Handmade with Love: Rajutanrasa "Dari Satu Simpul, Tumbuh Banyak Ide"

Economics Education graduate with a focus on administrative work, currently deep-diving into financial reporting and taxes to continuously expand my skills.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Dina Rismayanti Novitasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian orang, benang rajut mungkin hanya terlihat seperti gulungan benang dengan warna-warni yang menarik. Namun, bagi saya, benang memiliki cerita yang lebih panjang.
Keterampilan merajut sudah cukup dekat dengan keluarga saya. Mamah adalah sosok yang mengenalkan keterampilan ini di keluarga. Dari mamah, kakak saya kemudian belajar dan mengembangkan kemampuannya hingga memiliki brand handmade bernama coco.craftles.
Saya sendiri juga bisa merajut, meskipun kemampuan saya belum semahir mamah dan kakak. Kalau mereka lebih banyak berada di balik proses menciptakan karya, saya justru lebih sering mengambil peran di sisi lain, seperti memperkenalkan dan mempromosikan karya-karya tersebut.
Tidak pernah terpikir bahwa keterampilan yang awalnya begitu dekat dengan keluarga ini suatu hari bisa saya bawa ke ruang kelas dan dibagikan kepada orang lain.
Kesempatan itu datang ketika saya bersama teman saya, Rahma, melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMK Islamiyah Serua dengan tema “Peningkatan Keterampilan Kewirausahaan Siswa SMK Islamiyah Serua dalam Mengelola UMKM.”
Kali ini, kami tidak hanya ingin berbicara tentang kewirausahaan melalui teori. Kami ingin mengajak para siswa mengenal prosesnya secara langsung melalui sesuatu yang sederhana: membuat sebuah karya dengan tangan sendiri.
Benang, hakpen, dan berbagai perlengkapan DIY pun kami bawa ke dalam kelas.
Dan ternyata, begitu praktik dimulai, suasananya jauh lebih seru dari yang kami bayangkan.
Satu Simpul, Banyak Cerita
Kami memulai dari hal paling dasar, yaitu mengenalkan beberapa simpul dalam merajut. Setelah melihat contoh dari kami, para siswa kemudian mencoba mempraktikkannya sendiri.
Di sinilah suasana kelas mulai berubah.
“Kak, ini gimana?”
“Kok punya aku beda sama contoh?”
“Ini masuknya dari sini atau dari sini?”
Saya dan Rahma pun mulai berpindah dari satu meja ke meja lainnya.
Ada yang simpulnya terlalu kencang. Ada yang terlalu longgar. Ada yang baru beberapa langkah sudah kehilangan arah. Ada juga yang benangnya tiba-tiba kusut entah bagaimana ceritanya.
Dalam hati saya sempat berpikir,
“Oke, ternyata ngajarin rajut lebih menantang daripada yang aku kira.”
Tapi justru dari situ keseruannya dimulai.
Kami menunjukkan kembali langkah yang belum dipahami, mereka mencoba lagi, lalu perlahan mulai menemukan ritmenya sendiri.
Setelah mengenal simpul dasar, mereka diajak mempraktikkannya melalui pembuatan DIY bracelet atau gelang tangan. Mereka bebas memilih warna dan menyusun kombinasi sesuai kreativitas masing-masing.
Ada yang terlihat sangat serius memilih warna.
Ada yang sudah selesai lebih cepat.
Ada yang masih sibuk membongkar dan merangkai ulang.
Dan ada juga yang sejak awal sudah tahu gelang itu nantinya mau diberikan kepada siapa.
Nah, bagian terakhir ini yang membuat saya agak... salting sendiri.
Saya melihat beberapa siswa laki-laki ternyata ikut membuat gelang couple.
Dalam hati saya langsung,
“Loh, ini beneran dibikinin buat pasangan?”
“Kok niat banget, sih?”
“Aku yang ngajarin, tapi kok aku yang ikut senyum?”
Hehehe.
Lucu rasanya melihat sesuatu yang awalnya kami siapkan sebagai praktik sederhana ternyata bisa menjadi karya yang sangat personal bagi mereka.
Gelang itu mungkin hanya terdiri dari benang dan manik-manik. Namun, ada cerita kecil di baliknya: memilih warna, menyusun satu per satu, memastikan ukurannya pas, sampai akhirnya membayangkan seseorang yang akan mengenakannya.
Mungkin itulah salah satu hal yang membuat handmade terasa berbeda.
Sebuah benda tidak hanya memiliki bentuk, tetapi juga menyimpan waktu, usaha, dan cerita dari orang yang membuatnya.
