Manusia Pewaris Bumi: Orang Beriman dan Berilmu

Alumni Program Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) UGM
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dimas Sigit Cahyokusumo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam al-Qur’an Allah Swt berfirman; “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (QS. Al-Baqarah: 30). Di dalam surah Al-Baqarah ayat 30 Allah Swt menerangkan kepada malaikat akan menciptakan manusia untuk mengelola bumi. Bumi dengan segala kekayaannya yang berlimpah ruah dipercayakan kepada manusia untuk menjaga dan mengelolanya. Sebab dalam surah at-Tin ayat 4, Allah Swt menjelaskan; “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”.
Kesempurnaan manusia ini terletak pada potensinya. Melalui potensinya ini manusia bisa mengelola bumi dan kekayaannya dengan baik. Sebab tanpa potensi yang baik dan benar mustahil manusia bisa menjaga dan merawat bumi dengan baik. Menurut Prof. Komaruddin Hidayat bumi dengan segala kekayaannya hanya diwarisi oleh dua hal, yakni orang beriman dan berilmu. Manifestasi dari seorang beriman adalah akhlak dan perilakunya. Iman yang kokoh kuat akan dimanifestasikan dalam bentuk akhlak yang baik dan mulia. Sedangkan akhlak yang buruk dan hina adalah gambaran lemahnya iman seseorang.
Sosok yang lemah imannya akan mudah tergelincir pada perbuatan buruk, padahal salah satu lemahnya iman adalah hilangnya rasa malu. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda; “Rasa malu dan iman itu sebenarnya padu menjadi satu, maka bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lain”. Hari ini, banyak orang yang tidak malu-malu mempertontonkan dirinya yang bangga akan sikap rakus, sekarah, korupsi terhadap sumber kekayaan alam Indonesia. Mereka rela melakukan cara demi kekayaan pribadi. Padahal Allah menciptakan bumi serta kekayaan yang terkandung didalamnya diamanahkan kepada manusia yang memiliki potensi baik, salah satunya adalah akhlak yang berakar dari iman. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda; “Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya diantara mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Selain akhlak yang baik, potensi manusia selanjutnya yang tak ternilai harganya adalah ilmu. Ilmu pengetahuan memiliki peran besar dalam kehidupan seseorang, karena dengan ilmu pengetahuan maka manusia dapat bermanfaat untuk keluarga dan sekitarnya. Oleh karena itu, ilmu yang dimiliki seseorang sudah seharusnya dipergunakan untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Dalam kitab tafsir Mafatih Al-Ghayb, Imam Ar-Razi menegaskan bahwa misi diutusnya seorang nabi adalah menggabungkan antara dimensi iman dan dimensi kemaslahatan umat. Keduanya merupakan kekuatan yang dahsyat dalam rangka membangun masyarakat yang dicintai Allah Swt, yakni masyarakat yang makmur dan berkah (Patoni, 2022).
Seluruh manusia memiliki kewajiban yang sama dalam menjaga dan melestarikan lingkungan, yaitu melakukan sesuatu yang bermanfaat melalui ilmu pengetahuan. Sebab tugas ilmu merupakan usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi dalam alam semesta yang tujuannya untuk kesejahteraan, kemakmuran, dan kebaikan bagi manusia. Sehingga sikap beriman dan berilmu inilah yang diharapkan sebagai pewaris bumi, agar bumi yang kita tempati menjadi bumi yang baik, aman, dan sejahtera.
Daftar Referensi
Patoni. (2022, Mei 30). Pentingnya Menjaga Kelestarian Lingkungan Menurut Ajaran Islam. Retrieved from Nu.or.id.
