Konten dari Pengguna

Diam Bukan Selalu Damai: Ketika Keheningan Membiarkan Bullying Terjadi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dinda Ayu Suciati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika melihat kejadian bullying sebagian orang akan berkata “Lebih baik diam daripada memperkeruh suasana.” Nasihat ini sudah lama hidup dalam masyarakat kita. Banyak orang menganggap, memilih diam kadang menjadi sebuah kebijaksanaan, apalagi saat sedang terjadi konflik dan suasana sedang panas. Tapi, pertanyaannya sekarang, apakah nasihat itu masih tepat kalau kita melihat kasus bullying tepat di depan mata kita langsung? Apakah diam benar-benar menjaga kedamaian, atau malah secara tidak langsung melegalkan ketidakadilan?

Banyak orang sering salah paham soal diam. Masyarakat sering anggap diam itu netral. Padahal, kalau kita lihat dari sudut pandang etika komunikasi, diam itu jelas tetap punya makna tidak ada yang benar-benar bebas dari pesan. Dalam kasus bullying yang sering terjadi, diamnya para saksi sering dibaca pelaku sebagai sinyal: “Tindakanku diterima.” Sementara korban menangkapnya sebagai tanda, “Penderitaanku nggak penting di mata orang lain.”

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran ahli komunikasi Paul Watzlawick, yang mengatakan, “One cannot not communicate” Pilihan untuk diam tetap saja menyampaikan sesuatu, bisa melewati ekspresi, tindakan, atau ketidakhadiran kita dalam membela orang yang jadi korban. Jadi intinya, diam itu sendiri memang bentuk komunikasi nonverbal dengan makna sosial yang kuat.

Nah, dari sini muncul pertanyaan soal tanggung jawab etika. Komunikasi bukan sekadar soal saling menyampaikan pesan, tapi juga tindakan moral, ada konsekuensi untuk orang lain. Apa pun yang kita sampaikan baik lewat kata-kata atau diam pasti berdampak pada hubungan antar manusia. Komunikasi, memang tidak bisa lepas dari nilai empati, kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan martabat sesama.

Ilustrasi korban bullying yang di abaikan (AI-generated/ChatGPT)

Bullying jelas bertentangan sama semua nilai itu. Ejekan, hinaan, mengucilkan, sampai sebar fitnah, semuanya bentuk komunikasi yang sengaja dipakai untuk merendahkan atau menindas. Pelaku memakai komunikasi untuk unjuk kuasa dan membangun ketimpangan. Tapi, tanggung jawab etis tidak hanya berhenti di pelaku. Ketika orang lain tahu ada bullying, tetapi memilih untuk diam saja, komunikasi yang terjadi justru memberi ruang untuk ketidakadilan terus berkembang.

Jürgen Habermas juga pernah bilang, komunikasi itu idealnya mengarah pada saling pengertian, bukan buat menindas orang lain. Komunikasi baru bisa dibilang etis kalau semua orang punya hak bicara, dihargai, dan diperlakukan setara. Bullying jelas menghancurkan semua itu, mematikan suara korban, bikin ruang bicara jadi penuh ketakutan. Bahkan, diamnya orang-orang sekitar cuma bikin keadaan makin berat bagi korban dan menguatkan posisi pelaku.

Pandangan ini mirip sama yang diungkapkan Franz Magnis-Suseno tentang etika sosial. Menurutnya, hidup bersama butuh solidaritas dan tanggung jawab moral. Simpati saja tidak cukup, harus ada keberanian buat dukung korban dan tegas menolak tindakan yang menghina martabat manusia. Diam memang bisa menghindarkan konflik terbuka, tapi nggak otomatis menghapus tanggung jawab moral kita.

Sayangnya, masyarakat kita seringkali lebih suka ketenangan daripada keadilan. Orang yang membela korban bullying dibilang mencari gara-gara, yang memilih diam dibilang lebih dewasa atau bijak. Budaya diam terhadap bullying perlu dikritisi karena dalam etika komunikasi, diam juga merupakan sebuah pesan. Pandangan ini diperkuat oleh penelitian Thornberg dkk. (2012) yang menunjukkan bahwa banyak saksi bullying memilih tidak melakukan intervensi karena takut menjadi korban berikutnya atau berharap orang lain akan bertindak terlebih dahulu. Cara pandang seperti ini jelas perlu dikritik. Ketenangan yang tercipta dari pembiaran terhadap penderitaan korban bukanlah kedamaian yang sesungguhnya, melainkan ilusi yang menutupi ketidakadilan. Konflik mungkin tidak terlihat, tetapi luka korban terus bertambah karena merasa suaranya tidak pernah didengar.

Bukan berarti semua orang harus langsung melawan pelaku di depan umum. Keberanian bisa diekspresikan dengan berbagai cara: beri dukungan kepada korban, laporkan kepada pihak yang berwenang, atau ciptakan ruang aman untuk dialog. Yang penting, jangan biarkan komunikasi yang merugikan terus berjalan tanpa ada upaya dari siapa pun.

Pada akhirnya, nilai dalam sebuah masyarakat bukan diukur dari sekadar kesantunan dalam berbicara, tapi dari keberanian membela kemanusiaan lewat komunikasi. Komunikasi etis bukan soal memilih kata baik, melainkan soal memastikan setiap tindakan kita termasuk diam tidak menjadi alat membenarkan ketidakadilan.

Jadi, sudah waktunya kita ubah cara pandang tentang diam. Diam memang kadang bijak, tapi bila keheningan bikin korban makin terpuruk dan pelaku merasa benar, maka diam itu sudah kehilangan nilainya. Di situasi seperti ini berbicara, menunjukkan empati, dan berani membela kebenaran bukan tindakan provokatif. Itu wujud komunikasi manusiawi yang lebih adil dan bermoral.