Bedah Makna Terbelenggu: Kupas Sastra

Mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dina Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

1. Tema
Novel Belenggu mengangkat isu permasalahan kehidupan dalam ceritanya. Armijn Pane sebagai pengarang mengangkat masalah kehidupan yang terjadi dalam novel Belenggu. Tema utama dalam novel tersebut ialah permasalahan pada kehidupan percintaan di dalam rumah tangga. Konflik yang sering muncul dalam novel Belenggu digambarkan kepelikan rumah tangga dan percintaan antartokoh. Percintaan, pertengkaran, serta perselingkuhan terjadi dalam novel tersebut.
2. Tokoh dan Penokohan
a. Dokter Sukartono (Tono)
Tokoh Sukartono atau Tono adalah seorang dokter dan merupakan suami Tini serta memiliki rasa cinta terhadap Yah. Tono merupakan seorang dokter yang mempunyai rasa kemanusiaan yang cukup tinggi. Ia dikenal karena kebaikannya dan selalu membantu pasiennya. Tono mempunyai sikap ambisius dalam bekerja, namun ia juga memiliki sisi gelap, yaitu mudah tergoda dan memiliki hubungan dengan Yah. Karena ia menderita dalam pernikahannya dengan Tini, lalu jatuh cinta pada Yah. Yah adalah seorang wanita yang bisa menyenangkan suaminya dan berwawasan tradisional. Namun, pada akhirnya dia ditinggalkan sendirian.
Kutipan “Waktu masih menuntut pelajaran di sekolah Geneeskundige Hogge School di Betawi, tiada sedikit kawan-kawan dokter Sukartono yang memastikan, dia tiada akan sampai ke ujian penghabisan. Dia tiada cakap jadi dokter, terlalu suka akan lagu, akan seni. Pikirannya terlalu banyak.”(Pane, 2010: 23).
b. Sumartini (Tini)
Tokoh Sumartini atau Tini adalah seorang perempuan cantik modern, dengan masa lalu yang kelam. Tini orang yang berkepribadian optimis. Tini digambarkan sebagai seorang perempuan yang mandiri dan individualis. Tini memiliki peran sebagai perempuan yang mampu mengekspresikan emosinya dengan leluasa. Dari perannya tersebut, Tini merupakan sosok perempuan yang bahagia dengan kehidupan yang bebas. Setelah menikah dengan Tono, Tini semakin kesepian dan mulai terjun ke dunia sosial untuk memberi makna pada hidupnya. Ketika Tini mengetahui perselingkuhan Tono dan beranggapan bahwa Yah lebih cocok dengan suaminya, lalu Tini memutuskan untuk meninggalkan Tono dan pindah ke Surabaya.
Kutipan: “Memang, Ibu! Jalan pikiran kita berlainan. Aku berhak juga menyavangkan pikiranku, menggembirakan hatiku. Aku manusia juga berkemauan sendiri. Kalau menurut pendapat Ibu, kemaunku mesti tunduk kepada kemauan suamiku. Bukan Ibu, bukankah demikian? Kami masing-masing berkemauan sendiri-sendiri.” (Pane, 2010: 53).
c. Rohayah (Yah)
Siti Rohaya adalah nama samaran Eni dan Siti Hayati yang disingkat Yah. Rohaya atau Yah adalah seorang wanita yang pernah hidup di masa lalu Tono. Dia sering digambarkan sebagai wanita yang menggoda. Ketika mengetahui Tono menjadi dokter di Batavia, ia merayu dokter tersebut. Dia menyamar sebagai pasien dan mengganggu Tono. Yah juga seorang wanita yang lemah, tanpa status, dan suka meratapi nasibnya. Selain itu, Yah digambarkan sebagai wanita pemberani dan pejuang yang bijaksana. Meski keduanya jatuh cinta, Yah memutuskan putus karena takut Tono diremehkan jika menikah dengan mantan seorang pelacur. Yah memutuskan untuk pindah ke Caldonia Baru.
