Konten dari Pengguna

Pendidikan Vokasi Masih Jadi Anak Tiri

Dimas Ramadhan

Dimas Ramadhan

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta yang memiliki ketertarikan dalam menulis.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi oleh Good Free Photos di Unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi oleh Good Free Photos di Unsplash.com

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, dunia kerja kini menuntut keterampilan praktis dan kemampuan adaptasi yang tinggi. Namun, sistem pendidikan Indonesia masih terjebak dalam pola pikir lama: menganggap jalur akademik sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Akibatnya, pendidikan vokasi yang seharusnya menjadi tulang punggung penyedia tenaga kerja terampil masih dipandang sebelah mata. Vokasi tetap menjadi “anak tiri” dalam rumah besar pendidikan Indonesia.

Secara struktural, jalur akademik selalu mendapat perhatian utama dari negara maupun masyarakat. Sekolah menengah atas (SMA) masih lebih diprioritaskan daripada sekolah menengah kejuruan (SMK). Ditambah lagi, universitas umum pun lebih disorot dibanding politeknik. Banyak orang tua yang bangga ketika anaknya diterima di universitas ternama, namun tidak sedikit yang kecewa jika anaknya memilih jalur vokasional. Fenomena ini bukan semata persoalan kualitas, melainkan berkaitan erat dengan prestise sosial yang melekat pada jalur akademik.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa masyarakat memiliki berbagai bentuk “modal” untuk mempertahankan atau meningkatkan posisinya dalam struktur sosial. Salah satunya adalah modal budaya, yaitu pengetahuan, gelar, atau gaya hidup yang dihargai tinggi oleh masyarakat. Dalam konteks Indonesia, jalur akademik dianggap sebagai bentuk modal budaya yang prestisius. Memiliki gelar sarjana seringkali dipandang sebagai simbol keberhasilan sosial, sementara jalur vokasi kurang mendapat pengakuan yang setara, meskipun lulusannya justru memiliki keterampilan praktis yang sangat dibutuhkan dunia kerja.

Padahal, realitas di lapangan menunjukkan bahwa lulusan vokasi sering lebih siap terjun ke dunia kerja dibandingkan banyak lulusan akademik yang masih kesulitan mencari pekerjaan karena minim keterampilan teknis. Banyak sektor industri membutuhkan tenaga terampil, mulai dari teknisi, perawat, ahli mesin, hingga pekerja kreatif. Namun, alih-alih memperkuat vokasi, sistem pendidikan kita justru lebih banyak mengarahkan anak muda ke jalur akademik yang belum tentu relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

Kondisi ini diperparah dengan kebijakan dan alokasi sumber daya yang timpang. Sekolah vokasi sering kali memiliki fasilitas yang terbatas, tenaga pengajar yang kurang diperbarui kompetensinya, dan akses ke industri yang minim. Di sisi lain, sekolah dan perguruan tinggi akademik mendapatkan porsi anggaran, perhatian, serta promosi yang jauh lebih besar. Akibatnya, kualitas vokasi sulit berkembang secara maksimal, dan stereotip “pilihan cadangan” terhadap jalur vokasional pun semakin mengakar.

Sebuah jurnal berjudul “Strategi Pengembangan Pendidikan Vokasi dalam Menghadapi Dunia Kerja” mengungkap bahwa pendidikan vokasi masih menghadapi berbagai tantangan mulai dari kurikulum yang belum sepenuhnya sinkron dengan dunia industri, hingga rendahnya minat masyarakat. Salah satu temuan menariknya adalah pentingnya kolaborasi nyata antara sekolah vokasi dan dunia kerja untuk menciptakan lulusan yang benar-benar kompeten. Ini menunjukkan bahwa akar masalah vokasi bukan pada siswanya, tetapi pada sistem yang kurang memberi dukungan struktural dan sosial.

Jika ditarik lebih dalam, marginalisasi vokasi ini merupakan bentuk reproduksi sosial dalam sistem pendidikan. Sekolah tidak hanya berfungsi mentransfer pengetahuan (fungsi manifes), tetapi juga mereproduksi struktur sosial yang ada (fungsi laten). Dengan menempatkan jalur akademik sebagai simbol keberhasilan, sistem pendidikan secara tidak langsung memperkuat hierarki sosial yang menempatkan lulusan akademik di posisi lebih tinggi daripada lulusan vokasional. Ini menjelaskan mengapa banyak siswa dan keluarga merasa “gengsi” jika harus mengambil jalur vokasi, meskipun peluang kerja di sektor itu sangat besar.

Sudah saatnya paradigma ini diubah. Indonesia membutuhkan pendidikan vokasi yang kuat, modern, dan setara dengan jalur akademik. Negara perlu memberikan porsi perhatian dan anggaran yang adil, memperkuat kerja sama antara sekolah vokasi dan dunia industri, serta membangun citra positif bahwa vokasi bukan “pilihan cadangan”, melainkan jalur strategis untuk membangun tenaga kerja kompeten dan produktif.

Lebih dari itu, masyarakat juga harus mengubah cara pandangnya. Kesuksesan tidak hanya diukur dari gelar sarjana, tetapi dari kemampuan seseorang berkontribusi dan beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Pendidikan vokasi bisa menjadi pintu mobilitas sosial yang nyata, asal tidak lagi diperlakukan sebagai anak tiri dalam sistem pendidikan nasional.