Ramai-Ramai Soal Neo-Fasisme, Sebenarnya Apa Ideologi Tersebut?

Mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dimas Farras Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa hari yang lalu, ramai tersebar informasi dari Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim) Komjen Syahardianto yang mengungkapkan bahwa terdapat 68 anak remaja yang terpapar ideologi ekstrem Neo-Fasisme dan White Supremacy. Temuan tersebut memperlihatkan jika ideologi ekstrem bukanlah suatu fenomena yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan telah memasuki pikiran generasi muda melalui informasi dan interaksi digital yang semakin mudah diakses.
Lantas apa sebenarnya ideologi tersebut dan bagaimana ideologi tersebut dapat muncul dalam kehidupan sosial saat ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, simak berikut pembahasannya.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Menelusuri Akar Neo-Fasisme dari Fasisme
Sebelum menuju pada penjelasan terkait apa itu Neo-fasisme, maka perlu untuk mengetahui asal-usul ideologi yang menjadi akarnya, yaitu fasisme. Asal-usul Fasisme menurut Roger Griffin dalam bukunya The Nature of Fascism (1991) bermula dengan istilah fascio yang berkembang di Italia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Fascio berasal dari kata fasces yang mana dalam tradisi Romawi Kuno, merupakan simbol ikatan tongkat yang melambangkan persatuan, kekuasaan, dan otoritas kolektif. Dalam konteks politik modern, istilah fascio awalnya digunakan untuk menyebut kelompok atau perkumpulan politik, terutama yang bersifat militan dan menekankan solidaritas antargolongan. Ketika istilah ini kemudian diadopsi, terjadi pergeseran makna dimana fascio menjadi simbol persatuan bangsa yang berada di bawah satu kehendak bersama, sekaligus menekankan pada gagasan bahwa kekuatan politik hanya dapat tercapai melalui ikatan yang disiplin dan terpusat. Dari sinilah fasisme memperoleh dasar simbolik dan ideologis awalnya, sebelum berkembang menjadi ideologi politik yang lebih terstruktur.
Fondasi ideologis ini kemudian membuat fasisme berkembang sebagai tanggapan atas berbagai krisis besar yang melanda Eropa pasca Perang Dunia I. Hal ini, dikarenakan banyak masyarakat menghadapi ketidakpastian ekonomi, situasi politik yang tidak stabil, serta kekecewaan terhadap demokrasi liberal yang dianggap tidak mampu memberikan rasa aman dan kepastian. Dalam kondisi tersebut, fasisme menjadi jawaban atas kondisi tersebut, melalui persatuan nasional dan ketertiban sosial. Meskipun rezim-rezim fasis akhirnya runtuh setelah Perang Dunia II, gagasan dasar yang mendukung ideologi ini tidak sepenuhnya hilang. Sebagian dari pemikiran tersebut tetap bertahan dan kemudian berevolusi dengan kehidupan sosial dan politik yang baru, terutama dalam masyarakat yang menganut sistem demokrasi. Dari proses evolusi inilah Neo-fasisme muncul, bukan sebagai pengulangan langsung fasisme awal, melainkan kelanjutan ideologi yang tetap berakar pada gagasan persatuan yang bersifat terbuka dan penekanan pada otoritas kolektif.
Neo-Fasisme dalam Kehidupan Sosial Saat Ini
Di kondisi saat ini, neo-fasisme tidak lagi muncul secara terbuka seperti fasisme di masa lalu. Ideologi ini muncul lewat berbagai cara yang sering kali tidak langsung dikenali, dengan narasi yang digunakan juga biasanya terkait dengan identitas, rasa kebersamaan, dan keinginan untuk kembali pada struktur sosial yang dianggap ideal. Di perubahan sosial yang cepat, pemikiran semacam ini terasa menarik, terutama bagi mereka yang merasa kehilangan arah atau ruang dalam kehidupan sosial.
Perkembangan teknologi dan media digital juga ikut mempercepat penyebaran neo-fasisme. Media sosial memungkinkan ideologi ini menyebar melalui konten seperti gambar, video singkat, atau pesan berantai yang terlihat sederhana pada berbagai media sosial. Seringkali tanpa disadari, cara pandang terhadap perbedaan bisa bergeser menjadi lebih sempit, dengan adanya kecenderungan membagi masyarakat ke dalam pengkotakkan suatu kelompok.
Neo-Fasisme dan Tantangan di Kehidupan Sehari-hari
Neo-fasisme sering kali membawa dampak yang tidak langsung dapat dirasakan, tetapi lambat laun memengaruhi sudut pandang seseorang dalam memandang perbedaan. Ketika pemikiran tentang persatuan disampaikan dalam sudut pandang yang sempit, terdapat kecenderungan untuk melihat kelompok lain sebagai pihak luar yang tidak sejalan. Sudut pandang seperti ini bisa membuat ruang dialog menjadi terbatas dan mengurangi sikap tenggang rasa di tengah masyarakat yang majemuk.
Oleh Karena itu, penting untuk melihat neo-fasisme sebagai fenomena sosial yang hadir dalam kehidupan sehari-hari, bukan semata-mata sebagai isu politik yang jauh dari keseharian. Dengan membiasakan diri bersikap terbuka, kritis terhadap informasi, serta menghargai perbedaan, masyarakat dapat lebih siap menghadapi pengaruh ideologi yang cenderung menyederhanakan realitas sosial. Sikap semacam ini menjadi bekal penting, terutama bagi generasi muda, agar tidak mudah terjebak pada pandangan yang terlihat sederhana, tetapi berpotensi membatasi cara berpikir dan berinteraksi dengan sesama.
