Konten dari Pengguna

Pendidikan Spiritual dalam Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta

Dimas Sigit Cahyokusumo

Dimas Sigit Cahyokusumo

Alumni Program Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) UGM

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Sigit Cahyokusumo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto Dokumentasi Pribadi

Film dalam pengertian sempit adalah penyajian gambar melalui layar lebar. Adapun dalam pengertian yang lebih luas, gambar yang disiarkan melalui televisi (TV) dapat pula dikategorikan sebagai film. Menurut Jean Luc Godard, sineas new wave asal Perancis, mengilustrasikan film sebagai “papan tulis”. Menurutnya, sebuah film yang revolusioner dapat menunjukkan bagaimana perjuangan senjata dapat dilakukan (Wahyuningsih, 2019).

Pada sejumlah periode tertentu film tidak hanya berkembang sebagai media hiburan, namun juga sebagai media informasi dan pendidikan. Di Indonesia khususnya, ada banyak film yang menjadi sebuah media dalam menyampaikan pendidikan dan kebudayaan, salah satunya adalah film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta (2018) karya sutradara Hanung Bramantyo.

Sekilas Tentang Sultan Agung

Film Sultan Agung sejatinya bukan hanya film hiburan tanpa makna, melainkan sebuah film yang mengangkat salah satu kisah sejarah peradaban Indonesia yang berbasis ajaran Islam. Sebagaimana digambarkan dalam Babad Tanah Jawi, pada masa Kesultanan Mataram Islam, raja diberi wewenang untuk menjadi panutan dalam bidang keagamaan (panatagama). Sultan Agung adalah seorang muslim yang taat menjalankan agama Islam.

Karena itu, Sultan Agung menjadi gelar Sayyidin Panatagama, yang berarti pengurus agama, panatagama, atau pengatur agama, dan khalifatullah (wakil Allah). Dengan kedudukannya sebagai seorang raja Islam yang taat, maka agama Islam diangkat menjadi agama resmi kerajaan Mataram Islam. Inilah yang sering disebut agama ageing aji, yang artinya bahwa agama rakyat adalah agama rajanya (Abimanyu, 2024). Bahkan pakar filologi asal Jerman Prof. Dr. Edwin P. Wieringa mengatakan bahwa Sultan Agung adalah orang yang taat kepada agama; ia adalah raja Muslim yang shalih (Bahri, 2022).

Pernyataan Prof Wieringa bukan tanpa landasan, melainkan berdasarkan fakta sejarah bahwa sejak dahulu Sultan Agung telah didik dalam kultur lingkungan yang mengedepankan nilai-nilai spiritual. Nilai spiritual inilah yang coba diangkat dalam film Sultan Agung melalui beberapa dialog dan percakapan yang penuh dengan nilai dan makna.

Pendidikan Spiritual dalam Film "Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta"

Pendidikan Spiritual menurut Quraish Shihab adalah proses memupuk kesadaran dan hubungan batin dengan Allah Swt untuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat (Syafi'i, 2025). Dalam film Sultan Agung terdapat dialog yang menekankan pentingnya nilai-nilai spiritual di antaranya:

Raden Mas Rangsang atau Sultan Agung bertanya kepada Kyai Jejer, "Ki, manusia itu bisa tidak memilih takdirnya sendiri?"

Kyai Jejer: "Tuhan tidak akan mengubah takdir suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya."

Dialog ini menekankan pentingnya mengimani takdir qada dan qadar. Sebab menurut KH. Abdul Karim Jamak seorang ulama dan tokoh agama dari Jambi pendiri organisasi Jam’iyyatul Islamiyah mengatakan bahwa penghayatan kepada takdir dapat melahirkan rasa tenang dan ridha dengan segala yang telah ditentukan Allah. Dengan begitu manusia akan mengenal Allah sebagai al-Khaliq (pencipta) segala sesuatu (Zuhdi, 2021).

Kang Singaranu: "Latihan tanding dina iki wis rampung. Saiki dewe ngaji piwulang Kanjeng Eyang Sunan Kalijaga karo sisan salat Zuhur ning nduwur" (Latihan tanding hari ini sudah selesai. Sekarang kita belajar ajaran Eyang Sunan Kalijaga sekalian salat Zuhur di atas).

Dialog di atas menggambarkan bahwa sesibuk apa pun kita di dunia, jangan pernah meninggalkan ibadah. Dalam salah satu ceramah, Gus Baha mengatakan, “teruslah menuju Allah, walaupun kita tidak bisa sempurna atau ideal”. Jangan tunggu sempurna dulu, baru mendekatkan diri kepada Allah. Intinya, jangan tunda untuk berbuat baik dan beribadah, sekalipun yang kita lakukan itu terlihat sederhana.

Ki Jejer: "Para santriku semua, malam ini kita memanjatkan doa. Sinuwun Panembahan Hanyakrawati ayah dari Raden Mas Rangsang (Sultan Agung) tadi pagi wafat ing Desa Krapyak."

Adegan di atas menggambarkan arti pentingnya sebuah doa. Menurut Quraish Shihab, doa mencerminkan bentuk pendidikan spiritual yang sangat dalam. Selain itu, peranan doa juga dapat menjadikan seorang hidup dalam optimisme.

Ki Jejer: “piye? Wis ketemu sing ko goleki?

Lembayung (menggeleng)

Ki Jejer: “ya. Takdir kue nek wis arep jemput ora ana sing bisa nyelaki. Mulo kue yo sing sabar wae ya, tawakal ya, di ikhlaske wae ya.

Dialog di atas menggambarkan bahwa manusia itu harus bisa menjalani hidup dengan sabar, syukur, dan bertawakal atas sesuatu yang diberikan Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Gus Baha bahwa sabar dan tawakal adalah dua hal yang akan menyelamatkan kita dari kegelisahan. Orang yang sabar tidak mudah panik saat menghadapi masalah, dan orang yang tawakal percaya bahwa apa pun hasil dari usahannya, pasti ada hikmah dibaliknya.

Lembayung: “kenapa kakang memilih jadi rakyat biasa sepertiku? Lebih enak di keraton toh?

Raden Mas Rangsang: “halah ngerti opo kowe bab keraton? Hidup di tengah kekuasaan itu sering membuat orang lupa diri”

Lembayung: “Kang Seto juga pernah mengatakan itu ke aku. Dia selalu mengingatkan aku untuk tetap rendah hati, adil dan menghargai orang lain”

Dialog di atas mengajarkan bahwa kekuasaan sejatinya jika dipergunakan dengan tidak baik akan membuat orang menjadi sombong, rakus, dan lupa diri. Oleh karena itu, hidup harus sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW:

“(Di antara) penghuni surga ialah tiga orang; seorang penguasa yang adil, serta ahli sedekah dan mendapat bimbingan dari Allah; orang yang memiliki sifat penyayang dan lembut hati kepada keluarga dekatnya dan setiap kepada muslim serta orang yang tidak mau meminta-minta sementara ia menanggung beban keluarga yang banyak jumlahnya”