Konten dari Pengguna

Ketika Seragam Membuat Sifat Manusia Berubah

Dimas Farras Andika

Dimas Farras Andika

Mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Farras Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Seragam (Hannah Wernecke : Unsplash.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Seragam (Hannah Wernecke : Unsplash.com)

Pernahkah dalam kehidupan yang dijalani, menemui perubahan sifat seseorang yang dikenali karena satu hal. Sosok yang dikenal sebagai orang yang ceria berubah menjadi penyendiri, lalu sosok yang dikenal idealis berubah menjadi rasionalis. Seringkali perubahan tersebut didasari karena faktor-faktor seperti; ekonomi, keadaan keluarga, hingga masalah pribadi yang menimpa. Tetapi, pernahkah dalam kehidupan yang kalian jalani menemui sosok yang kalian kenal berubah karena diberi seragam oleh lembaga yang mereka sedang bertugas di dalamnya. Mengapa sebuah benda yang berupa pakaian dapat merubah sifat seseorang?

Lantas, apa sebenarnya makna seragam yang kemudian memengaruhi perilaku dalam kehidupan sosial? Untuk menjawabnya, simak pembahasan berikut.

Apa Sebenarnya Makna Melekat Pada Sebuah Seragam

Seragam yang digunakan seseorang pada dasarnya bukan hanya sekadar pakaian yang berguna untuk menyeragamkan penampilan, melainkan bentuk simbol yang akan membawa identitas dan peran tertentu. Ketika seseorang telah mengenakan seragam, ia secara tidak langsung memperlihatkan afiliasi terhadap suatu lembaga, aturan, dan nilai-nilai yang dianut oleh institusi tersebut. Seragam dijadikan sebagai penanda yang mudah dikenali oleh lingkungan di sekitarnya. Selain itu, makna seragam juga terletak pada fungsi representatifnya. Seorang individu yang memakai seragam tidak lagi dipandang sebagai satu pribadi saja, melainkan sebagai kepanjangan atau perwakilan dari institusi yang diwakilinya. Oleh sebab itu, segala bentuk tindakan, sikap, dan ucapan seseorang sering kali dikaitkan pada lembaga tempat ia bertugas, sehingga seragam membawa beban tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan pakaian biasa.

Mengapa Seragam Dapat Memengaruhi Sikap dan Perilaku?

Makna simbolik yang melekat pada seragam kemudian akan membentuk persepsi sosial tertentu, terutama yang berkaitan dengan otoritas dan legitimasi. Dalam penelitian Hajo Adam dan Adam Galinsky berjudul Enclothed Cognition (2012), dijelaskan jika pakaian yang dikenakan seseorang dapat memengaruhi cara berpikir dan bersikap karena makna simbolis yang dikaitkan dengannya. Dalam konteks penggunaan seragam, hal ini sering kali memunculkan anggapan bahwa pemakainya memiliki wewenang tertentu, baik untuk mengatur, menegur, maupun mengambil keputusan. Persepsi tersebut tidak semata-mata muncul dari tindakan individu, melainkan dari pemahaman yang telah lama terbentuk dalam masyarakat mengenai simbol kekuasaan dan keteraturan.

Pengaruh seragam tidak hanya berpengaruh secara eksternal, tetapi juga secara internal pada diri pemakainya. Seragam dapat membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri, terutama dalam menjalankan tugas serta peran pada institusi tempat ia bertugas. Kesadaran akan posisi dan tanggung jawab tersebut kerap kali memunculkan sikap seperti kedisiplinan, rasa tanggung jawab, hingga ketegasan, sebagai konsekuensi dari tuntutan norma dan ekspektasi yang menyertainya.

Oleh karena itu, seragam dapat disimpulkan memiliki dua makna sekaligus, yaitu sebagai simbol eksternal yang memengaruhi cara orang lain bersikap terhadap pemakainya, sekaligus sebagai simbol internal yang membentuk cara individu bertindak. Atas sebab tersebut penjelasan mengapa seragam sering kali mampu memengaruhi sikap dan perilaku seseorang, bukan karena pakaian itu sendiri, melainkan karena makna sosial dan psikologis yang dilekatkan padanya.

Seragam dan Potensi Penyalahgunaan Peran

Seragam yang pada awalnya dirancang untuk menampilkan afiliasi serta memberikan kejelasan peran, aslinya tidak selalu bekerja secara ideal. Makna otoritas dan legitimasi yang melekat pada seragam dapat memunculkan penyalahgunaan peran, terutama dalam batasan antara pekerjaan dan kepentingan pribadi. Seragam tidak lagi dipandang sebagai simbol tanggung jawab, melainkan alat untuk menegaskan kuasa. Penyalahgunaan peran sering kali berangkat dari persepsi sosial yang terlalu besar terhadap seragam. Ketika suatu masyarakat cenderung untuk mematuhi pemakai seragam tanpa mempertanyakan, posisi tersebut dapat dijadikan peluang untuk memanipulasi kewenangan untuk mengatur, menekan, atau bahkan membenarkan tindakan yang sebenarnya berada di luar kewenangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekuatan seragam tidak hanya terletak pada aturan yang tertulis, tetapi juga pada kepercayaan sosial yang menyertainya.

Dari sisi pemakainya, seragam dapat memunculkan rasa superioritas yang tidak disadari. Kesadaran bahwa dirinya memiliki legitimasi, seringkali membuat seseorang merasa lebih berhak untuk mengontrol situasi. Ketiadaan pengawasan yang memadai memungkinkan peran yang seharusnya dijalankan secara profesional dapat bergeser menjadi otoriter, meskipun dibungkus dengan alasan dalam menjalankan tugas. Namun, penyalahgunaan peran sebenarnya bukanlah akibat yang dihasilkan dari seragam itu sendiri. Faktor budaya institusi, sistem hierarki yang kaku, serta lemahnya mekanisme pengawasan ikut berperan dalam memperbesar potensi tersebut.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa seragam perlu dipahami tidak hanya sebagai atribut formal, tetapi juga sebagai simbol yang menuntut tanggung jawab moral. Kesadaran etis individu dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan dalam institusi menjadi kunci agar seragam tetap berfungsi sebagai alat pelayanan, bukan sarana dominasi. Tanpa keseimbangan tersebut, makna seragam berisiko bergeser dari penegasan peran menjadi legitimasi kekuasaan semata.