Konten dari Pengguna

Ketika Persaingan Politik Berujung pada Persaingan Klub

Dimas Farras Andika

Dimas Farras Andika

Mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Farras Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sepakbola. Sumber : Unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sepakbola. Sumber : Unsplash.com

Rivalitas antar klub sepakbola bukan hanya terjadi karena hasil skor di lapangan. Banyak rivalitas berawal dari kondisi sosial dan politik yang sudah ada jauh sebelum klub itu berdiri. Pada beberapa wilayah, perbedaan kelas hingga ideologi membentuk cara memandang klub rival. Stadion menjadi tempat semua ketegangan itu ditumpahkan lewat chant, spanduk, dan atribut. Ketika dua klub rival bertemu, yang benar-benar berhadapan bukan sekedar kesebelasan pemain di lapangan, tapi juga persaingan yang dibentuk oleh kondisi sosial dan politik di belakang mereka.

Persaingan atas Perbedaan Identitas Agama

Di Eropa sendiri terdapat berbagai klub yang memulai rivalitas atas dasar persaingan sosial dan politik. Di Skotlandia, klub asal Glasgow, Celtic dan Rangers sejak lama bersaing karena politik identitas. Hal ini dilatarbelakangi Celtic yang tumbuh dari komunitas Katolik–Irlandia yang mendukung gerakan kemerdekaan Irlandia, sementara Rangers mewakili kelompok Protestan loyalis yang pro-Inggris. Pertandingan keduanya yang dikenal sebagai Old Firm Derby, mempertemukan dua keyakinan politik yang sudah berlawanan selama lebih dari satu abad ke dalam satu pertandingan.

Persaingan Klub Raksasa Bermula dari Perlawanan Katalonia

Tidak sah rasanya jika belum menyebut dua raksasa sepakbola Eropa asal Spanyol, Real Madrid dan Barcelona. Keduanya seringkali bersaing pada laga panas El-Classico dengan adanya intrik perselisihan pada setiap pertandingan. Pertemuan kedua klub tersebut memang sudah lama menjadi simbol pertarungan politik dan identitas nasional. Barcelona sebagai klub yang mewakili wilayah Katalonia yang dikenal memiliki bahasa, budaya, dan aspirasi politik yang berbeda dengan Spanyol, sementara Real Madrid seringkali dipandang sebagai representasi pemerintah pusat yang menegaskan keutuhan Spanyol. Pada masa rezim Fransisco Franco yang mendukung nasionalisme Spanyol menyebabkan ketegangan diantara keduanya karena Real Madrid dianggap mendapat dukungan kekuasaan, sementara Barcelona dijadikan saluran ekspresi bagi gerakan separatis Katalonia yang merasa ditekan oleh rezim Franco dalam bentuk perlawanan tak bersenjata atas kekuasaan pusat. Hingga kini, pertandingan keduanya tidak hanya sarat akan rivalitas di lapangan semata, tetapi juga mengandung rivalitas politik dan identitas yang mengakar kuat di masyarakat.

Kanan vs Kiri di Tanah Italia

Italia juga memiliki beberapa klub yang menjadi rival akibat perbedaan ideologi politik. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah rivalitas antara S.S. Lazio dan A.S. Livorno. Lazio seringkali dianggap sebagai klub dengan spektrum kanan dan nasionalis, sebuah karakter yang terbentuk dari sejarah klub dan lingkungan sosial di sekitarnya. Sementara itu, Livorno dikenal sebagai klub dengan tradisi kiri yang kuat, lahir dari kota pelabuhan yang sejak lama menjadi pusat gerakan buruh dan politik komunis di Italia.

Pertemuan kedua klub ini pada Derby Ideologico menjadi ajang benturan ideologi kiri kontra kanan. Lazio yang membawa identitas konservatif dan nasionalis, sedangkan Livorno merepresentasikan semangat kiri dan perlawanan kelas pekerja. Sehingga bagi beberapa orang, pertandingan antara Le Aquile dan Le Amaranto seperti pertandingan politik yang dikemas dalam laga sepakbola.

Derby Tanah Raja-Raja Jawa

Jauh dari Eropa, tepatnya Indonesia juga memiliki rivalitas klub yang sarat akan persaingan politik juga. PSIM Yogyakarta dan Persis Solo, merupakan klub yang berasal dari kedua daerah yang tersisa dari sejarah Mataram yang terbelah pada dua kekuasaan berbeda. Identitas budaya yang terbentuk pada masa lalu, membentuk interaksi kedua kota ini memandang satu sama lain di masa kini, dengan tumbuhnya rasa kedaerahan yang kuat, di mana tiap kota berusaha menjaga warisan dan pengaruhnya sejak masa kesultanan. Seiring waktu, dinamika tersebut menjalar ke berbagai aspek kehidupan, termasuk olahraga. Ketika sepakbola mulai mengakar di Indonesia, rivalitas historis itu pun ikut terbawa, sehingga pertemuan PSIM dan Persis bukan sekadar laga biasa. Bahkan pertandingan yang mempertemukan keduanya ini dinamakan Derby Mataram, sebuah sejarah besar antara sebuah nama yang langsung mengingatkan orang pada sejarah panjang Yogyakarta dan Solo.

Rivalitas dalam sepakbola terkadang lebih dari sekadar perebutan angka atau gengsi di lapangan. Di banyak tempat, pertandingan menjadi ruang untuk mengekspresikan sejarah, identitas, dan perbedaan cara pandang yang telah hidup jauh sebelum sebuah klub terbentuk. Dari Glasgow hingga Barcelona, dari Roma sampai Yogyakarta, sepakbola menunjukkan tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan kisah panjang apa yang melekat pada nama klub yang kita dukung.