Koloni: Ketika Dunia Semut Menjadi Cermin Kehidupan Manusia

Saya merupakan Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UNS angkatan 2025. Saya juga merupakan aktivis, seorang anggota BEM, HIMA dan juga PIK-R.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dimas Satrio Aji Pamungkas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Apa jadinya jika persoalan kekuasaan, ambisi, hierarki, dan kehidupan sosial manusia dipindahkan ke dunia semut? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu daya tarik dalam Koloni, novel karya Ratih Kumala yang menggunakan kehidupan koloni semut sebagai cermin untuk melihat realitas manusia.
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada Agustus 2025, Koloni merupakan fabel yang berlatar dunia serangga bawah tanah. Novel ini berpusat pada persaingan dua ratu semut, Ratu Gegana dan Ratu Darojak, yang berada dalam dua posisi berbeda dalam perebutan kekuasaan. Ratu Gegana sebagai penguasa lama berusaha mempertahankan kedudukannya, sementara Darojak hadir sebagai ratu muda dengan ambisi dan peluang untuk mengubah keseimbangan koloni.
Bukan Sekadar Cerita tentang Semut Dunia semut dalam Koloni dibangun dengan sistem sosial yang terstruktur. Setiap semut memiliki peran dan fungsi masing-masing, mulai dari ratu, pekerja, hingga prajurit. Struktur tersebut menjadi dasar bagi Ratih Kumala untuk menghadirkan persoalan yang sebenarnya dekat dengan kehidupan manusia. Melalui kehidupan koloni, pembaca diajak melihat bagaimana sebuah sistem dapat membentuk perilaku individu. Kepatuhan, loyalitas, ambisi, dan hubungan antara pemimpin dengan kelompok menjadi bagian dari konflik yang berkembang dalam cerita.
Gramedia menyebut Koloni sebagai kisah perebutan kuasa di dunia semut yang sekaligus memantulkan dinamika sosial dan politik manusia. Ratih Kumala juga menyampaikan bahwa novel tersebut lahir dari kegelisahannya terhadap situasi di Indonesia. Dengan menggunakan semut sebagai tokoh, persoalan tersebut terasa hadir melalui sudut pandang yang berbeda. Pembaca tidak secara langsung ditempatkan dalam dunia manusia, tetapi justru diajak melihat manusia melalui sebuah koloni kecil di bawah tanah.
Dua Ratu dan Perebutan Kekuasaan Konflik utama Koloni berpusat pada Ratu Gegana dan Ratu Darojak. Keduanya mewakili dua kepentingan yang kemudian berhadapan dalam satu koloni. Ratu Gegana merupakan pemimpin lama yang tidak ingin kehilangan kekuasaannya. Sementara itu, Ratu Darojak merupakan sosok yang lebih muda dan hadir dengan kemungkinan perubahan baru dalam koloni. Persaingan tersebut kemudian berkembang menjadi konflik antarkelompok. Perebutan kekuasaan tidak lagi hanya menyangkut dua individu, tetapi turut memengaruhi kehidupan seluruh anggota koloni.
Dari konflik tersebut, Koloni memperlihatkan bagaimana kepentingan seorang pemimpin dapat berdampak pada kehidupan kelompok yang berada di bawahnya. Persoalan tersebut membuat kehidupan semut terasa dekat dengan realitas sosial manusia.
Ketika Fabel Menjadi Cermin Salah satu hal yang menarik dari Koloni adalah penggunaan fabel sebagai cara untuk membicarakan persoalan sosial. Alih-alih menghadirkan tokoh manusia, Ratih menempatkan semut sebagai tokoh utama.
Pilihan tersebut membuat pembaca dapat mengambil jarak dari persoalan yang sedang dibicarakan. Dunia semut yang tampak kecil justru menjadi ruang untuk melihat persoalan yang lebih besar: bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana hierarki terbentuk, dan bagaimana individu menempatkan dirinya dalam sebuah kelompok.
Sejumlah ulasan juga membaca Koloni sebagai refleksi terhadap struktur sosial dan kekuasaan manusia. Dunia semut yang terorganisasi dengan pembagian peran yang tegas dipandang memiliki kemiripan dengan sistem sosial manusia. Karena itu, pertanyaan yang muncul setelah membaca Koloni tidak berhenti pada konflik antarsemut. Pembaca juga dapat mempertanyakan posisi dirinya sendiri dalam lingkungan yang lebih besar.
Apakah manusia benar-benar bebas menentukan jalan hidupnya, atau justru tanpa sadar menjadi bagian dari sebuah “koloni” dengan aturan dan kepentingannya sendiri?
Membaca Manusia Lewat Dunia Semut Koloni menunjukkan bahwa fabel tidak selalu ditujukan untuk menghadirkan cerita sederhana tentang hewan. Melalui dunia semut, Ratih Kumala membawa pembaca masuk ke persoalan yang lebih kompleks mengenai kekuasaan, ambisi, hubungan sosial, dan struktur dalam sebuah kelompok. Kekuatan cerita justru muncul dari jarak tersebut. Semut-semut dalam novel memang hidup di bawah tanah, tetapi persoalan yang mereka hadapi terasa dekat dengan kehidupan manusia di permukaan.
Dengan demikian, Koloni dapat dibaca bukan hanya sebagai cerita tentang dua ratu semut yang memperebutkan kekuasaan, tetapi juga sebagai gambaran mengenai bagaimana sebuah sistem bekerja dan bagaimana individu bertahan di dalamnya. Pada akhirnya, koloni dalam novel ini bukan hanya tempat tinggal para semut. Ia menjadi sebuah cermin. Cermin yang membuat pembaca melihat kembali kehidupan manusia, termasuk bagaimana kekuasaan, ambisi, aturan, dan kepentingan membentuk kehidupan bersama.
Data Buku Judul: Koloni Penulis: Ratih Kumala Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Terbit: Agustus 2025 Jumlah halaman: 246 halaman pada data katalog cetakan pertama ISBN: 978-602-06-8445-1
