Tujuannya untuk memperkuat kerangka incinerator dan membuatnya lebih tahan lama, mengingat pembakaran dengan suhu yang ekstrem dapat menyebabkan keretakan pada bata hebel perlahan-lahan. Pada tahap ini incinerator sudah selesai namun, incinerator tidak bisa langsung digunakan dan masih harus dikeringkan beberapa hari. Karena jika langsung digunakan, bangunan incinerator yang masih basah belum siap bertemu suhu ekstrem. Sehingga dampaknya akan menyebabkan incinerator retak dan roboh. Proses pembakaran sampah incinerator dilakukan dengan memasukkan sampah terlebih dahulu (lebih bagus agar sampah dibasahi dan tidak terlaku kering), kemudian api dinyalakan pada lubang masuk udara dengan bantuan awal seperti karet atau kayu. Incinerator akan menyala terus-menerus selagi sampah itu masih ada.

Pak Asep selaku pengelola TPS memberikan ulasan terkait incinerator, dirinya mampu membakar hingga sekitar 500kg sampah perhari dengan menggunakan incinerator hasil karya mahasiswa KKNT IPB. Kehadiran incinerator ini mengurangi beban pengelola TPS yang setiap harinya selalu kedatangan sampah bahkan dari tangan-tangan nakal yang membuang sampah tidak sesuai prosedur. Pak Asep mengaku sebelum incinerator ini ada, dirinya hanya menunggu sampah diangkut oleh dishub sambil sedikit-sedikit melakukan pembakaran secara terbuka. Harapan kedepannya bagi mahasiswa KKNT IPB agar pihak desa mampu membuat incinerator ini lebih banyak, karena biaya total pembuatan incinerator ini hanya berjumlah Rp. 2.080.000, sehingga tidak menyulitkan bagi desa. Pada dasarnya sampah itu dianggap sepele ketika jumlahnya kecil atau hanya sampah rumahan. Namun, jumlah yang kecil itu jika disatukan tidak akan menjadi ancaman yang besar. Maka, jangan pernah acuh terhadap sampah dan mari lestarikan lingkungan bersama-sama.