Perempuan dan Perdamaian

Alumni Program Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) UGM
Konten dari Pengguna
8 Agustus 2022 10:56
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Dimas Sigit Cahyokusumo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto Dokumentasi Pribadi
ADVERTISEMENT
Selama ini perempuan sering diidentikkan sebagai makhluk yang lemah. Padahal sejarah mencatat banyak dari perempuan di berbagai negara yang memiliki semangat dan komitmen kuat untuk mewujudkan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan. Salah satunya adalah Wangari Muta Maathai pejuang perdamaian asal Kenya.
ADVERTISEMENT
Wangari Muta Maathai lahir pada 1 April 1940, di Kenya. Ia dibesarkan dalam sistem adat tradisional kikuyu yang berakar pada gagasan rasa syukur, pelestarian, dan konservasi alam. Sejak kecil Wangari Muta sangat dipengaruhi oleh dua nilai kunci yang ditemukan dalam tradisi Jepang dan Yahudi, yaitu mottainai (jangan buang), merupakan istilah Jepang untuk benda, sumberdaya, dan waktu, yang berarti rasa syukur atas berkah yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita untuk menggunakan sumber daya dengan bijaksana. Dan tikkun olam (memperbaiki dunia), merupakan istilah Yahudi yang berarti rasa keadilan. Menurut Wangari Muta kedua nilai itu adalah kunci untuk pemberdayaan diri (Mirza).
Sejak kecil Wangari Muta sering membantu ibunya untuk mengambil air tawar. Saat sedang mengambil air, ia berhenti sejenak untuk minum. Saat sedang minum, Wangari Muta kagum dengan kejernihan air dan kelestarian alamnya. Tetapi setengah abad kemudian, kelestarian alam dan air yang jernih itu hilang akibat pengeringan daerah aliran sungai, penggundulan hutan, dan degradasi sumber daya alam.
ADVERTISEMENT
Menyadari kenyataan itu, Sebagaimana yang pernah dikatakannya “seringkali perempuan menjadi orang pertama yang menyadari kerusakan lingkungan karena sumber daya alam menjadi langka”. Ia kemudian berinisiatif membangun kembali kelestarian alam yang sejak kecil ia kagumi. Dengan mendirikan gerakan sabuk hijau pada tahun 1977, yang merupakan organisasi lingkungan berfokus pada penanaman pohon, pelestarian lingkungan, dan memperjuangkan hak-hak perempuan. Misi gerakan sabuk hijau ini berusaha untuk melakukan pengelolaan lingkungan yang lebih baik, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan mata pencaharian melalui penanaman pohon. Sedangkan visinya mendorong masyarakat untuk memerangi penggundulan hutan yang mengancam kehidupan manusia. (Khattab, 2016). Apa yang dilakukan oleh Wangari Muta ini persis seperti yang dikatakan oleh Rodda seorang aktivis lingkungan yang berpendapat bahwa perempuan tidak hanya mengawasi kerusakan lingkungan, namun juga berperan penting dalam hal pengelolaan lingkungan. Hal tersebut dapat diketahui dari peran perempuan, yaitu: (Candraningrum, 2014)
ADVERTISEMENT
Producers, sebagai producers perempuan dapat menghasilkan makanan yang berasal dari tanaman yang ditanam.
Consumers, sebagai consumers perempuan yang mengambil hasil dari tanaman atau hewan yang ada di alam, seperti mencari kayu bakar, mengambil air, dan mencari tanaman obat-obatan di hutan.
Campaigners, sebagai campaigners perempuan yang mengampanyekan pentingnya memelihara lingkungan.
Educators, dapat dilihat dari proses alih pengetahuan mengenai berbagai kegiatan produktif maupun reproduktif kepada anak-anak perempuannya.
