Viral Video Dakwah Oki Setiana Dewi: Simpan Aib KDRT

Alumni Jurnalistik S1 di Universitas Esa Unggul, Periset Lepas Isu HAM dan Perempuan, Freelance Writer
Tulisan dari Dinda Shabrina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak semalam, Rabu (2/02/2022), potongan video dakwah Oki Setiana Dewi ramai di twitter. Dalam video tersebut disampaikan Oki bahwa KDRT itu adalah aib dan istri yang mengalaminya harus menutup aib itu. Jangan sampai diceritakan ke orang lain bahkan ke orang tuanya sekalipun.
Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin seseorang dengan latar pendidikannya yang tinggi, menyelesaikan program doktoral dan bahkan mendapatkan beasiswa di luar negeri masih tidak bisa membedakan mana tindakan kejahatan dan aib dalam rumah tangga.
Bukan tidak bisa membedakan mana kejahatan dan aib saja. Oki juga mencurigai perempuan yang mau speak up ini lebay dan kemungkinan akan melebih-lebihkan cerita yang dialaminya. Bayangkan saja, belum speak up perempuan sudah dicurigai dan dianggap lebay. Sungguh menyedihkan sekali jadi perempuan.
Persis seperti korban pemerkosaan. Korban sulit sekali untuk mengadu atau melaporkan pengalamannya. Karena takut apa yang disampaikannya akan dianggap sebagai kebohongan. Dicurigai pasti atas dasar suka sama suka. Bahkan yang lebih parahnya korban disalahkan karena pasti pemicu ia diperkosa disebabkan pakaiannya atau tubuhnya yang menggoda.
Saya membayangkan ada perempuan yang sedang duduk di majelis di mana Oki berdakwah, dia baru saja mengalami kekerasan dari suaminya dan berniat untuk mengadu pada orang tua lalu berubah pikiran dan menyalahkan diri sendiri. “Ah ternyata aku saja yang lebay. Ustazah Oki bilang itu aib yang harus ditutupi.” Lalu si perempuan pasrah atas kekerasan yang dialaminya dan habis di tangan suaminya sendiri.
Mbak Oki, kekerasan dalam rumah tangga itu kejahatan! Bukan hanya berpotensi menyakiti istri tetapi juga anak. Bagaimana psikis anak jika setiap hari melihat ibunya dipukuli? Kemungkinan besar anak juga akan menerapkan hal yang sama di rumah tangganya nanti. Anak laki-laki akan menanggap memukul istrinya itu bukan kesalahan. Dan anak perempuan yang kelak menikah juga akan pasrah jika suaminya memukuli dirinya. Karena memang perempuan boleh dan wajar disakiti.
Saya tidak pernah mendengar Rasulullah bertindak kasar terhadap istrinya. Pun ada ayat Al-Qur’an yang mengatakan boleh memukul istri, bukan berarti kekerasan itu wajar dilakukan. Ayat-ayat Al-Qur’an yang kerap dijadikan legitimasi itu tidak bisa dimaknai secara gamblang dan tekstual. Ibu Nyai Nur Rofiah, pengasuh Ngaji KGI (Kajian Gender Islam) mengatakan dalam bukunya “Nalar Kritis Muslimah”, pesan teks tentang pemukulan istri justru menganjurkan untuk jangan main pukul.
Selaras dengan apa yang dikatakan Ibnu al-Arabi, “pemahamannya (ulama Atha’) berdasar pada perkataan Nabi SAW kepada para suami yang memukul istrinya, beliau bersabda, “orang-orang terhormat tidak memukul istrinya”.
Rasulullah saja sudah sangat jelas mengatakan tidak terhormat mereka yang memukul istrinya. Dan beliau juga tidak pernah menyontohkan perilaku kasar dalam rumah tangganya. Kenapa Mbak Oki justru malah memberi contoh kisah sepasang suami istri di Jeddah yang sama sekali tidak mencerminkan bagaimana Islam mengajarkan relasi dalam rumah tangga dan seolah menormalisasi kekerasan dalam rumah tangga? Sebagai sesama perempuan, mestinya kita saling mendukung dan memerangi tindakan KDRT. Bukan malah menganggapnya sebagai aib dan "lebay" jika sampai menceritakannya pada orang.
Bukankah Islam memerintahkan untuk menjalankan perkawinan dengan kasih sayang (mawaddah wa rahmah) agar mencapai ketenangan jiwa (sakinah) sebagai tujuan perkawinan? Apakah tindakan kekerasan dalam rumah tangga bisa kita tolerir jika sudah jelas tidak membawa ketenangan jiwa?
