Nggak Usah Pusing Mikirin Outfit, Temen Sekelasmu Juga Sibuk Overthinking

Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Negeri Surabaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dinar Nuzulul Furqon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasa bingung hari ini mau memakai baju atau outfit apa ke kampus? Tenang saja, perasaan itu bukan hanya kamu yang merasakannya, teman-teman kamu pun pasti pernah merasakan yang sama. Padahal, sebenernya teman-teman kamu pun tidak akan peduli kamu memakai apa pada hari itu.
Kebiasaan overthingking itu muncul karena kebiasaan kamu yang selalu memikirkan pandangan orang lain terhadap dirimu. Media sosial pun menjadi salah satu faktor yang membuat diri kamu merasa takut dengan penampilanmu. Adanya standar yang dibuat di kalangan teman-teman kampus membuat kamu menjadi cemas. Bahkan, hal itu membuatmu berganti pakaian berkali-kali.
Akar Psikologis Overthinking Outfit Kampus
Jika dilihat dari sudut pandang psikologi, kebiasaan ini dapat dikaitkan dengan Social Cognitive Theory dari Albert Bandura. Teori ini menjelaskan bahwa perilaku manusia itu terbentuk dari pikiran, perilaku, dan lingkungan sekitarnya. Jadi, apa yang sedang kamu alami sekarang tidak muncul begitu saja, tetapi ada faktor-faktor yang membentuk perilaku tersebut.
Salah satu konsep yang terkenal dari teori Albert Bandura ialah pembelajaran observasional. Konsep ini menjelaskan bahwa perilaku manusia muncul karena manusia belajar dengan mengamati orang lain. Setiap hari kita melihat teman atau selebgram di sosial media yang memakai baju yang rapi, bagus, dan menarik, lalu selebgram tersebut mendapat komentar positif. Hal itu membuat kamu berpikir bahwa pakaian yang kita pakai akan dinilai oleh orang lain, seolah hal itu merupakan peraturan tidak tertulis yang harus diikuti. Padahal, anggapan itu muncul karena kita hanya menyimpulkan dari apa yang kita lihat di media sosial, bukan dari fakta yang kita alami sendiri.
Bandura juga menjelaskan bahwa pembelajaran observasional ini memiliki empat tahap, yaitu perhatian, mengingat, meniru, dan motivasi. Dalam empat tahap tersebut, kita bisa saja gagal saat kita hendak meniru seseorang. Kegagalan itu wajar untuk gagal karena pakaian yang cocok dipakai oleh orang lain belum tentu cocok untuk kita. Warnanya bisa tidak sesuai, atau saat kita pakai, kita terlihat tidak cocok dengan style tersebut. Namun, tidak bisa dipungkuri bahwa empat tahap tersebut juga bisa membawa hal positif. Bisa saja style tersebut ternyata cocok dengan kita, sehingga kita terus memakainya.
Walaupun begitu, Bandura juga menjelaskan penguatan tidak langsung (vicarious reinforcement), yaitu proses belajar dari konsekuensi yang dialami orang lain. Ketika melihat seseorang dipuji karena penampilannya, kita cenderung berharap hal yang sama terjadi pada kita. Sebaliknya, ketika melihat seseorang diejek, kita takut mengalaminya. Padahal, media sosial hanya menampilkan sebagian kecil orang. Ada banyak orang lain yang berpakaian biasa saja, tidak mendapat komentar apa pun, dan tetap baik-baik saja, tetapi mereka jarang terlihat di layar kita.
Peran Self-Efficacy dalam Memilih Outfit Kampus
Konsep berikutnya adalah self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya. Seseorang dengan self-efficacy rendah, cenderung ragu terhadap pilihannya. Hal ini berkaitan dengan topik artikel ini karena seseorang dengan self-efficacy yang rendah cenderung akan ragu dan cemas dengan pakaian yang akan dipakai. Sebaliknya, seseorang yang memiliki self-efficacy tinggi cenderung cuek dengan pakaian yang akan dipakai dan tidak peduli dengan pandangan dari orang lain.
Selain itu, Bandura juga memperkenalkan gagasan reciprocal determinism, yaitu hubungan timbal balik antara faktor pribadi, perilaku, dan lingkungan. Contohnya, seseorang merasa tidak percaya diri dengan penampilannya (faktor pribadi). Akhirnya, ia memilih untuk menghindari teman-temannya karena takut diejek dan selalu duduk di barisan paling belakang saat di kelas (faktor perilaku). Pada akhirnya, hubungannya dengan teman sekelasnya menjadi kurang dekat karena ia terus menjauh (faktor lingkungan). Hal tersebut terjadi berulang kali selama ia tidak percaya diri dengan dirinya dan terus menghindari teman-temannya.
Tetapi, apakah sebenarnya teman-temannya beranggapan bahwa penampilannya buruk? Belum tentu, karena ia hanya melihatnya dari kacamata sendiri, bukan dari kacamata teman-temannya. Kita selalu takut terhadap anggapan orang lain, padahal bisa saja orang lain tidak peduli dengan apa yang kita kenakan. Seseorang tidak akan terlalu memerhatikan apa yang kamu pakai, orang tersebut hanya akan melihat kita sekilas lalu pergi. Sebenarnya, kita hanya mengkhawatirkan pikiran kita sendiri, bukan pikiran orang lain.
Solusi Mengatasi Cemas Memilih Outfit Kampus
Tentu saja hal-hal tersebut tidak akan hilang hanya dengan membaca artikel ataupun teori Bandura. Ada beberapa langkah yang mungkin bisa membantu kamu untuk mengurangi rasa cemas itu. Pertama, sadari bahwa “semua orang menilai bajuku” adalah hasil belajar dari lingkungan, sehingga bisa kamu koreksi. Kedua, bangun keyakinan diri kamu dengan mulai memakai baju yang nyaman kamu pakai tanpa harus melihat terlebih dahulu apa yang orang pakai, lalu perhatikan reaksi sekitarmu, apakah ada yang negatif atau tidak. Ketiga, kurangi paparan konten yang membuat kita harus tampil sempurna dan pilih juga teman yang bisa mengapresiasi apa pun yang kita pakai.
Jika hal tersebut sudah membuatmu tidak ingin kuliah ataupun bertemu teman-temanmu, segeralah cari bantuan. Ceritakan juga kekhawatiranmu kepada teman yang paling kamu percaya agar kamu bisa merasa lebih tenang. Belajarlah juga untuk selalu menghargai diri sendiri dengan apa yang kamu kenakan dan menerima diri sendiri apa adanya.
Pada akhirnya, memikirkan penampilan bukan hal yang salah. Berpakaian rapi dan nyaman pun memang perlu, tetapi rasa cemas yang berlebihan perlu kita kurangi agar kita tidak menghabiskan energi di pagi hari hanya untuk memilih pakaian. Saat besok pagi kamu bingung ingin memakai pakaian apa, ingatlah bahwa pakaian yang rapi dan nyaman adalah hal yang terpenting.
