Konten dari Pengguna

Menelusuri Cerita Batu di Gunung Cikuray dan Asal-Usul Nama Kadungora

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agus Kusdinar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kampung Kadungora, Garut/Foto : Agus Kusdinara
zoom-in-whitePerbesar
Kampung Kadungora, Garut/Foto : Agus Kusdinara

Ada banyak hal menarik yang saya temukan ketika menjelajahi berbagai tempat di Garut. Bukan hanya pemandangan atau peninggalan fisik, tetapi juga cerita masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kadang-kadang, sebuah batu, pohon tua, atau nama kampung menyimpan cerita yang tidak ditemukan dalam buku sejarah maupun internet.

Hal tersebut membuat saya tertarik untuk menelusuri kembali cerita-cerita lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.

Batu di Gunung Cikuray

Batu yang Diduga Petilasan Prabu Siliwangi/Foto : Abah Jajang Jaga Raksa - Agus Kusdinar

Salah satu pengalaman menarik saya terjadi ketika menelusuri jejak sebuah desa bernama Tjiela atau Ciela di kawasan Gunung Cikuray, Kecamatan Bayongbong, Garut.

Di kawasan tersebut saya menemukan beberapa batu dengan bentuk yang menarik.

Saya kemudian mencoba mencari informasi mengenai keberadaan batu-batu tersebut. Menurut Warjita, sejarawan Garut, jika melihat bentuk fisiknya, batu-batu tersebut memiliki kemiripan dengan peninggalan tradisi megalitik.

Ia menyebut kemungkinan batu tersebut berkaitan dengan bentuk seperti menhir atau dolmen.

Namun, saya mendapatkan cerita berbeda dari masyarakat setempat.

Abah Jajang Jaga Raksa, salah seorang warga asli di kawasan Gunung Cikuray, mengatakan bahwa batu tersebut dipercaya sebagai petilasan Prabu Siliwangi.

Menurut cerita yang diwariskan masyarakat, tempat tersebut juga berkaitan dengan perjalanan menuju Mekah.

Cerita seperti ini tentu menarik, tetapi juga perlu ditempatkan secara hati-hati.

Jika dilihat dari sudut pandang sejarah dan bukti tertulis, cerita tersebut belum cukup untuk menyatakan bahwa batu itu benar-benar merupakan petilasan Prabu Siliwangi atau memiliki jalan menuju Mekah.

Namun, bukan berarti cerita tersebut tidak perlu dicatat.

Bagi saya, cerita Abah Jajang merupakan bagian dari cerita lisan masyarakat yang masih hidup hingga sekarang.

Cerita lisan memang berbeda dengan sumber sejarah yang telah diverifikasi.

Sebuah cerita dapat diwariskan dari orang tua kepada anak, kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Dalam proses tersebut, cerita bisa mengalami perubahan, penambahan, atau penafsiran.

Karena itu, menurut saya, cerita seperti ini sebaiknya ditulis sebagai cerita masyarakat, bukan langsung dianggap sebagai fakta sejarah.

Mencari Asal-Usul Kadungora

Kampumj Kadungora, Garut/Foto : Agus Kusdinar

Pengalaman lainnya saya dapatkan ketika menelusuri asal-usul nama Kadungora, Garut.

Untuk mencari sejarah administratif sebuah wilayah, saat ini relatif mudah. Kita dapat menemukan berbagai informasi melalui internet, dokumen pemerintah, Wikipedia, maupun artikel yang telah dipublikasikan.

Tetapi ketika mencari asal-usul sebuah kampung, persoalannya berbeda.

Tidak semua cerita lokal telah terdokumentasi.

Saya pernah menulis mengenai Kadungora pada 2017. Saat itu saya mencoba mendatangi langsung sumber cerita di Kampung Kadungora yang dipercaya berkaitan dengan asal-usul nama tersebut.

Di kampung itu terdapat sebuah pohon durian yang tumbuh di dekat rumah warga.

Menurut keterangan Dian, warga asli Kadungora, pohon tersebut dipercaya berkaitan dengan asal-usul nama kampung.

Cerita yang berkembang menyebutkan bahwa buah durian dari pohon tersebut tidak pernah menjadi tua karena selalu jatuh sebelum matang.

Dalam bahasa Sunda, kadu berarti durian, sedangkan ngora berarti muda.

Dari situlah muncul penafsiran bahwa Kadungora berarti “durian muda.”

Cerita tersebut kemudian saya hubungkan dengan pengalaman saya ketika pernah tinggal di Kampung Kadungora.

Ada hal menarik yang saya perhatikan. Sebagian masyarakat meninggalkan kampung setelah dewasa dan berkeluarga di tempat lain, bahkan di luar Garut.

Akibatnya, pertumbuhan jumlah penduduk di kampung tersebut tidak terlalu pesat dibandingkan wilayah lain.

Saya kemudian melihat adanya kemiripan secara simbolis antara cerita buah durian yang selalu jatuh sebelum tua dengan masyarakat yang meninggalkan kampung setelah dewasa.

Tetapi sekali lagi, hal tersebut merupakan interpretasi pribadi saya, bukan kesimpulan sejarah yang telah dibuktikan.

Cerita Lisan Perlu Didokumentasikan

Dari kedua pengalaman tersebut, saya semakin menyadari bahwa sejarah lokal tidak selalu berbentuk dokumen.

Kadang-kadang sejarah tersimpan dalam ingatan seorang warga.

Kadang berupa cerita tentang batu.

Kadang berupa pohon tua.

Bisa juga berupa asal-usul sebuah nama kampung.

Menurut saya, cerita seperti itu tetap penting untuk didokumentasikan selama statusnya jelas sebagai cerita lisan masyarakat.

Kita tidak perlu langsung mengatakan bahwa cerita tersebut benar.

Sebaliknya, kita juga tidak perlu langsung menganggapnya salah hanya karena belum ditemukan bukti tertulis.

Cerita lisan dapat menjadi petunjuk awal untuk penelitian lebih lanjut.

Mungkin suatu hari ditemukan dokumen, arsip, benda, atau sumber lain yang dapat memperkuat cerita tersebut. Bisa juga hasil penelitian justru menunjukkan bahwa cerita tersebut merupakan legenda yang berkembang di masyarakat.

Keduanya tetap memiliki nilai dalam memahami kehidupan masyarakat masa lalu.

Pada akhirnya, kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh kejadian yang berlangsung ratusan tahun lalu.

Yang bisa kita lakukan adalah mengumpulkan jejak yang masih tersisa, mendengarkan cerita masyarakat, mencari sumber pembanding, kemudian membedakan mana fakta, mana pendapat, dan mana cerita lisan.

Bagi saya, menjelajahi sejarah lokal bukan sekadar mencari jawaban.

Kadang, perjalanan tersebut justru membuka pertanyaan baru.

Dan mungkin itulah yang membuat sejarah menjadi menarik: tidak semua masa lalu tertulis, tetapi sebagian masih hidup dalam ingatan manusia.