Konten dari Pengguna

Dulu Berdenyut, Kini Terputus: Kisah Panjang Jalur Kereta Garut–Cikajang

Agus Kusdinar

Agus Kusdinar

Konten Kreator. Penggiat Wisata, Seni, dan Budaya. SWJ Ambassador 2023.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agus Kusdinar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bekss Stasiun Bayongbong yang alih fungsi/Foto : Dok. Probadi (Agus Kusdinar)
zoom-in-whitePerbesar
Bekss Stasiun Bayongbong yang alih fungsi/Foto : Dok. Probadi (Agus Kusdinar)

Di bawah terik matahari siang, saya menelusuri bekas jalur kereta api Garut–Cikajang yang sudah berhenti beroperasi selama lebih dari empat dekade. Tidak ada lagi suara Kereta Api Si Gombar, lokomotif uap besar yang dulu menjadi ikon rute pegunungan Garut. Kini, yang tersisa hanyalah rel terputus, jembatan tua, dan bangunan stasiun yang sebagian telah menjadi puing.

Jalur 47 Kilometer yang Pernah Jadi Andalan

Jalur Garut–Cikajang memiliki panjang sekitar 47 kilometer, melintasi sejumlah stasiun dan halte. Di masa kolonial, rute ini berperan penting untuk mengangkut hasil perkebunan dari dataran tinggi selatan Garut serta menjadi jalur wisatawan menuju kaki Gunung Cikuray dan Papandayan.

Namun sejak berhenti beroperasi pada 1982, jalur ini tidak lagi berfungsi. Sebagian rel hilang, tertimbun tanah, atau tergenang. Banyak bangunan stasiun berubah fungsi menjadi permukiman atau tempat usaha warga.

Bayongbong: Salah Satu Titik yang Mulai Hilang

Rel kereta api yang alih fungsi menjadi jalan umum/Foto : Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)

Penelusuran dimulai dari bekas Stasiun Bayongbong. Struktur bangunan yang tersisa menunjukkan usia yang panjang, dengan dinding kusam dan ruang-ruang yang tidak lagi utuh. Area di sekelilingnya kini menjadi permukiman padat.

Beberapa meter dari stasiun, jalur rel sudah tertutup plesteran dan masuk ke kawasan gang kecil. Di beberapa titik, rel sama sekali tidak terlihat, tertutup tanah dan bangunan. Namun semakin jauh melangkah, bekas rel yang terkubur mulai muncul kembali.

Jembatan Kolonial yang Masih Berdiri

Bekas jembatan kereta api Bayongbong yang alih fungsi/Foto : Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)

Salah satu temuan yang masih menyisakan struktur utuh adalah sebuah jembatan peninggalan kolonial Belanda. Dari kejauhan, bentuknya terlihat tidak sempurna karena pagar pengaman sebagian hilang. Namun pondasi dan rangka baja masih kokoh.

Pondasi jembatan memiliki lubang berbentuk lorong kecil, ciri khas teknik Belanda untuk mengalihkan tekanan air ketika debit sungai meningkat. Meskipun lama tidak digunakan, kondisi jembatan ini relatif baik.

Sinyal Kereta yang Tidak Tersentuh Warga

Bekas sinyal kereta api yang berada di tengah pemukiman/Foto : Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)

Perjalanan berlanjut ke kawasan permukiman lain. Di sebuah gang sempit, sebuah sinyal kereta api tua masih berdiri tegak, meski sudah tidak berfungsi puluhan tahun. Warga setempat tidak membongkar atau memindahkannya, sehingga benda itu tetap berada di tempat aslinya.Sinyal tua ini menjadi salah satu bukti yang tersisa bahwa jalur tersebut pernah aktif melayani pergerakan kereta.

Rel Hilang-Timbul dan Tantangan Reaktivasi

Rel kereta api yang telah ditutup plester/Foto : Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)

Di beberapa titik, rel kembali hilang, membuat arah jalur sulit diikuti. Bahkan saya sempat tersasar sebelum akhirnya menemukan kembali potongan rel yang muncul di antara perkebunan.

Kondisi jalur yang tidak utuh ini menunjukkan tantangan besar jika reaktivasi benar-benar dilakukan. Banyak segmen yang kini sudah menjadi permukiman, ladang, atau bangunan baru. Sebagian jembatan dan fondasi masih utuh, tetapi banyak pula yang membutuhkan pembangunan ulang.

Rencana reaktivasi jalur Garut–Cikajang kembali mencuat setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan komitmennya untuk menghidupkan kembali lintas tersebut. Keberhasilan reaktivasi jalur Cibatu–Garut pada Maret 2022 menjadi acuan bahwa proyek sejenis masih mungkin dilakukan.

Namun hingga kini, jalur Garut–Cikajang masih dalam kondisi “mati suri”. Tidak ada aktivitas resmi, sementara sisa-sisa infrastrukturnya terus termakan waktu.

Bagi masyarakat dan pemerhati kereta, reaktivasi jalur Garut–Cikajang bukan sekadar menghadirkan kembali transportasi. Ini tentang merawat sejarah, menghidupkan ekonomi selatan Garut, dan membuka kembali jalur yang pernah menjadi nadi pergerakan manusia serta hasil bumi.

Namun di tengah harapan itu, tantangan nyata menunggu: rel yang hilang, pemukiman yang berdiri di atas trase lama, dan biaya pemulihan yang tidak kecil. Jalur tua ini kini berada di antara nostalgia dan kebutuhan zaman.

Saat saya berjalan menyusuri bekas rel yang timbul-tenggelam di bawah terik matahari, terasa jelas bahwa cerita panjang ini belum benar-benar berakhir. Jalur Garut–Cikajang seakan menunggu keputusan: kembali berdenyut seperti dulu, atau tetap menjadi jejak sejarah yang perlahan memudar.