Communicators, perempuan mampu memasarkan hasil dari alam lingkungannya ke tempat lain.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan, bahwa sebetulnya perempuan memiliki indigenous knowledge dalam mengelola sumber daya lokal. Perjalanan Wungari Muta untuk memperjuangkan perdamaian dan kemanusiaan tidak selalu lancar. Pada tahun 1989 Wangari Muta memimpin kampanye lingkungan menentang pembangunan kompleks perdagangan dan perbelanjaan di taman uhuru. Ia menyerukan semua organisasi yang terlibat untuk menentang pembangunan tersebut. Atas aksinya ini menyebabkan proyek tersebut dibatalkan.
ADVERTISEMENT
Pada awal 1990 ia mendorong gerakan demokrasi dan memprotes penangkapan aktivis politik. Pada tahun 1993, seluruh aktivis politik dibebaskan tetapi Wangari Muta ditangkap dan ditahan karena dituduh melakukan penghinaan terhadap pemerintah. Sejak akhir tahun 90-an Wangari Muta berhasil mengambil alih pemerintahan dan mendorong masyarakat untuk memprivatisasi sebagaian besar lahan publik di hutan kakura sambil melakukan penanaman pohon. Tetapi aksinya itu diserang oleh sekelompok orang yang tidak menyukai dirinya. Pada tahun 2002 dia diangkat menjadi asisten menteri di kementerian lingkungan hidup dan sumber daya alam. Pada tahun 2003 dia mendirikan partai hijau mazingira untuk mewujudkan kelestarian alam (Vercida, 2019).
Wangari Muta juga dikenal sebagai aktivis politik yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia. Karena menurut Wangari Muta ada hubungan erat antara pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dengan tata pemerintahan yang baik. Sebagaimana yang pernah disampaikan Wangari Muta dalam pidatonya di Gwangju, Korea Selatan tahun 2006, yang mengatakan bahwa “pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan hanya mungkin jika kita mempraktikkan tata pemerintahan yang baik, yang menyerukan penghormatan kepada hak asasi manusia, menegakkan keadilan, kesetaraan tanpa memandang ras, agama, gender, dan membagi sumber daya secara merata. Sebab dengan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan mempratikkan tata pemerintahan yang baik secara tidak langsung kita telah mempromosikan budaya perdamaian” (Maathai, 2006).
ADVERTISEMENT
Dalam menjelaskan hubungan antara pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan tata pemerintahan yang baik. Wangari Muta menggunakan filosofi bangku tradisional Afrika, yang terdiri dari kursi dengan kaki penyangga: (Araya, 2021)
• Kursi, digambarkan sebagai ruang demokrasi, yang mana hak-hak laki-laki, perempuan, anak-anak, dan lingkungan dihormati.
• Kaki kedua, melambangkan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan baik bagi mereka yang hidup saat ini maupun yang akan datang, secara adil dan merata, termasuk bagi masyarakat yang terpinggirkan.
• Kaki ketiga, adalah singkatan dari apa yang disebut budaya damai. Ini mengambil bentuk keadilan, rasa hormat, kasih sayang, dan pengampunan.
Apa yang diperjuangkan oleh Wangari Muta ini persis seperti yang disampaikan oleh Johan Galtung bahwa perdamaian bukan tidak adanya konflik, perang, dan kekerasan melainkan terciptanya keadilan sosial. Atas perjuangannya itu Wangari Muta dianugerahi nobel perdamaian pada tahun 2004.
ADVERTISEMENT
Daftar Pustaka
Araya, Y. (2021, Maret 1). Wangari Maathai: Standing Up for Women and the Environment. Retrieved from The Open University.
Candraningrum, D. (2014). Ekofeminisme II (Narasi Iman, Mitos, Air & Tanah). Yogyakarta: Jalasutra.
Khattab, S. (2016, Oktober 27). Wangari Maathai: The Green Belt Movement. Retrieved from Eye On Sciene Planet.
Maathai, W. (2006, Juni 16). Sustained Devolempent, Democracy, and Peace in Africa. Retrieved from Green Belt Movement.org.
Mirza, U. (n.d.). Wangari Maathai and the Green Belt Movement. Retrieved from Learning to Give.
Vercida. (2019, Oktober 1). In The Spotlight: Wangari Maathai. Retrieved from Vercida.com.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020