Filosofi Arti Kata Ningrat

Dimas Sigit Cahyokusumo
Alumni Program Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) UGM
Konten dari Pengguna
15 Agustus 2023 17:29 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Dimas Sigit Cahyokusumo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto Dokumentasi Pribadi
ADVERTISEMENT
Di Indonesia, nyaris seluruh orang secara umum telah mengetahui apa itu darah biru. Sebutan ini biasanya sering disematkan pada seseorang yang mempunyai garis keturunan bangsawan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bangsawan ialah generasi orang agung (paling utama raja serta keluarganya). Di Indonesia kata bangsawan sering dipertautkan dengan istilah ningrat. Ningrat di dalam alam pemikiran Masyarakat pada umumnya selalu dikaitkan dengan status sosial.
ADVERTISEMENT
Orang yang memiliki status sebagai keturunan raja atau ningrat sering mendapatkan kedudukan istimewa di lingkungan sosial. Kata ningrat sering diperlawankan dengan istilah rakyat jelata. Padahal jika kita berpandangan lebih luas terkait kemanusiaan kita semua ini sama. Tidak selamanya istilah ningrat itu merujuk pada makna darah biru atau bangsawan. Menurut pakar filsafat Prof. Dr. Damardjati Supadjar kata ningrat tidak selalu kepada makna kebangsawanan. Ningrat itu berarti “ning” yang artinya adalah kasunyatan, hakiki, realitas dan “rat” itu jiwa. Sehingga ningrat dipahami lebih pada kualitas diri bukan sebagai status sosial.
ADVERTISEMENT
Kualitas diri seseorang dalam kata ningrat dilihat dari cara ia memaknai kehidupan seperti mawas diri. Mawas diri memiliki karakteristik yang sangat penting, yakni mampu menyeimbangkan antara nalar pikiran dan hati perasaan. Kedua kemampuan internal manusia yang berpusat di dada dan kepala tersebut diintergrasikan dengan seimbang.
Nalar simbol tafakkur, yakni perenungan untuk meningkatkan keimanan seseorang, yaitu dengan memikirkan dan merenungkan kebesaran Allah Swt. Sedangkan hati adalah simbol tadzakkur, yakni upaya untuk mengalihkan berbagai gangguan pikiran dan perasaan serta berada pada puncak ketenangan batin. Sehingga tadzakkur adalah suasana batin seseorang yang sampai pada kesadaran puncak bahwa Tuhan begitu dekat dan tidak lagi berjarak pada makhluk-Nya.
Ningrat, oleh karena itu bukan semata-mata merujuk pada status sosial keturunan raja. Melainkan sikap pribadi seseorang dalam memaknai kehidupannya. Sehingga orang yang sudah sampai pada tahap mawas diri atau hidup dengan laku prihatin yang penuh rasa syukur dan sabar merupakan orang dengan pribadi yang ningrat.
ADVERTISEMENT