Kutipan: “Mereka keduanya diam sejurus, samasama merenung ke waktu dahulu. Mereka berpandang-pandangan, sama tahu, ingatan sama-sama sejalan, setujuan, ke tempat dahulu, ke Bandung, dua buah rumah berdekatan, pekarangannya oleh pagar tumbuh-tumbuhan rendah, sampai dada mereka saja, tidak menjadi alangan bercakap-cakap mereka berbeda kelas tiga tahun. Kartono dan Yah tersenyum sama-sama senang.” (Pane, 2010:52).
3. Latar
Menurut Abrams, latar atau setting disebut juga dengan landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat peristiwa-peristiwa itu terjadi (Nurgiyantoro, 2012:2016). Latar pada cerita ini, terdiri dari: 1) latar waktu, 2) Latar alam/geografi, dan 3) Latar sosial (Endah Tri Priyanti, 2010:112).
a. Latar Waktu, Latar waktu dalam cerita novel Belenggu itu terjadi pada tahun 1927-1937.
b. Latar Tempat (alam/geografi), Latar tempat dalam cerita novel Belenggu ini secara umum terjadi di Indonesia. Latar tempat peristiwa atau kejadian yang terjadi antara lain Jakarta, dan Bandung.
c. Latar Sosial, Latar sosial dalam cerita novel Belenggu ini berhubungan dengan tingkah laku kehidupan sosial masyarakat yang terjadi di suatu tempat pada cerita fiksi ini. Latar sosial dalam novel Belenggu karya Armijn Pane adalah Kartono merupakan anak yang berpendidikan tinggi (terpelajar) sehingga Kartono bisa menjadi seorang dokter yang disenangi dan cintai banyak orang, dan Tini sebagai wanita pergerakan (organisasi).
4. Alur
Novel “Belenggu” karya Armijn Pane menghadirkan alur cerita lurus atau disebut dengan alur maju. Artinya, cerita dimulai dari tahap perkenalan, tahap permasalahan, dan tahap pemisahan. Dengan tahapan-tahapan dari berbagai kutipan data berikut ini:
a. Tahap Perkenalan
Tahap perkenalan dalam novel Belenggu diawali dengan tahap perkenalan. Tahap awal dalam novel Belenggu ini pada saat Kartono mencari notepad berisi yang biasanya diletakkan istrinya (Tini) di atas meja dan Tini bertanggung jawab membuat catatan dan menyimpan buku catatan di dekat telepon. Namun Tono tidak dapat menemukannya. Pada bagian ini Tono digambarkan sedang kesal, dan pada bagian lain emosi Tini ditonjolkan tidak mau menjadi suruhan penjaga telepon.
Kutipan: “Tini seolah-olah hendak menimbulkan marahnya saja. Adakah disengaja, purapura lalai? Sandalnya harus tetap di dekat kerosi ini, kalau dia baru pulang, kalau di bloc-note tidak ada tertulis nama dan alamat orang, dia hendak terus saja duduk senang-senang, dapat menanggalkan sepatunya beberapa waktu, sambil membaca majalah atau buku sampai ada orang menelepon meminta pertolongan. Seolah-olah Tini lalai, dengan sengaja hendak mengalanginya benar. Bloc-note itu penting buat dia, tetapi Tini mengabaikannya juga”. (Pane, 2010:17)
b. Tahap Pemunculan Konflik
Ceritanya mengikuti awal mula kejadian yang kemudian terjadi antara Tono dan Rohaya. Menyamar sebagai pasien yang berpura-pura sakit dan membutuhkan pertolongan serta meminta pengobatan kepada Tono untuk mengobatinya. Saat pertama kali bertemu, Tono tidak ingat bahwa wanita yang menyebut dirinya Nyonya Eni dan ditinggal di hotel itu adalah teman lama yang sudah menantikan cintanya Tono sejak dahulu.
