Konten dari Pengguna

Fenomena Feodalisme di Lingkungan Kampus: Benarkah Masih Terjadi?

Dimas Setya Budiarso

Dimas Setya Budiarso

Mahasiswa Universitas Pamulang - Fakultas Ilmu Komunikasi - Prodi Ilmu Komunikasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Setya Budiarso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengantar: Apa Itu Feodalisme?

Feodalisme adalah sistem sosial, politik, atau ekonomi yang ditandai oleh adanya hierarki kekuasaan yang kuat dan hubungan dominasi antara pihak yang lebih berkuasa dan pihak yang lebih lemah. Sistem ini menciptakan kesenjangan dalam komunikasi, menghambat kebebasan berpendapat, dan membuka ruang bagi penyalahgunaan wewenang.

Meskipun istilah ini lebih sering dikaitkan dengan sistem pemerintahan di masa lampau, praktik-praktik yang mencerminkan nilai-nilai feodal masih kerap ditemukan dalam kehidupan modern—termasuk di lingkungan kampus.

Feodalisme di Lingkungan Kampus: Realita atau Persepsi?

Fenomena feodalisme di kampus tidak dapat dipungkiri masih terjadi, baik secara terang-terangan maupun terselubung. Hierarki yang kaku antara dosen dan mahasiswa, atau bahkan antar sesama mahasiswa (melalui budaya senioritas), menimbulkan hubungan yang tidak sehat dan seringkali bersifat toksik.

Ilustrasi pribadi penulis

Beberapa contoh nyata dari praktik ini di antaranya:

Mahasiswa yang menjadi asisten dosen diminta melakukan pekerjaan di luar konteks akademik, seperti menjadi sopir pribadi, pembantu administrasi, atau mengurus kebutuhan pribadi dosen, sering kali tanpa kompensasi yang layak.

Budaya senioritas dalam organisasi mahasiswa yang mendorong praktik intimidasi, pembully-an, dan pembuatan kebijakan sepihak yang merugikan anggota baru.

Dampak Negatif Feodalisme di Kampus

Feodalisme memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan individu dan budaya akademik di kampus, antara lain:

  • Membungkam ruang berpikir kritis karena mahasiswa takut menyampaikan pendapat atau kritik.

  • Menumbuhkan sikap pasif dan takut terhadap otoritas.

  • Menjadi pola yang diwariskan ketika mahasiswa yang pernah mengalami praktik feodal menduplikasi perilaku tersebut saat mereka berada di posisi yang lebih tinggi.

Jika tidak dihentikan, siklus ini akan terus berulang dan merusak kultur akademik yang seharusnya menjunjung tinggi kebebasan berpikir, dialog, dan rasa hormat yang sehat antar individu.

Ilustrasi pribadi penulis

Solusi: Membangun Budaya Kampus yang Sehat dan Setara

Untuk memutus rantai feodalisme di kampus, diperlukan upaya dari semua pihak:

  • Dosen dan tenaga pendidik perlu membangun relasi yang sehat dan profesional dengan mahasiswa, serta menghargai pendapat mereka sebagai bagian dari proses akademik.

  • Mahasiswa perlu diberdayakan untuk berani menyampaikan pendapat dan kritik dengan cara yang etis.

  • Organisasi kemahasiswaan harus mereformasi budaya internal dan menghapus praktik senioritas yang berlebihan.

Etika komunikasi, penghargaan terhadap perbedaan pendapat, serta transparansi dalam pengambilan keputusan harus menjadi nilai dasar dalam kehidupan kampus.

Peran Zaman dan Teknologi dalam Mereduksi Feodalisme

Perkembangan teknologi dan perubahan zaman turut berperan dalam mengikis budaya feodal. Di era digital dan kapitalisme modern, prestasi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama kesuksesan dalam dunia pendidikan dan kerja. Hal ini mendorong kampus untuk lebih terbuka, demokratis, dan berorientasi pada kolaborasi.

Banyak institusi kini mulai sadar akan pentingnya menciptakan ekosistem kampus yang sehat. Bahkan, nilai-nilai anti-feodalisme mulai dikampanyekan secara aktif dalam kegiatan orientasi mahasiswa baru (PKKMB), sebagai bagian dari upaya membentuk generasi akademik yang kritis, adil, dan setara.

ilustrasi pribadi penulis

Penutup: Benar atau Salah?

Benar. Feodalisme masih terjadi di lingkungan kampus, meskipun tidak selalu terlihat secara kasat mata. Namun, kesadaran kolektif dan perkembangan zaman memberi harapan bahwa sistem ini bisa ditinggalkan. Kampus seharusnya menjadi ruang pembebasan, bukan penindasan; tempat bertumbuh bersama, bukan saling merendahkan.