Yang menarik, kegiatan ini juga tidak hanya diikuti oleh siswa perempuan. Siswa laki-laki pun ikut mencoba dan menunjukkan antusiasme mereka.
Bagi saya, hal tersebut menjadi pengingat sederhana bahwa kreativitas sebenarnya tidak mengenal gender.
Selama ada rasa ingin tahu dan kemauan untuk mencoba, siapa pun bisa berkarya.
Bahkan, dosen pembimbing PKM kami pun ikut mencoba membuat simpul rajut.
Melihat beliau mengambil benang dan mencoba mengikuti langkah yang kami contohkan membuat suasana semakin santai. Rasanya seperti semua orang kembali menjadi pemula, sama-sama mencoba, sama-sama bisa salah, dan sama-sama tertawa ketika hasilnya belum sesuai harapan.
Karena pada akhirnya, belajar keterampilan baru memang tidak harus selalu serius dan kaku.
Kadang, belajar bisa dimulai dari benang yang kusut dan berakhir dengan sebuah karya yang membuat kita tersenyum.
Ketika Kreativitas Menjadi Peluang
Di balik kegiatan praktik tersebut, ada tujuan lain yang ingin kami kenalkan kepada para siswa: bahwa keterampilan dan kreativitas dapat menjadi bagian dari proses kewirausahaan.
Sebuah gelang yang dibuat dengan tangan mungkin terlihat sederhana.
Namun, ketika kita mulai melihatnya sebagai sebuah produk, muncul banyak hal yang perlu dipikirkan.
Berapa biaya bahan yang digunakan?
Kalau dijual, berapa harga yang sesuai?
Siapa yang kira-kira tertarik membelinya?
Bagaimana membuat kemasannya menarik?
Dan bagaimana cara memperkenalkannya kepada calon konsumen?
Dari satu gelang saja, ternyata sudah ada banyak hal yang bisa dipelajari.
Begitu pula dengan produk handmade lainnya seperti tas rajut, amigurumi, keychain, pouch, dan berbagai kerajinan lainnya. Di balik sebuah produk yang terlihat sederhana, ada proses kreatif dan keputusan-keputusan yang membuat produk tersebut memiliki nilai.
Di sinilah kami mencoba menghubungkan keterampilan dengan kewirausahaan.
Para siswa tidak hanya diajak untuk bisa membuat sesuatu, tetapi juga diajak melihat bahwa sesuatu yang mereka buat dapat memiliki peluang apabila dikembangkan dengan tepat.
Sebab UMKM bukan hanya tentang menjual barang.
Ada kreativitas dalam menciptakan produk, ketelitian dalam menghitung biaya, kemampuan memahami konsumen, keberanian memasarkan, dan konsistensi dalam mengembangkan usaha.
Semua itu bisa diperkenalkan melalui pengalaman sederhana.
Dan mungkin, pembelajaran seperti ini terasa lebih dekat ketika siswa tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi langsung memegang bahan, mencoba membuat, menemukan kesalahan, lalu melihat hasilnya sendiri.
Bagi saya, pengalaman PKM bersama Rahma di SMK Islamiyah Serua juga terasa cukup personal.
Keterampilan yang saya kenal dari mamah, yang kemudian berkembang melalui kakak, akhirnya bisa saya bawa ke lingkungan yang lebih luas.
Saya memang belum semahir mereka dalam merajut.
Namun, dari pengalaman ini saya belajar bahwa kita tidak harus menjadi orang yang paling ahli untuk bisa berbagi.
Apa yang kita tahu bisa diajarkan.
Apa yang belum kita kuasai bisa dipelajari bersama.
Dan sesuatu yang awalnya terlihat sederhana bisa menjadi pintu untuk melihat kemungkinan yang lebih besar.
Hari itu, mungkin para siswa hanya belajar beberapa simpul dasar dan membuat gelang tangan.
Namun, di balik proses tersebut ada banyak hal yang ikut mereka pelajari: kesabaran ketika simpul tidak sesuai, kreativitas ketika memilih warna, keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru, hingga cara melihat sebuah karya sebagai sesuatu yang memiliki nilai.
Dari satu benang, mereka belajar membuat simpul.
Dari satu simpul, lahir sebuah karya.
Dan dari sebuah karya, tumbuh sebuah kemungkinan.
Mungkin tidak semua akan menjadi perajin atau membuka usaha handmade. Namun, pengalaman untuk mencoba, menciptakan, dan melihat peluang adalah bekal yang bisa dibawa jauh lebih lama.
Karena kewirausahaan tidak selalu dimulai dari modal yang besar.
Terkadang, ia dimulai dari sepasang tangan yang mau mencoba.
Handmade with love, made with purpose.
