Konten dari Pengguna

Meluapnya Emosi yang Tertahan

Dinda Isni Latifah

Dinda Isni Latifah

Mahasiswa Universitas Pamulang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dinda Isni Latifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Pexels.com

Manusia di dunia ini memiliki tingkat amarahnya masing-masing, dari segi pertahanan menahan amarah, menutupi amarah, meluapkan amarah, ataupun cara menyampaikan amarah tersebut. Ada orang jika marah langsung meluapkan emosinya dan ada juga orang yang menahan emosinya.

Tentunya kita tidak perlu mengatur orang lain bagaimana cara yang terbaik untuk meluapkan emosi atau amarah tersebut. Sifat yang dimiliki oleh manusia tentu juga berbeda, misalnya ada orang kalau tersenggol sedikit hal yang tidak disukainya maka akan langsung marah dan untuk orang yang menahan emosinya, ia akan diam dan enggan untuk membahasnya lagi.

Foto: Pexels.com

Bagaimana cara orang yang suka memendam emosi atau amarah tersebut meluapkannya? Apakah dengan cara menangis? Memukuli barang atau orang lain sebagai pelampiasan? Atau dengan cara menyampaikannya dengan membuat karya, seperti menulis, menggambar, bernyanyi, dan lain-lain.

Jika orang tersebut memilih untuk memendamnya, maka akan datang pertanya seperti, sampai kapan kamu akan memendamnya? Apakah manusia di dunia ini tidak ada yang kamu percaya, sehingga tidak ada tempat untuk berbagi cerita?

Jenis orang tersebut biasanya tidak ingin merepotkan atau menambah beban pikiran orang lain. Mereka berfikir setiap manusia itu pasti memiliki persoalan dan masalahnya masing-masing, jadi hal yang menurutnya benar adalah berargumen dengan dirinya sendiri. Misalnya seperti kita membuat kesalahan dan tidak sesuai dengan ekspetasi. Kita akan berfikir, dimana letak kesalahannya, bagaimana orang lain memandang kesalah yang kita perbuat, dan apakah kesalahan tersebut memiliki dampak buruk untuk orang lain.

Foto: Pexels.com

Pikiran-pikiran tersebut tentu akan memenuhi kepala, dengan berbagai macam emosi di dalamnya. Padahal kenyataannya orang lain tidak peduli dengan kamu. Mereka melihat atau menyaksikan kesalahan yang kamu buat, hanya akan bersifat sementara. Tetapi kamu, memikirkan hal tersebut sampai berhari-hari yang bisa membuat mental kamu tidak baik.

Jika tubuh kita sudah tidak bisa lagi untuk menampung emosi tersebut apa yang akan terjadi. Mau tidak mau, kita harus meluapkan emosi tersebut, jika tidak tubuh kita bisa menjadi tumbalnya, seperti tubuh mudah lelah, pikiran menjadi tidak fokus, nafsu makan yang berkurang, dan hanya akan membuang-buang waktu untuk memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan.

Foto: Pexels.com

Kamu bisa meluapkanya dengan menangis, apakah orang yang menangis itu lemah? Tendu tidak, hanya orang bodoh yang mengatakan hal tersebut. Menangis adalah salah satu cara untuk kita meluapkan emosi yang kita punya, kita punya hak untuk itu. Jika ada orang yang mengatakan hal tersebut, mungkin saja dia belum bisa atau belum mau untuk meluapkannya dan mungkin mereka malu untuk mengakuinya.

Tentu saja setiap orang juga memiliki mental yang berbeda-beda, kita tidak bisa menyamakan semua orang. Untuk itu, kita sebagai makhluk sosial bisa membantu orang terdekat kita agar tidak merasa sendiri, kita bisa menunjukkan bahwa di dunia ini bukan hanya tentang kamu dan untuk kamu.

Foto: Pexels.com

Kalau kamu masih malu untuk meluapkannya kepada orang lain, kamu bisa meluapkannya kepada Sang Pencipta. Kamu bisa melakukanya dengan berdoa. Kamu bisa menceritakan apapun yang kamu mau, bahkan apapun yang kamu inginkan. Bukankah kamu hanya butuh pendengar yang baik? Tuhan tidak akan memotong pembicaraan atau cerita kamu, justru Tuhan akan mendengarkannya dengan baik apapun itu yang kamu ceritakan.

Jadi, jangan pernah kamu merasa sendiri, di dunia ini bukan hanya ada manusia. Tetapi, dunia ini dimiliki oleh Tuhan Sang pencipta alam, yang tidak akan meninggalkan kamu dalam keadaan apapun.