Filosofi Ngopi

Alumni Program Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) UGM
Tulisan dari Dimas Sigit Cahyokusumo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ngopi memang bukan narasi besar di dalam kehidupan manusia. Ngopi adalah narasi pinggiran, ia adalah jeda dari aktivitas manusia. ngopi bukan sekedar aktivitas sederhana. Setidaknya ngopi adalah jeda di tengah kenyataan hidup sehari-hari yang menakutkan, di tengah mobilitas manusia yang bekerja bagaikan mesin, dan di tengah target kehidupan yang harus dipenuhi.
Dalam jeda kehidupan sambil ngopi sendirian, seseorang bisa merenungkan kembali tujuan hidupnya. Ia bisa memikirkan apa yang seharusnya diperbuat dalam hidup. Selain itu, ngopi juga mampu memberikan kekuatan yang menyegarkan diri di tengah gempuran kenyataan hidup yang membosankan. Paling tidak dengan ngopi kesadaran kita sebagai manusia masih bisa dijaga dengan baik. Menikmati kopi memiliki tata cara tersendiri, baik di kesendirian maupun bersama-sama. Ada yang menganut bahwa kenikmatan ngopi hanya dapat diraih jika dilakukan bersama-sama, sebagian yang lain lebih memilih ngopi dalam kesendiriannya, namun tidak sedikit dari mereka mengaku meraih kenikmatan dengan mengondisikan keduannya. Walaupun berbeda cara, aktivitas ngopi memiliki tujuan yang sama dalam mencari kenikmatan sesuai kondisi psikologis masing-masing.
Di dalam ngopi, ada interaksi yang terbangun. Hanya dengan ngopi silahturami terjalin dengan baik. Dalam aktivitas ngopi para penikmat kopi saling berbagi kenikmatan dengan penikmat lain melalui cerita, diskusi, dan saling mengungkapkan perasaan satu sama lain. Bahkan di dalam masyarakat Jawa ada istilah “urip mung mampir ngombe”. Arti harfiahnya, hidup hanyalah menumpang minum. Ungkapan ini menggambarkan betapa hidup manusia itu sangat singkat. Sesingkat kita mampir minum di warung. Tetapi dalam ketersingkatan hidup yang dijalani manusia memiliki rangkaian peristiwa yang bermakna, selalu ada lika-liku yang datang menghampiri untuk menambahkan rasa dalam setiap kehidupan. Sebagaimana rasa kopi ada pahit, manis, dan gurih. Perpisahan, penderitaan, pertemuan, dan kebahagiaan itu butuh keseimbangan. Hidup ini hanya mampir ngopi.