Kutipan: “Sukartono mengangguk menabik: “Nyonya Eni?” “Sukartono masuk, lalu bertanya sambil memandang muka perempuan itu dengan pandangan dokter.”Apakah sakit nyonya?” “sambil duduk di tepi tempat tidur, nyonya Eni mengeluh, jawabnya: “Ah, kalau saya tahu....” “Dokter Sukartono berdiri di hadapannya, sambil memegang pergelangan si sakit.” (Pane, 2010:20).
c. Tahap Klimaks
Pada pertemuan pertama mereka, Tono sebenarnya berhasil selamat dari jebakan Nyonya Eni dan Tono tidak tergoda. Namun pernikahan Tono dan Tini saat ini sedang krisis yang tengah dihadapi dalam pernikahan mereka serta memudahkan perselingkuhan berjalan dengan nyaris mulus. Tono menginginkan seorang istri yang melayaninya dengan baik serta selalu mendukung profesinya sebagai dokter, namun Tini tidak termasuk dalam kriterianya. Sementara itu, keinginan Tono untuk mendapatkan seorang istri terpenuhi di dalam diri Rohaya.
Dalam tahap ini, Tini akhirnya menyadari bahwa rumah tangganya dengan Tono terdapat orang ketiga dengan perempuan bernama Yah. Pada akhirnya Tini menyelidiki kebenarannya dan keberadaan rumah Yah. Kutipannya: “Dokter perempuan rupanya. Apa hendaknya? Yah berdiri. Tini keluar mobil. “Inilah rupanya perempuan yang disukai Tono, “kata Tini dalam hatinya, sambil memandang perempuan itu dari atas ke bawah. Di dalam hati kecilnya dia mengaku perempuan ini molek cantik, dapat menarik hati segala laki-laki, sebenar-benarnya perempuan. Pemakaiannya rapi. Beginikah perempuan yang begitu?” (Pane, 2010:130).
d. Tahap Penyelesaian
Cerita cinta segita yang telah terjadi pada tokoh Sukartono, Tini, dan Siti Rohayah berujung kandas. Tini pergi ke Surabaya, ia mengabdi dengan sebuah panti asuhan yaitu Piatu, sedangkan Yah pergi ke negeri Kaledonia Baru. Kutipannya: “Aku hendak ke Surabaya dulu. Waktu kongres aku berkenalan dengan seorang nyonya dari sana, dia mencari perempuan untuk memimpin rumah piatu perkumpulannya. Besoklah aku pergi” (Pane, 2010:139).
5. Sudut Pandang
Sudut pandang dalam novel Belenggu, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga. Penulis menggunakan nama orang sebagai pelakunya, namun tidak menggunakan kata “saya” sebagai tokohnya. Dalam arti lain, penulis menceritakan kehidupan karakter lain, penulis tidak terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam cerita ini.
6. Gaya Bahasa
Gaya bahasa pada novel Belenggu berupa simile. Hal itu dibuktikan pada kalimat “yang menjadikan hatinya tawar”. Dengan kata lain, tidak ada motivasi sama sekali. Ini menunjukkan ada sesuatu yang mengganggu di kepala Tono dan karena itulah ia tidak ada semangat di dalamnya hidupnya. Gaya bahasa selanjutnya adalah personifikasi. Hal itu terungkap dalam ungkapan pada kalimat “kilatan cahaya kegembiraan” yang berarti munculnya tanda-tanda canda tawa yang muncul. Tono belum melihat Nyonya Eni tanda-tanda canda tawanya dalam dirinya ketika Tono mendengar sebelum mengetuk pintunya.
7. Amanat
Amanat dalam cerita novel Belenggu karya Armijn Pane adalah bahwa perempuan juga mempunyai hak untuk hidup bebas. Perempuan juga berhak menentukan nasibnya sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Hidup adalah pilihan, artinya mengingat keputusan yang diambil, maka harus bertanggung jawab atas setiap keputusan. Pada laki-laki kita belajar tentang tokoh bernama Tono. Laki-laki harus mengambil sikap tegas dan tidak gampang tergoda dengan suatu hal yang mengakibatkan kehancuran, terutama dalam berumah tangga.
